Malam yang Tidak Biasa
Cerpen: oleh Ismilianto
Malam itu langit Timur Tengah terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin gurun berhembus pelan, tetapi di ruang-ruang komando militer banyak negara, lampunya justru menyala terang.
Di layar-layar besar, peta kawasan ditampilkan.
Garis merah, titik-titik biru, dan lingkaran kuning bergerak perlahan.
Setiap titik berarti satu pangkalan militer, satu kapal perang, atau satu radar.
Semua mata tertuju pada satu negara: IRAN.
Seorang analis senior berbisik pelan,
“Jika perang ini benar-benar dimulai… dunia tidak akan sama lagi.”
Di ruang lain, jauh di seberang laut, radar juga menyala. Para komandan militer di Israel memperhatikan setiap pergerakan.
Mereka tahu satu hal: jarak antara mereka dan Iran tidak lagi sangat berarti ketika rudal bisa terbang ribuan kilometer menuju Teaviv.
Sementara itu kapal perang milik Amerika Serikat berlayar di perairan yang sangat sempit namun sangat penting bagi dunia: SELAT HORMUZ.
Jalur itu adalah urat nadi minyak dunia. Jika jalur itu terganggu, ekonomi dunia bisa gemetar.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Seorang operator radar tiba-tiba berdiri.
“Gerakan baru terdeteksi!”
Semua kepala menoleh ke layar.
Beberapa titik kecil muncul… lalu bertambah… lalu semakin banyak.
“Drone?” tanya seorang perwira.
Operator itu menelan ludah.
“Belum pasti… bisa drone… bisa rudal.”
Suasana ruangan langsung membeku.
Di tempat lain, seorang analis berkata pelan, hampir seperti berdoa,
“Semoga ini hanya latihan…”
Tetapi semua orang di ruangan itu tahu satu hal yang tidak pernah mereka ucapkan dengan keras:
Jika satu tombol ditekan malam ini, maka bukan hanya satu negara yang terlibat.
Tetapi seluruh Timur Tengah bisa terbakar.
Di luar ruangan komando, dunia tetap tidur.
Orang-orang masih terlelap tanpa tahu bahwa malam itu beberapa orang sedang memegang keputusan yang bisa mengguncang bumi.
Seorang teknisi muda menatap layar yang penuh titik merah itu, lalu berbisik lirih,
“Ya Tuhan… jangan malam ini.”
Karena jika malam ini perang benar-benar dimulai,
maka sejarah baru dunia akan ditulis — bukan dengan tinta,
tetapi dengan api.
Dan semua orang tahu,
ketika api itu menyala di Timur Tengah,
sulit sekali memadamkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar