Laqadja akum rasulum


web stats

Minggu, 08 Februari 2026

RUKUN IMAN

RUKUN IMAN

Pertama, iman kepada Allah
Iman kepada Allah adalah fondasi dari seluruh keyakinan. Bukan sekadar mengakui bahwa Allah ada, tetapi meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal bahwa Allah Maha Esa, Maha Mengatur, Maha Mengetahui segala yang tersembunyi.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ikhlas ayat 1–4,
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah…”
(HR. Muslim)
Kisah inspiratif datang dari seorang tukang becak di Yogyakarta. Setiap hari ia mengawali kerjanya dengan doa sederhana, “Ya Allah, aku berangkat karena-Mu.” Penghasilannya tak menentu, tapi ia selalu bersyukur. Saat ditanya mengapa tetap tenang meski hidup sulit, ia berkata, “Kalau Allah yang mengatur, saya tidak takut kekurangan.” Iman kepada Allah membuat hatinya kaya, meski tangannya sederhana.
Kedua, iman kepada malaikat
Iman kepada malaikat mengajarkan bahwa hidup ini tidak pernah kosong dari pengawasan dan pelayanan Allah. Ada malaikat yang mencatat amal, ada yang menjaga, ada yang membawa wahyu, ada yang mendoakan orang beriman.
Allah berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6,
“Dijaga oleh malaikat-malaikat yang keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Malaikat mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia masih berada di tempat salatnya…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah nyata: seorang ibu di desa terpencil rutin bangun malam untuk salat tahajud meski tak dikenal siapa pun. Ia berkata, “Tak apa tak ada manusia yang melihat, malaikat mencatat, Allah menyaksikan.” Bertahun-tahun kemudian, anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi baik dan sukses. Ia percaya doa-doa yang diaminkan malaikat tidak pernah sia-sia.
Ketiga, iman kepada kitab-kitab Allah
Iman kepada kitab berarti yakin bahwa Allah menurunkan petunjuk hidup agar manusia tidak tersesat. Al-Qur’an adalah penyempurna dan penjaga seluruh wahyu sebelumnya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 2,
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)
Kisah inspiratif: seorang mantan preman di Jakarta mengaku hidupnya berubah saat mulai membaca Al-Qur’an meski terbata-bata. Ia berkata, “Saya tidak paham tafsirnya, tapi ayat-ayat itu seperti menegur dan memeluk sekaligus.” Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi membentuk ulang arah hidupnya.
Keempat, iman kepada rasul-rasul Allah
Iman kepada rasul berarti meyakini bahwa mereka adalah utusan pilihan yang membawa contoh hidup nyata bagaimana menjalankan perintah Allah dalam segala kondisi.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21,
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Kisah nyata: seorang pejabat daerah memilih hidup sederhana dan menolak suap, meski tahu risikonya. Saat ditanya alasannya, ia menjawab, “Saya ingin meniru Rasulullah, bukan hanya dalam ibadah, tapi dalam kejujuran.” Keteladanan Nabi tetap hidup di zaman modern bagi mereka yang beriman sungguh-sungguh.
Kelima, iman kepada hari akhir
Iman kepada hari akhir membuat seseorang hidup dengan kesadaran bahwa dunia bukan tujuan akhir. Ada hari perhitungan, keadilan sempurna, dan balasan yang hakiki.
Allah berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8,
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
(HR. Tirmidzi)
Kisah inspiratif: seorang pengusaha besar rutin membagikan sembako secara diam-diam. Ia berkata, “Saya tidak takut miskin, saya takut datang ke akhirat dengan tangan kosong.” Iman kepada hari akhir menjadikan dunia hanya ladang, bukan tempat menetap.
Keenam, iman kepada qada dan qadar
Iman kepada takdir mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal. Apa yang luput tidak akan pernah mengenai, dan apa yang mengenai tidak akan pernah luput.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 22,
“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Berimanlah kepada takdir, baik maupun buruk.”
(HR. Muslim)
Kisah nyata: seorang ayah kehilangan pekerjaannya di usia senja. Ia tidak mengeluh, hanya berkata, “Mungkin Allah ingin saya lebih banyak di masjid.” Beberapa waktu kemudian, ia justru menjadi imam tetap dan pengajar mengaji. Takdir yang pahit di awal, ternyata pintu kebaikan yang tersembunyi.
Penutup renungan
Rukun iman bukan sekadar hafalan sejak kecil. Ia adalah cahaya yang menuntun cara berpikir, bersikap, dan bertahan dalam hidup. Siapa yang imannya hidup, hidupnya akan bermakna, meski jalannya tidak selalu mudah.

Tidak ada komentar: