“Puasa: Ibadah Ilahiah, Pendidikan Ruhani, dan Rekonstruksi Akhlak”
Mukadimah Ilmiah (Fondasi Penguasaan Mubaligh)
Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Jika hanya itu, maka orang sakit atau orang miskin pun setiap hari sedang “berpuasa”. Tetapi Allah tidak menghendaki lapar, Allah menghendaki takwa.
Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
👉 Ini ayat induk puasa.
Setiap ceramah puasa yang baik harus kembali ke tujuan: takwa, bukan hanya hukum fiqih.
Bagian Pertama
Puasa dalam Perspektif Tauhid
Puasa adalah ibadah yang paling murni tauhidnya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)
Kupasan mubaligh:
• Shalat masih bisa dilihat orang
• Sedekah masih bisa diketahui manusia
• Puasa tidak bisa dipastikan siapa pun kecuali Allah
Maka puasa mendidik keikhlasan tingkat tinggi.
Contoh kehidupan sehari-hari:
Seseorang sendirian di rumah atau kantor, air tersedia, tidak ada yang melihat. Ia tidak minum bukan karena takut manusia, tapi karena sadar Allah melihat. Di situlah tauhid bekerja.
Bagian Kedua
Puasa sebagai Pendidikan Pengendalian Nafsu
Puasa bukan mematikan nafsu, tapi mengendalikannya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Makna mendalam untuk mubaligh:
Perisai puasa bukan hanya dari lapar, tetapi dari: – emosi
– lisan
– syahwat
– keangkuhan
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Bukhari)
Puasa tanpa akhlak = puasa tanpa nilai di sisi Allah.
Kisah nyata yang sering terjadi:
Ada orang rajin puasa, tetapi lisannya kasar, mudah marah, menipu dalam jual beli, dan menyakiti keluarga.
Bagian Ketiga
Puasa dan Empati Sosial
Puasa mendidik rasa, bukan sekadar pengetahuan.
Ketika lapar, kita paham orang miskin.
Ketika haus, kita sadar betapa mahalnya seteguk air.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”
(HR. Tirmidzi)
Kupasan mubaligh:
Puasa yang benar melahirkan: – sedekah
– kepedulian
– kelembutan hati
Contoh kehidupan sehari-hari:
Jika Ramadhan datang tetapi: – buka puasa berlebihan
– sampah makanan menumpuk
– fakir miskin tetap terabaikan
maka ruh puasa belum bekerja dengan benar.
Bagian Keempat
Puasa sebagai Penyuci Jiwa (Tazkiyatun Nafs)
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penekanan penting untuk mubaligh:
Ampunan bukan karena lapar, tetapi karena: – iman
– keikhlasan
– pengharapan kepada Allah
Puasa membersihkan: – dosa lisan
– dosa mata
– dosa hati
– luka batin yang lama disimpan
Kisah nyata yang sering kita lihat:
Banyak orang berubah setelah Ramadhan. Ada yang kembali ke masjid, meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki hubungan keluarga. Itu bukan keajaiban, itu buah puasa yang dijalani dengan benar.
Bagian Kelima
Puasa dan Doa
Allah menyelipkan ayat tentang doa di tengah ayat puasa, seakan menegaskan bahwa puasa adalah waktu paling dekat dengan Allah.
Allah berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Rasulullah SAW bersabda:
“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa orang yang terzalimi, dan doa orang yang berpuasa.”(HR. Tirmidzi)
Kupasan mubaligh:
Puasa bukan hanya menahan diri, tetapi saat terbaik untuk meminta dan menangis kepada Allah.
Kesimpulan Strategis untuk Mubaligh
Puasa adalah: • ibadah tauhid
• sekolah pengendalian diri
• latihan empati sosial
• proses penyucian jiwa
• pintu perubahan hidup
Jika setelah Ramadhan seseorang menjadi: – lebih jujur
– lebih lembut
– lebih peduli
– lebih dekat dengan Allah
maka puasanya berhasil.
Jika tidak, maka ia hanya menahan lapar dan dahaga.
Doa Penutup
Allahumma taqabbal shiyamana, wa thahhir qulubana, wa zakki nufusana, waj‘alna minal muttaqin.
Ya Allah, terimalah puasa kami, sucikan hati kami, bersihkan jiwa kami, dan jadikan kami hamba-hamba-Mu yang bertakwa.
Allahumma la taj‘al hazhzana min shiyamina al-ju‘a wal ‘athasya.
Ya Allah, jangan Engkau jadikan bagian kami dari puasa ini hanya lapar dan dahaga.
Rabbana taqabbal minna innaka antas sami‘ul ‘alim.
Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar