Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 19 Februari 2026

Mengapa Semangat Ibadah Menurun Setelah Ramadhan?

Mengapa Semangat Ibadah Menurun Setelah Ramadhan?

Fenomena ini bukan hal baru.
Sejak dulu para ulama sudah membicarakannya.
Ramadhan adalah musim,
sedangkan istiqamah adalah perjalanan panjang.
Banyak orang di bulan Ramadhan rajin ke masjid,
shalat berjamaah penuh,
sunat rawatib hidup,
lalu perlahan menurun:
tinggal Magrib saja,
sunat bakdiyah ditinggal,
sepekan sekali datang,
hingga akhirnya masjid terasa jauh kembali.
Mengapa ini terjadi?
Pertama, ibadah yang lahir dari suasana, bukan kesadaran.
Ramadhan membawa atmosfer kolektif:
masjid ramai,
jadwal teratur,
lingkungan mendukung.
Saat suasana itu hilang,
ibadah yang tidak berakar di hati
ikut melemah.
Padahal Allah mengingatkan dalam
Al-Qur'an:
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).”
(QS. Al-Hijr: 99)
Ibadah tidak punya musim berhenti.
Kedua, Ramadhan disangka puncak, bukan latihan.
Banyak orang mengira Ramadhan adalah garis finish.
Padahal sejatinya,
Ramadhan adalah tempat latihan intensif.
Seharusnya setelah Ramadhan,
ibadah memang berkurang secara jumlah,
tetapi tidak runtuh secara total.
Yang salah bukan berkurangnya,
tetapi hilangnya sama sekali.
Ketiga, nafsu kembali dilepas tanpa kendali.
Di Ramadhan, nafsu dikekang:
jadwal makan,
jadwal tidur,
jadwal ibadah.
Setelah Ramadhan,
nafsu dilepas bebas
tanpa transisi,
tanpa pagar.
Akhirnya, yang dulu terasa ringan,
kini terasa berat kembali.
Keempat, tidak membangun kebiasaan kecil yang konsisten.
Kesalahan umum adalah ingin mempertahankan
amal besar Ramadhan
di bulan Syawal dan seterusnya.
Padahal Nabi ﷺ mengajarkan:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Orang jatuh bukan karena berhenti dari yang besar,
tetapi karena meninggalkan yang kecil.
Bakdiyah yang ditinggal,
lalu jamaah Isya’ yang dikurangi,
lalu Magrib saja,
lalu seminggu sekali,
lalu merasa canggung kembali ke masjid.
Inilah penurunan bertahap—
pelan,
tidak terasa,
tapi pasti.
Kelima, rasa malu dan bisikan kecil setan.
Saat sudah lama tidak ke masjid,
hati berbisik:
“Sudah jauh, malu kembali.”
“Ah, nanti saja kalau sudah baik.”
Padahal setan tidak perlu menjauhkan orang baik selamanya.
Cukup menunda-nunda kebaikan
sampai hati terbiasa jauh.
Lalu mengapa disebut “mengekor kecil”?
Karena iman jarang jatuh dengan teriakan.
Ia turun dengan langkah kecil
yang dianggap sepele.
Maka nasihat lembutnya begini, Pak Milit:
Jangan kejar Ramadhan berikutnya,
kejar kebiasaan kecil hari ini.
Tidak mampu ke masjid lima waktu?
Pegang satu waktu dulu.
Tidak sanggup rawatib penuh?
Pegang dua rakaat yang paling ringan.
Yang penting jangan putus sama sekali.
Karena masjid bukan milik orang sempurna,
tetapi milik orang yang ingin kembali.
Dan sesungguhnya,
orang yang kembali pelan-pelan
lebih Allah cintai
daripada yang berlari lalu berhenti.
Semoga Allah menjaga langkah kita
agar tidak berhenti di Ramadhan,
dan tidak malu untuk pulang
meski pernah jauh. 

Tidak ada komentar: