Menunggu Adzan, Menata Hati
Shalallahu'ala muhammad shalallahu'alaihi wassalam.
Petang ini, warna langit mulai menua. Perut mungkin lapar,
tapi jiwa sedang diajar sabar.
Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum,
ia adalah latihan halus
untuk menahan kata yang melukai, pandangan yang berlebihan, dan hati yang mudah berprasangka.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Takwa itu sering lahir
bukan dari kenyang, tetapi dari lapar yang dijaga ikhlas.
Menjelang berbuka,
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk banyak berdoa.
Karena ada satu waktu
yang hampir tak pernah tertolak: doa orang yang berpuasa saat ia menunggu berbuka.
Maka jika hari ini hatimu lelah,
jika ada doa yang belum terjawab, jika hidup terasa berat, sebutkan semuanya perlahan kepada Allah.
Tak perlu kata yang indah,
cukup hati yang jujur.
Ya Allah, jika hari ini puasa kami masih penuh kekurangan,
terimalah niat baik kami.
Ampuni khilaf yang kami sadari maupun yang luput kami jaga.
Jadikan lapar ini cahaya,
dan berbuka nanti sebagai awal kedekatan yang lebih dalam dengan-Mu.
Sebentar lagi adzan akan tiba.
Mari sambut bukan hanya dengan takjil, tetapi dengan hati yang kembali pulang.
Semoga berbuka kita hari ini
menjadi pembuka rahmat
dan penutup dosa-dosa yang lalu.
Aamiin ya rabbal aalamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar