CERAMAH TA’ZIYAH YANG MENYENTUH HATI
Judul: “Suatu Hari Nanti, Kita yang Akan Diantar”
Pembukaan
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Hari ini kita datang melayat.
Kita melihat seseorang terbujur kaku.
Tubuhnya diam.
Lisannya tidak lagi berbicara.
Tangannya tidak lagi bergerak.
Padahal dulu ia berjalan seperti kita.
Ia berbicara seperti kita.
Ia punya rencana hidup seperti kita.
Tetapi hari ini… semuanya selesai.
Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:
“كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ”
Kullu nafsin dzāiqatul maut.
Artinya:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 185)
Tidak ada yang bisa menolak kematian.
Tidak ada yang bisa menundanya satu detik pun.
Nasihat untuk keluarga yang berduka
Kepada keluarga yang ditinggalkan…
kami ikut merasakan kesedihan ini.
Namun Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah kalimat yang sangat menenangkan hati.
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya apa yang Dia beri. Setiap sesuatu di sisi-Nya telah ditentukan waktunya.”
(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
Artinya apa?
Yang pergi ini sebenarnya milik Allah.
Kita hanya dititipi.
Dan ketika Allah mengambil kembali titipan-Nya,
maka tugas kita adalah bersabar dan mendoakan.
Pelajaran bagi yang masih hidup
Hadirin…
Kematian ini bukan hanya untuk yang wafat.
Kematian ini juga pelajaran bagi kita yang masih hidup.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”
(HR. Sunan Tirmidzi)
Karena ketika seseorang meninggal, sebenarnya Allah sedang berkata kepada kita:
“Hari ini dia… besok bisa jadi kamu.”
Kisah yang mengguncang hati
Ada sebuah kisah yang sering diceritakan para ulama.
Seorang lelaki saleh meninggal dunia.
Ia dikenal rajin membaca Al-Qur'an.
Ketika jenazahnya dimandikan, orang yang memandikannya melihat sesuatu yang aneh.
Wajah lelaki itu sangat bercahaya.
Sampai orang-orang yang melihat berkata:
“Seperti wajah orang yang sedang tersenyum.”
Setelah ditanya kepada keluarganya, ternyata lelaki itu memiliki kebiasaan sederhana.
Setiap malam sebelum tidur, ia selalu membaca beberapa ayat dari Al-Qur'an.
Tidak pernah ia tinggalkan.
Dan ketika ia meninggal…
Al-Qur'an itulah yang menjadi temannya di kubur.
Sebaliknya kisah yang membuat orang menangis
Ada pula kisah lain yang jauh lebih menyedihkan.
Seorang lelaki meninggal dunia.
Ketika keluarganya membersihkan rumahnya, mereka menemukan sebuah mushaf Al-Qur'an di atas lemari.
Mushaf itu sangat bersih.
Bukan karena sering dibaca.
Tetapi karena tidak pernah disentuh bertahun-tahun.
Debunya tebal.
Seseorang berkata dengan suara pelan:
“Mungkin selama hidupnya… mushaf ini hanya menjadi hiasan.”
Hadirin…
Bayangkan jika suatu hari kita meninggal…
lalu anak-anak kita menemukan mushaf di rumah kita yang penuh debu.
Betapa malunya kita di hadapan Allah.
Keadaan orang yang wafat dalam kebaikan
Allah memberi kabar gembira bagi orang yang hidupnya taat.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka (saat kematian).”
(QS. Fussilat ayat 30)
Malaikat berkata:
“Jangan takut dan jangan bersedih. Bergembiralah dengan surga.”
Itulah yang disebut husnul khatimah.
Penutup yang menyentuh hati
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Hari ini kita mengantar jenazah.
Besok atau lusa… bisa jadi kitalah yang diantar.
Hari ini kita berdiri di samping kubur.
Suatu hari nanti… kita yang berada di dalamnya.
Dan saat itu yang ikut bersama kita hanyalah:
salat kita
dzikir kita
sedekah kita
dan amal baik kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Sahih Muslim)
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang telah wafat dari keluarga ini.
Semoga kuburnya dilapangkan.
Dan semoga kematian yang kita saksikan hari ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk memperbaiki hidup sebelum terlambat.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Jika Pak Milit berkenan, saya juga bisa buatkan satu lagi kisah penutup ta’ziyah yang sangat mengguncang (tentang seseorang yang menjerit di alam kubur karena salatnya ditinggalkan).
Biasanya kisah itu membuat jamaah benar-benar terdiam dan menangis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar