Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 17 Februari 2026

Mengurai Tentang Penetapan 1 Ramadhan dan Sidang Isbat

Mengurai Tentang Penetapan 1 Ramadhan dan Sidang Isbat

Perbedaan penetapan awal Ramadhan yang terjadi di negeri kita bukanlah hal baru, dan bukan pula tanda umat Islam terpecah dalam iman. 

Ini adalah perbedaan metode ijtihad, bukan perbedaan tujuan ibadah. Ada yang menetapkan dengan rukyat yang didukung hisab, sebagaimana dilakukan pemerintah dan Nahdlatul Ulama, dan ada yang menetapkan dengan hisab murni, sebagaimana metode Muhammadiyah.

Pemerintah bersama ormas-ormas Islam, termasuk Nahdlatul Ulama, menetapkan awal Ramadhan melalui Sidang Isbat. Metode yang digunakan adalah gabungan hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung hilal). 

Hisab berfungsi sebagai alat bantu ilmiah, sementara rukyat menjadi penentu utama.

Sidang Isbat dilakukan secara terbuka, melibatkan para ulama, ahli falak, astronom, dan perwakilan ormas Islam.

Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu penetapan awal bulan berdasarkan perhitungan astronomi murni. 

Selama secara ilmu falak bulan sudah berada di atas ufuk, maka bulan baru dianggap telah masuk, meskipun belum terlihat oleh mata.

Kedua pendekatan ini sama-sama memiliki dasar dalil dan keilmuan yang kuat. Tidak ada yang main-main, apalagi bermaksud menyalahi syariat.

Karena itu, menyebut Sidang Isbat sebagai “proyek” adalah pernyataan yang kurang tepat dan tidak adil. 

Sidang Isbat bukan untuk kepentingan kelompok tertentu, melainkan ikhtiar negara menjaga keteraturan ibadah umat, sebagaimana negara mengatur jadwal haji, waktu salat, dan hari libur keagamaan.

Perbedaan ini adalah wilayah ijtihadiyah, bukan akidah. Ulama sejak dahulu telah berbeda pendapat dalam banyak cabang fikih, namun tetap saling menghormati.
Yang lebih penting dari sekadar tanggal adalah adab menyikapi perbedaan. 

Jangan sampai Ramadhan yang seharusnya menghadirkan rahmat, justru berubah menjadi sumber prasangka dan perpecahan.

Semoga Allah menerima puasa kita semua, siapa pun dan kapan pun kita memulainya, selama diniatkan karena-Nya.

Tidak ada komentar: