PAGI INI, JANGAN BANGUN SEBAGAI ORANG BIASA
Ada Seorang tukang becak pernah menggetarkan banyak hati. Karena ia menemukan dompet berisi puluhan juta rupiah. Dompet itu ia kembalikan utuh.
Kata orang, mengapa tidak diambil separuh, ia menjawab:
“Kalau itu rezeki saya, Allah pasti kirim juga.”
Ia tidak langsung kaya. Tapi
beberapa bulan kemudian, pemilik dompet itu kembali. Untuk membantu biaya sekolah anak tukang becak itu sampai tamat kuliah.
Allah tidak selalu mengubah keadaan, tapi sering mengubah masa depan.
Ada pula seorang pegawai rendahan yang menolak suap. Akhirnya ia dimutasi ke daerah terpencil.
Namun di sanalah hidupnya justru bersih dari tekanan, tenang, dan ia dikenal masyarakat sebagai orang yang lurus. Tahun demi tahun berlalu, Ia dipercaya memegang jabatan strategis.
Ia pernah berkata lirih:
“Kalau dulu saya ambil suap, mungkin hidup saya cepat naik. Tapi juga cepat hancur.”
Mereka hanya menang dalam satu hal: percaya penuh kepada Allah.
Lalu pagi ini kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah kita sungguh percaya, atau hanya mengaku percaya?
Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Ayat Ini janji hidup. Tapi punya syarat: takwa, bukan sekadar cerdas. Jujur, bukan licik. Taat, bukan pandai berbicara agama.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidak akan mati satu jiwa pun sampai sempurna rezekinya.” (HR. Abu Nu’aim)
Kalau rezeki sudah dijamin, mengapa masih curang?
Kalau umur sudah ditentukan, mengapa masih takut berlebihan?
Masalah kita sering bukan kurang usaha, tapi kurang yakin. Kita berangkat kerja, tapi lupa membawa iman.
Maka sebelum matahari meninggi, katakanlah:
Hari ini aku mau hidup biasa, atau hidup sebagai orang yang benar-benar percaya pada Allah?
Karena orang beriman sejati, langkahnya tenang…
meski jalannya berat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar