KALIMAT TERAKHIR
Cerita: oleh Ismilianto
Tak ada yang istimewa dari lelaki itu.
Namanya tak pernah masuk berita. Ia bukan tokoh. Bukan ustaz. Bukan pula orang jahat yang dibicarakan orang.
Ia hanya lelaki biasa— rajin bekerja, jarang ribut, dan dikenal “tidak macam-macam”.
Suatu malam, di ruang IGD yang bau obat dan dingin, napasnya tersengal.
Anak-anaknya berdiri kaku.
Istrinya menggenggam tangan yang mulai dingin.
Dokter berkata pelan,
“Mohon dibimbing… waktunya tidak lama.”
Seorang kerabat mendekat ke telinganya.
“Pak… ucapkan, laa ilaaha illallah…”
Bibir itu bergerak.
Kering. Gemetar.
Namun tak ada suara.
Dicoba lagi.
Lebih keras. Lebih dekat.
“Pak… laa ilaaha illallah…”
Air mata istrinya jatuh.
Anaknya memejamkan mata.
Lelaki itu membuka mata.
Tatapannya kosong—seolah melihat sesuatu yang tidak mereka lihat.
Dalam benaknya, hidupnya berputar cepat.
Ia teringat saat tahu sebuah kecurangan, tapi memilih diam karena “bukan urusan saya”.
Saat melihat yang lemah disalahkan, tapi ia menunduk demi aman.
Saat lisannya mengaku beriman, tapi hatinya lebih takut pada manusia daripada Tuhan.
Ia tak pernah memukul.
Tak pernah mencuri.
Tak pernah berzina.
Ia hanya… terlalu sering diam.
Dan kini, di detik terakhir hidupnya, kalimat itu terasa berat.
Bukan karena ia tak hafal.
Tapi karena hidupnya terlalu jarang membelanya.
Lidahnya kelu.
Dadanya sesak.
Dari sudut yang tak terlihat, seolah ada suara bertanya—bukan dengan amarah, tapi kejujuran yang telanjang:
“Kalimat ini dulu kau ucapkan…
tapi berapa kali kau hidup dengannya?”
Air mata lelaki itu jatuh.
Satu.
Lalu bibirnya bergerak.
Pelan. Patah.
“…Laa… ilaaha…”
Napasnya berhenti.
Ruangan sunyi.
Monitor berbunyi panjang.
Tak ada yang tahu,
apakah kalimat itu sempat sempurna.
Dan sejak malam itu, istrinya selalu terbangun menjelang Subuh.
Bukan oleh mimpi buruk,
tapi oleh satu ketakutan yang sama:
“Bagaimana jika aku hafal Syahadat…
tapi hidupku tak pernah membelanya ?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar