Syahadat: Janji Jiwa yang Mengubah Arah Hidup
Pada suatu masa, ada seorang lelaki bernama Bilal. Tubuhnya diseret di pasir panas, dadanya ditindih batu besar. Setiap kali diminta mengingkari keyakinannya, ia hanya mengucap satu kata: Ahad… Ahad…(Esa).
Satu kata. Satu keyakinan.
Namun kata itu lebih berat daripada seluruh siksaan yang ia terima.
Bilal tidak punya kekuasaan. Tidak punya senjata.
Tapi ia punya Syahadat—dan itu cukup untuk membuatnya berdiri tegak di hadapan kezaliman.
Di masa lain, seorang pembesar Quraisy, Abu Thalib, berada di ambang ajal. Ia mencintai keponakannya, melindunginya seumur hidup. Namun satu kalimat Syahadat tak pernah keluar dari lisannya.
Cinta tanpa pengakuan iman.
Kebaikan tanpa ikrar tauhid.
Dan itulah pelajaran pedih tentang betapa Syahadat bukan sekadar simpati, tapi keputusan jiwa.
Syahadat berbunyi:
Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Artinya bukan hanya “aku bersaksi”, tetapi aku mengikat hidupku.
Bukan sekadar mengaku, tapi bersiap menanggung konsekuensinya.
Makna laa ilaaha illallah bukan hanya menolak berhala dari batu.
Ia menolak segala yang menguasai hati selain Allah:
jabatan yang dibela mati-matian, uang yang dituhankan,
manusia yang ditakuti melebihi Rabb-nya,
dan hawa nafsu yang ditaati tanpa kendali.
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 19:
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”
Perhatikan, Allah tidak berfirman “ucapkan”, tapi “ketahuilah”.
Karena Syahadat menuntut kesadaran, bukan hafalan.
Bagian kedua, Muhammadar Rasulullah, adalah komitmen mengikuti jalan yang benar, bukan jalan yang kita suka.
Mencintai Rasul bukan hanya lewat shalawat, tapi lewat ketaatan saat ajarannya bertabrakan dengan selera pribadi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ dengan ikhlas dari hatinya, maka ia akan masuk surga.”
(HR. Bukhari)
Namun para ulama menegaskan, ikhlas itu memiliki tanda:
ucapan yang diikuti pembenaran hati,
dan dibuktikan oleh amal.
Syahadat yang benar akan tampak dalam sikap:
berani jujur meski rugi,
menolak zalim meski sendirian, memilih halal meski sempit, dan tetap taat meski tidak dilihat siapa pun.
Syahadat adalah perjanjian, bukan slogan. Ia diikrarkan sekali, tapi diuji setiap hari.
Setiap kali kita memilih takut kepada manusia daripada Allah, setiap kali kita tahu yang benar tapi diam,
setiap kali lisan mengucap iman tapi tangan berkhianat,
saat itulah Syahadat sedang dipertanyakan—bukan oleh manusia, tapi oleh langit.
Namun indahnya Islam, pintu kembali selalu terbuka.
Syahadat bukan hanya pintu masuk Islam,
ia juga pintu pulang bagi hati yang lelah dan ingin lurus kembali.
Penutup doa:
Ya Allah,
tetapkan Syahadat di hati kami,
bukan hanya di lisan kami.
Jangan Engkau jadikan kalimat tauhid ini ringan di mulut,
namun berat kami buktikan dalam hidup.
Ajari kami setia pada-Mu saat dunia menggoda,
kuatkan kami mengikuti Rasul-Mu saat jalan terasa sempit,
dan wafatkan kami dalam keadaan membawa
laa ilaaha illallah, Muhammadar Rasulullah
sebagai sebaik-baik bekal pulang.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Jika Pak Milit ingin, saya bisa melanjutkan kupasan Salat sebagai bukti Syahadat, atau menyusunnya menjadi seri renungan harian Rukun Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar