Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 28 Maret 2026

JIKA INI HARI TERAKHIRKU Cerpen: oleh Ismilianto

JIKA INI HARI TERAKHIRKU
Cerpen: oleh Ismilianto

Aku pernah bertanya pada diriku sendiri,
“Kalau malam ini adalah malam terakhirku… apa yang akan aku sesali?”
Jawabannya datang tanpa diminta.
Bukan harta yang belum terkumpul.
Bukan rumah yang belum jadi.
Bukan jabatan yang belum diraih.
Tapi…
shalat yang kutunda.
doa yang kulupakan.
hati yang kubiarkan keras tanpa taubat.
Namaku Arman.
Orang-orang mengenalku sebagai lelaki yang “cukup berhasil”.
Usaha jalan, relasi luas, hidup tampak rapi dari luar.
Tapi hanya aku yang tahu…
di dalam, ada sesuatu yang kosong.
Shalat sering terlambat.
Dzikir hanya saat sempit.
Al-Qur’an… lebih sering berdebu daripada dibaca.
Aku selalu punya alasan:
“Nanti kalau sudah tenang…”
“Nanti kalau sudah tua…”
“Nanti kalau sudah mapan…”
Padahal, “nanti” itu… tidak pernah datang.
Suatu malam, aku bermimpi.
Aku berdiri di sebuah tempat yang asing.
Sunyi. Gelap. Tapi terasa sangat nyata.
Di hadapanku, ada satu pintu.
Tertulis di atasnya:
“Hari Perhitungan”
Tanganku gemetar.
Tiba-tiba, terdengar suara:
“Masuklah… ini waktumu.”
Aku ingin lari.
Aku ingin berkata, “Tunggu! Aku belum siap!”
Tapi kakiku tak bisa bergerak.
Pintu itu terbuka.
Di dalam… tidak ada manusia.
Tidak ada hakim. Tidak ada saksi.
Hanya… diriku sendiri.
Tapi semua amal hidupku… terputar jelas seperti film.
Aku melihat diriku menunda shalat.
Aku melihat diriku mengabaikan panggilan adzan.
Aku melihat diriku tersenyum di depan orang, tapi hatiku jauh dari Allah.
Lalu terdengar lagi suara itu:
“Ini yang kau bawa?”
Aku menangis.
Aku jatuh.
Aku ingin kembali.
“Aku mau memperbaiki… beri aku satu kesempatan lagi…”
Sunyi.
Lalu…
gelap.
Aku terbangun dengan napas terengah.
Keringat dingin membasahi tubuhku.
Subuh belum tiba.
Masih ada waktu.
Untuk pertama kalinya… aku tidak menunda.
Aku bangkit.
Berwudhu.
Berdiri dalam shalat.
Dan saat itu… air mata jatuh tanpa bisa kutahan.
“Ya Allah… kalau ini bukan akhir… jangan biarkan aku kembali seperti dulu.”
Sejak hari itu, hidupku berubah.
Bukan karena aku menjadi orang suci.
Tapi karena aku sadar satu hal:
Kita tidak menunda karena waktu masih banyak…
kita menunda karena hati kita belum benar-benar takut kehilangan Allah.
Sekarang, izinkan aku bertanya padamu…
Kalau malam ini adalah malam terakhirmu…
apakah kamu siap?
Kalau besok namamu dipanggil…
apa yang akan kamu bawa?
Apakah kita akan berkata:
“Ya Allah, aku sudah berusaha…”
Atau justru…
“Ya Allah, aku terlalu sibuk menunda…”
Jangan tunggu sakit.
Jangan tunggu tua.
Jangan tunggu kehilangan.
Karena kematian…
tidak pernah menunggu kesiapan.
Ia hanya menunggu waktu yang telah ditetapkan.
Dan saat itu datang…
yang tersisa bukan penyesalan orang lain.
Tapi… penyesalan kita sendiri.
Hari ini masih ada.
Masih bisa sujud.
Masih bisa istighfar.
Masih bisa memperbaiki.
Pertanyaannya…
Kita mau berubah sekarang…
atau menunggu sampai tidak ada lagi kesempatan?

Tidak ada komentar: