Laqadja akum rasulum


web stats

Jumat, 20 Februari 2026

MEMASUKI PUASA HARI KETIGA

MEMASUKI PUASA HARI KETIGA

Pagi ini kita melangkah ke hari ketiga Ramadhan. Di fase awal puasa, tubuh masih beradaptasi, hati sedang dilatih, dan jiwa mulai diuji: apakah puasa ini sekadar menahan lapar, atau benar-benar menjadi jalan mendekat kepada Allah.

Di zaman kenabian, ada kisah yang menyentuh. Suatu hari Nabi Muhammad SAW keluar rumah dalam keadaan sangat lapar. Perut beliau diikat dengan batu. Tak lama kemudian, Abu Bakar dan Umar datang— ternyata mereka juga keluar rumah karena lapar. 

Mereka bukan orang malas, bukan pula jauh dari Allah. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang sedang berpuasa dengan penuh kesabaran. 

Dari kisah ini kita belajar: bahwa lapar menjadi tanda Allah sedang meninggikan derajat hamba-Nya.

Allah mengingatkan hakikat puasa terletak pada hasilnya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Hari ketiga adalah momen menyucikan niat. Kalau hari pertama kita sibuk menahan makan, hari kedua menahan emosi, maka hari ketiga saatnya menahan hati: DARI IRI, DENGKI, PRASANGKA, DAN LISAN YANG SIA-SIA.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Puasa yang benar adalah membuat dosa-dosa melemah. Dan kita akan merasa takut bermaksiat di sepanjang hari.

Maka pagi ini, mari kita bertanya:
Apakah puasaku sudah mulai melunakkan hati?
Apakah Ramadhan ini sudah mulai mendekatkan aku kepada Allah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban?

Mari kita berdoa: 

Allahumma ya Allah, di hari ketiga puasa ini, bersihkanlah hati kami dari riya, dendam, dan kelalaian. 
Jadikan lapar kami bernilai ibadah, letih kami bernilai pahala, dan diam kami bernilai dzikir.

Terimalah puasa kami, ampunilah dosa kami, karena ridha-Mu. Aamiin ya rabbal aalamin. 


Tidak ada komentar: