API YANG MEMBAKAR DARI DALAM: KEMARAHAN, KEANGKUHAN, DAN DENDAM
Pada suatu hari, seorang lelaki datang mengadu kepada Rasulullah SAW. Wajahnya keras, napasnya berat. Ia berkata bahwa ia sering terpancing emosi dan khawatir akan dirinya sendiri.
Rasulullah SAW menatapnya dengan penuh kasih, lalu memberi nasihat yang sangat singkat namun mengguncang jiwa:
“Jangan marah.”
Lelaki itu meminta nasihat lagi. Jawabannya tetap sama: jangan marah. (HR. Bukhari)
Bukan karena Rasulullah SAW kehabisan kata, tetapi karena beliau tahu: kemarahan adalah pintu kehancuran. Sekali terbuka, ia akan menyeret keangkuhan dan menumbuhkan dendam.
Kita melihat kisah nyata dalam sejarah. Iblis bukan makhluk bodoh. Ia beribadah ribuan tahun. Namun satu ledakan keangkuhan menghancurkannya. Ketika Allah memerintahkan sujud kepada Adam, Iblis marah, lalu berkata dengan sombong, “Aku lebih baik darinya.”
Keangkuhan itulah yang menurunkannya dari kemuliaan ke kehinaan.
Allah mengabadikannya sebagai peringatan:
“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis; ia enggan dan sombong dan ia termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)
Keangkuhan membuat seseorang merasa selalu benar, sulit meminta maaf, dan enggan merendah. Ia bukan hanya merusak hubungan dengan manusia, tetapi juga memutus jalan hidayah dari Allah.
LALU DENDAM
Berapa banyak keluarga hancur, persahabatan pecah, bahkan nyawa melayang, bukan karena masalah besar, tetapi karena dendam yang dipelihara bertahun-tahun.
Dendam adalah luka yang tidak mau disembuhkan. Ia disimpan, dipupuk, lalu pelan-pelan membunuh dari dalam.
Padahal Allah memuji orang-orang yang mampu menahan diri:
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Perhatikan urutannya: menahan marah, lalu memaafkan. Karena memaafkan tidak mungkin lahir dari hati yang masih dikuasai amarah.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemarahan menghancurkan kejernihan akal.
Keangkuhan membutakan hati.
Dendam mengeraskan jiwa.
Tiga-tiganya adalah api. Jika dibiarkan, ia akan membakar iman sebelum membakar kehidupan.
Maka jika hari ini hati kita mudah tersulut, jika kita merasa paling benar, jika kita masih menyimpan luka yang ingin dibalas—berhentilah sejenak. Jangan biarkan tiga api ini tinggal terlalu lama di dada.
Karena orang lain mungkin lupa kesalahan kita,
tetapi Allah tidak pernah lupa cara kita mengelola hati.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari marah yang berlebihan, keangkuhan yang tersembunyi, dan dendam yang diam-diam menggerogoti.
Aamiin ya rabbal aalamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar