SUARA DARI BALAI DESA
Cerpen: oleh Ismilianto
Malam itu balai desa tidak biasanya penuh.
Lampu neon menggantung pucat, kursi-kursi plastik berderet tak beraturan. Petani, guru, pemuda, ibu-ibu PKK, semua duduk menunggu seseorang yang ingin berbicara.
Namanya Rahman.
Bukan pejabat.
Bukan anggota dewan.
Hanya rakyat biasa yang terlalu lama memendam kegelisahan.
Ia berdiri pelan. Tangannya sedikit gemetar, tapi suaranya tegas.
“Saudara-saudaraku… saya hanya rakyat biasa. Tapi saya rindu negeri ini benar-benar maju.”
Orang-orang terdiam.
“Kita punya tenaga kerja melimpah. Sarjana banyak. Tapi pengangguran juga banyak. Di mana yang salah?”
Beberapa pemuda saling pandang. Mereka lulusan universitas. Ijazah ada. Pekerjaan belum menentu.
Rahman melanjutkan.
“Kita sering membandingkan diri dengan Jepang. Negeri itu tidak kaya tambang. Tidak luas tanahnya.
Tapi mereka kaya arah. Profesor mereka turun ke sawah. Peneliti mereka bekerja untuk produksi. Ilmu tidak berhenti di kertas.”
Ia menatap Pak Darto, petani tua di sudut ruangan.
“Sementara di desa kita, pertanian masih cara lama. Alat buatan anak bangsa berhenti di pameran. Hasil penelitian mati di rak laporan.”
Seorang guru mengangguk pelan.
“Bukan karena mahasiswa kita malas,” lanjut Rahman.
“Tapi karena ilmu tidak memimpin kebijakan.”
Suasana mulai terasa berat.
“Coba kita jujur,” katanya lagi.
“Berapa profesor yang duduk menentukan arah kebijakan negeri?
Berapa peneliti yang ikut memutuskan masa depan pertanian dan industri?”
Tak ada yang menjawab.
“Ilmu ada di kampus. Kekuasaan ada di gedung lain.
Keduanya jarang bertemu.”
Seorang pemuda berdiri, suaranya lirih,
“Jadi… apa yang harus berubah, Bang?”
Rahman tersenyum tipis.
“Kita tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah keberanian menempatkan ilmu di kursi pengambil keputusan.
Kalau kebijakan dibuat dengan napas keilmuan, pertanian bisa bangkit. Industri bisa tumbuh. Lapangan kerja terbuka.”
Ia menarik napas panjang.
“Ini bukan soal gelar. Ini soal arah. Kalau yang memutuskan tidak hidup dengan dunia riset, tidak paham teknologi, tidak menyentuh sawah dan pabrik… keputusan akan jauh dari kebutuhan rakyat.”
Angin malam masuk lewat jendela yang terbuka. Lampu bergoyang pelan.
Rahman menutup pidatonya dengan suara yang lebih lembut:
“Kami rakyat kecil tidak ingin banyak janji. Kami ingin kebijakan yang berilmu dan berpihak pada rakyat. Kami ingin negeri ini maju karena kerja nyata, bukan karena kata-kata.”
Balai desa sunyi beberapa detik.
Lalu terdengar tepuk tangan perlahan, yang lama-lama menjadi gemuruh.
Malam itu, tidak ada keputusan besar yang lahir.
Tidak ada undang-undang yang disahkan.
Tapi ada sesuatu yang tumbuh. Yaitu Kesadaran.
Bahwa kemajuan bangsa bukan hanya urusan istana dan gedung tinggi.
Ia bisa lahir dari balai desa sederhana, dari suara rakyat yang rindu kemakmuran,
dan dari keyakinan bahwa ilmu harus memimpin negeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar