Laqadja akum rasulum


web stats

Minggu, 15 Februari 2026

SAJADAH YANG TAK PERNAH MENGENALNYA Cerpen: oleh Ismilianto

SAJADAH YANG TAK PERNAH MENGENALNYA
Cerpen: oleh Ismilianto

Ia tak pernah meninggalkan salat. Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya—lengkap.
Di masjid. Di rumah. Di perjalanan.

Semua tahu, ia “orang salat”.
Namun tak ada yang tahu,
bahwa sajadah di sudut kamarnya tak pernah mengenalnya.

Setiap takbir, tubuhnya berdiri.
Tapi pikirannya masih di kantor.

Setiap rukuk, punggungnya tunduk. Tapi egonya tetap tegak.

Ia hafal bacaan.
Lancar. Cepat.
Seolah sedang mengejar sesuatu— bukan ridha, tapi selesai.

Suatu pagi, ia terlambat Subuh berjamaah.
Masjid sudah sepi.
Hanya suara kipas tua dan bau karpet basah. Ia berdiri sendiri. Takbir. Namun tiba-tiba dadanya sesak.

Bukan sakit.
Tapi sunyi yang menampar.
“Apa kabar?”
Entah dari mana suara itu datang.

Bukan suara telinga— suara hati.
“Kapan terakhir kau datang… bukan untuk menggugurkan wajibnya?”

Ia terdiam di antara takbir dan Al-Fatihah.
Lidahnya kelu.
Ia sadar, selama ini salatnya tak pernah meminta.
Tak pernah menangis.
Tak pernah jujur.

Ia berdiri di hadapan Tuhan,
tapi sibuk membawa dunia masuk ke dalam saf.

Dalam rukuk, matanya basah.
Dalam sujud, bahunya bergetar.

Ia lupa kapan terakhir kali sujudnya lama.
Bukan karena lupa bacaan—
tapi karena takut jujur.

Di sujud terakhir, ia berbisik:
“Ya Allah…
jika salatku selama ini hanya gerakan, jangan Engkau catat sebagai pertemuan dengan-Mu.”

Air matanya jatuh ke sajadah.
Dan untuk pertama kalinya,
sajadah itu mengenalnya.

Ia tak berubah jadi ustaz.
Tak jadi orang suci.
Tapi sejak hari itu,
ia tak lagi mengejar selesai.
Ia mengejar hadir bertemu Allah. 

Tidak ada komentar: