Akar Kata Takwa: Melindungi Diri
Kata takwa berasal dari bahasa Arab
وَقَى – يَقِي – وِقَايَةً (waqā – yaqī – wiqāyah)
yang artinya: melindungi, menjaga, atau menghindarkan diri dari bahaya.
Jadi sejak dari akar katanya,
takwa bukan sekadar “takut”,
melainkan usaha sadar untuk melindungi diri.
Melindungi diri dari apa?
Melindungi diri dari:
murka Allah,
dosa yang merusak hati,
dan akibat buruk di dunia serta akhirat.
Karena itu, orang bertakwa disebut muttaqi—
yaitu orang yang aktif menjaga dirinya,
bukan orang yang pasrah tanpa usaha.
Para ulama menjelaskan secara sederhana:
takwa itu seperti membuat pagar.
Bukan agar kita tidak hidup,
tetapi agar kita tidak terjatuh ke jurang.
Allah ﷻ menggunakan makna ini berulang kali dalam
Al-Qur'an,
misalnya ketika memerintahkan:
يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dengan (takwa kepada) Allah.”
Secara bahasa, kalimat itu bisa dipahami sebagai:
“Wahai orang-orang beriman, buatlah perlindungan antara kalian dan murka Allah.”
Bagaimana cara membuat perlindungan itu?
Dengan:
menaati perintah-Nya,
menjauhi larangan-Nya,
dan segera kembali ketika tergelincir.
Maka secara awam, takwa bisa dipahami begini:
Takwa adalah
sikap hati yang selalu bertanya,
“Kalau aku lakukan ini,
apakah aku sedang melindungi diriku…
atau justru mencelakakannya?”
Orang bertakwa bukan yang tidak pernah salah,
tetapi yang cepat sadar.
Bukan yang tidak pernah jatuh,
tetapi yang tidak betah berlama-lama di bawah.
Karena takwa itu bukan status,
melainkan ikhtiar harian
untuk terus menjaga diri
di hadapan Allah.
Semoga Allah menjadikan kita
orang-orang yang pandai melindungi diri
dengan takwa,
bukan hanya pandai menilai orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar