Cerpen Renungan Ramadhan
“Malam yang Dicari Sepanjang Hidup”
Cerpen: oleh Ismilianto
Namanya Hasan.
Sejak kecil ia sering mendengar satu kalimat dari ayahnya:
“Carilah malam Lailatul Qadar… karena satu malam itu lebih baik dari seribu bulan.”
Dulu Hasan tidak benar-benar memahami maksudnya.
Baginya Ramadhan hanya tentang puasa, buka bersama, dan shalat tarawih.
Ayahnya sering berkata dengan suara yang dalam:
“Kalau Allah mempertemukanmu dengan Lailatul Qadar, seolah-olah engkau beribadah lebih dari delapan puluh tiga tahun.”
Ayahnya lalu membaca firman Allah:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.
Tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu?
Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.”
Referensi:
QS Surah Al-Qadr ayat 1–3
Hasan hanya mengangguk.
Ia masih muda.
Ia merasa hidupnya masih panjang.
Namun waktu berjalan cepat.
Ayahnya meninggal dunia ketika Hasan berusia tiga puluh tahun.
Sejak saat itu, setiap Ramadhan Hasan selalu teringat kalimat ayahnya:
“Carilah malam Lailatul Qadar…”
Pada suatu malam Ramadhan, Hasan duduk sendirian di masjid setelah tarawih.
Masjid sudah mulai sepi.
Ia membuka mushaf dan membaca ayat yang sering dibacakan ayahnya dulu.
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya:
“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.
Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”
Referensi:
QS Surah Al-Qadr ayat 4–5
Hasan menutup mushafnya.
Ia membayangkan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bagaimana jika malam ini benar-benar Lailatul Qadar?
Bagaimana jika saat ini malaikat sedang turun memenuhi bumi?
Bagaimana jika doa yang dipanjatkannya malam ini didengar langsung oleh Allah dengan kemuliaan yang luar biasa?
Ia tiba-tiba merasa malu.
Puluhan Ramadhan sudah ia lalui.
Tetapi berapa malam yang benar-benar ia isi dengan ibadah?
Hasan teringat sebuah hadis Rasulullah ﷺ:
“Barang siapa berdiri (shalat malam) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Referensi:
HR **Sahih Bukhari no. 1901
HR Sahih Muslim no. 760
Hasan mulai shalat.
Rakaat demi rakaat ia lakukan dengan pelan.
Malam itu terasa sangat sunyi.
Air mata mulai jatuh di sajadahnya.
Ia berbisik dalam doa:
“Ya Allah… jika malam ini adalah Lailatul Qadar, jangan Engkau lewatkan namaku dari orang-orang yang Engkau ampuni.”
Waktu berjalan.
Tanpa terasa azan Subuh berkumandang.
Hasan duduk lama di sajadahnya.
Ia tidak tahu apakah tadi malam adalah Lailatul Qadar.
Tidak ada cahaya di langit.
Tidak ada tanda yang ia lihat.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda di hatinya.
Ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia teringat lagi kalimat ayahnya dulu:
“Anakku… orang yang benar-benar mencari Lailatul Qadar, sebenarnya sedang mencari Allah.”
Sejak malam itu Hasan tidak lagi hanya menunggu Lailatul Qadar.
Ia mencarinya setiap malam di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Karena Rasulullah ﷺ bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.”
Referensi:
HR **Sahih Bukhari no. 2020
HR Sahih Muslim no. 1169
Dan Hasan akhirnya mengerti sesuatu yang dulu tidak ia pahami.
Lailatul Qadar bukan hanya malam yang dicari.
Tetapi malam yang bisa mengubah seluruh hidup seseorang.
Satu malam…
yang nilainya lebih panjang dari umur manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar