Petang itu, seorang lelaki tua masih duduk di tepi sawah.
Tangannya kotor oleh lumpur, bajunya basah oleh peluh, tapi matanya tenang menatap langit yang memerah.
Orang-orang heran. Panennya gagal.
Hujan datang tak menentu.
Harga gabah jatuh.
Namun ia tetap tersenyum.
Ketika ditanya, “Mengapa Bapak masih tampak tenang?”
Ia menjawab lirih,
“Karena tugasku hanya menanam dan merawat.
Soal hasil, itu urusan Allah.”
Petang mengajarkan kita satu pelajaran yang sering terlupa:
bahwa hidup tidak selalu tentang hasil, melainkan tentang kesetiaan dalam proses.
Allah berfirman: Dan tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Ayat ini tidak berkata rezeki datang tanpa usaha.
Ayat ini menegaskan jaminan, bukan cara.
Usaha adalah adab hamba,
hasil adalah rahasia Tuhan.
Sering kali kita gelisah bukan karena kurang rezeki,
melainkan karena terlalu menghitung hari esok
hingga lupa mensyukuri hari ini.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi)
Perhatikan burung itu.
Ia tidak membawa bekal.
Ia tidak menyimpan kecemasan.
Ia terbang— bukan berdiam diri.
Ia percaya—bukan pasrah tanpa usaha.
Petang adalah waktu paling jujur untuk bercermin.
Siang mungkin kita kuat berpura-pura, tapi petang membuat hati bertanya:
“Sudahkah aku bekerja dengan ikhlas, atau aku hanya menuntut hasil tanpa ridha?”
Pertama, petang mengajarkan sabar tanpa gaduh.
Sabar yang tidak berisik di media sosial,
tidak sibuk mengeluh,
tidak menuntut pengakuan.
Kedua, petang melatih ikhlas yang sunyi. Berbuat baik meski tak dilihat, berjuang meski tak dipuji, bertahan meski tak dimengerti.
Ketiga, petang mengingatkan bahwa Allah tidak pernah terlambat.
Jika hari ini belum sampai,
bukan berarti ditolak,
bisa jadi sedang disiapkan agar datang dengan cara yang lebih indah.
Maka jika petang ini dadamu terasa sempit, ingatlah:
malam tidak datang untuk menenggelamkan cahaya,
tetapi untuk mengajarkan kita
bahwa setelah gelap,
selalu ada fajar yang setia menunggu.
Tenangkan hatimu.
Perbaiki niatmu.
Lanjutkan ikhtiarmu.
Karena apa yang dititipkan Allah kepadamu
tak akan pernah tertukar,
dan apa yang melewatimu
tak pernah ditakdirkan menjadi milikmu.
Selamat petang.
Semoga hati kita pulang dengan damai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar