“Satu Ceramah Yang Bisa Mengubah Nasib Akhiratmu”
Cerpen: oleh Ismilianto
Di sebuah desa kecil, setiap malam Jumat masjid selalu penuh.
Bukan karena bangunannya megah.
Bukan pula karena penceramahnya terkenal.
Tetapi karena setiap orang yang datang merasakan hal yang sama:
hati mereka menjadi lebih tenang.
Orang-orang berkata satu sama lain,
“Kalau beliau ceramah… rasanya seperti sedang dinasihati dengan penuh kasih.”
Sebelum ceramah dimulai, ustaz itu selalu menundukkan kepala.
Pelan ia membaca doa Nabi Musa yang disebut dalam Al-Qur'an pada QS. Taha ayat 25–28:
“Rabbi syrah li shadri…
lapangkanlah dadaku, mudahkan urusanku, dan lepaskan kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.”
Lalu ia mengajak jamaah bershalawat bersama.
Masjid pun dipenuhi lantunan shalawat.
Setelah itu ia berkata lembut:
“Saudaraku… pahala shalawat ini kita hadiahkan untuk kedua orang tua kita… untuk nenek moyang kita… untuk kaum mukmin dan mukminat… dan untuk seluruh makhluk Allah.”
Beberapa jamaah mulai menunduk.
Ada yang diam-diam menghapus air mata.
Ceramahnya tidak pernah keras.
Ia hanya bercerita tentang kehidupan.
Tentang manusia yang terlalu sibuk mengejar dunia.
Tentang anak yang lupa mendoakan orang tua.
Tentang hati yang jauh dari Allah.
Tetapi kata-katanya terasa hidup.
Karena setiap kalimat keluar dari hati yang tulus.
Lalu tibalah bagian terakhir ceramah. Bagian yang selalu membuat masjid menjadi sangat hening.
Suara ustaz itu pelan.
“Saudaraku… kita semua sedang berjalan pulang kepada Allah.”
Ia berhenti sejenak.
Semua orang diam.
Lalu ia membaca ayat dari Al-Qur'an:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar ayat 53)
Masjid semakin sunyi.
Seorang pemuda yang selama ini jarang shalat menundukkan kepala.
Seorang ayah teringat ibunya yang sudah lama wafat.
Seorang ibu diam-diam berdoa agar anaknya kembali ke jalan Allah.
Ustaz itu menutup ceramahnya dengan doa.
“Ya Allah…
jika malam ini ada hati yang sedang gelisah, tenangkanlah.
Jika ada dosa yang kami bawa, ampunilah.
Jika ada orang tua kami yang telah wafat, lapangkan kuburnya.”
Suara ustaz itu semakin pelan.
“Dan ya Allah…
jika suatu hari Engkau panggil kami menghadap-Mu…
ingatlah bahwa kami pernah berkumpul di rumah-Mu…
hanya untuk mengingat-Mu.”
Beberapa jamaah mulai terisak.
Lalu ia mengucapkan kalimat terakhir:
“Semoga di antara kita yang duduk di majelis ini…
ada yang kelak masuk surga tanpa hisab.”
Masjid benar-benar hening.
Tidak ada yang bergerak beberapa detik.
Setelah jamaah pulang, seorang pemuda mendekati seorang ulama tua yang ikut hadir.
Ia bertanya:
“Mengapa ceramah ustaz itu terasa berbeda?”
Ulama tua itu tersenyum.
Lalu ia berkata pelan:
“Karena kata-kata yang keluar dari hati… akan masuk ke hati.”
Ia lalu mengingatkan sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim:
Bahwa orang-orang yang berkumpul untuk mengingat Allah akan:
dikelilingi malaikat,
diliputi rahmat,
dan diturunkan ketenangan.
Ulama itu menatap masjid yang mulai sepi.
Kemudian ia berkata satu kalimat yang membuat pemuda itu terdiam lama.
“Anak muda… kita tidak pernah tahu…”
“Bisa jadi di antara orang-orang yang duduk di majelis tadi… ada yang kelak berdiri di hadapan Allah dan berkata:
‘Ya Allah… aku berubah karena satu ceramah malam itu.’”
Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan dengan suara yang sangat pelan:
“Dan bisa jadi… ceramah yang kita anggap biasa itu… menjadi sebab seseorang masuk surga.”
Pemuda itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia berpikir:
Mungkin malam ini… Allah sedang memanggilku pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar