Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 19 Februari 2026

Takwa Itu Sederhana Tapi Sangat Dalam Maknanya

Takwa Itu Sederhana Tapi Sangat Dalam Maknanya

Takwa sering terdengar agung, namun banyak orang merasa jauh darinya.
Padahal takwa itu bukan milik orang-orang sempurna,
melainkan milik orang-orang yang selalu berusaha dekat dengan Allah.
Secara sederhana, takwa adalah sikap hati
yang membuat seseorang ingin selalu berada di jalan Allah
dan takut menyimpang dari-Nya.
Bukan takut seperti hantu,
melainkan takut kehilangan ridha-Nya.
Allah ﷻ berfirman dalam
Al-Qur'an:
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)
Artinya, takwa adalah kunci.
Semakin bertakwa seseorang,
semakin mudah ia menerima petunjuk Allah.
Takwa itu bukan satu perbuatan,
melainkan cara hidup.
Pertama, takwa di hati.
Orang bertakwa selalu bertanya dalam batinnya:
“Apakah Allah ridha dengan ini?”
Meski tidak ada manusia yang melihat,
hatinya tetap berhati-hati.
Kedua, takwa di pikiran.
Ia belajar menahan prasangka,
menjaga niat,
dan tidak mudah menghakimi.
Ketiga, takwa di lisan.
Orang bertakwa tidak sempurna lisannya,
namun ia segera menahan dan menyesal
saat kata-katanya melukai.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Keempat, takwa dalam perbuatan.
Orang bertakwa mungkin lelah berbuat baik,
namun ia tidak lelah memilih yang benar.
Ia bisa tergelincir,
tapi ia tidak betah berlama-lama dalam dosa.
Kelima, takwa dalam kesabaran.
Takwa bukan berarti hidup tanpa ujian,
justru sering kali lebih banyak ujian.
Namun hatinya belajar berkata,
“Allah tahu aku mampu.”
Allah ﷻ berjanji:
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًۭا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Bagi orang awam,
tanda takwa itu mudah dikenali:
Bukan yang paling keras suaranya,
tetapi yang paling lembut sikapnya.
Bukan yang paling banyak bicara agama,
tetapi yang paling takut menyakiti.
Takwa membuat seseorang tenang,
karena ia tahu hidupnya dijaga Allah.
Takwa membuat seseorang ringan meminta maaf,
karena ia sadar dirinya juga banyak salah.
Maka jangan berkata,
“Aku belum pantas menjadi orang bertakwa.”
Takwa tidak menunggu pantas.
Takwa tumbuh dari niat untuk memperbaiki diri,
lalu terus berjalan,
meski tertatih.
Ya Allah,
ajarkan kami takwa yang membumi,
takwa yang membuat kami
jujur saat sendiri,
lembut saat bersama,
dan sabar saat diuji.
Itulah takwa—
bukan untuk dibanggakan,
tetapi untuk diperjuangkan setiap hari. 

Tidak ada komentar: