REZEKI DI BALIK MAAF
Cerpen: oleh Ismilianto
Pagi itu, takbir masih menggema di langit desa.
“Allaahu Akbar… Allaahu Akbar…”
Udara Idul Fitri terasa sejuk, tapi hati Rahman justru berat.
Sudah tiga tahun…
ia tidak berbicara dengan sahabatnya sendiri, Haris.
Masalahnya sederhana— utang kecil yang tak dibayar tepat waktu.
Namun ego… membuatnya menjadi besar.
Di pagi Idul Fitri itu, Rahman duduk sendiri di teras rumah.
Orang-orang saling bermaafan… anak-anak tertawa… Tapi hatinya kosong.
Tiba-tiba, ibunya keluar dan berkata pelan:
“Man, kamu mau sampai kapan simpan ini di hati?”
Rahman diam.
Ibunya melanjutkan:
“Idul Fitri itu bukan hanya baju baru… tapi hati yang baru.”
Sementara itu, di ujung desa, Haris juga merasakan hal yang sama. Ia menatap jalan… berharap Rahman datang.
Tapi ia ragu.
“Aku yang salah duluan… tapi kenapa sulit sekali untuk meminta maaf…” gumamnya.
Takbir kembali terdengar…
Dan entah kenapa… langkah Rahman tiba-tiba bergerak.
Tanpa banyak pikir, ia berjalan menuju rumah Haris.
Di waktu yang sama…
Haris juga keluar rumah… berjalan ke arah Rahman.
Dan… di jalan kecil itu… mereka bertemu. Terdiam.
Beberapa detik terasa sangat lama.
Rahman akhirnya berkata:
“Ris… maafkan aku…”
Haris langsung memotong:
“Tidak… aku yang salah, Man…”
Dan tanpa sadar…
keduanya saling berpelukan.
Air mata jatuh…
tiga tahun beban hati… luruh dalam satu momen.
Sejak hari itu… sesuatu berubah. Rahman yang sebelumnya sulit rezeki…
tiba-tiba mendapat peluang usaha baru.
Haris yang usahanya sering macet… mulai lancar dan berkembang.
Mereka sering duduk bersama, dan suatu hari Haris berkata:
“Man… aku baru sadar… mungkin selama ini bukan rezeki kita yang sempit…”
Rahman tersenyum:
“Tapi hati kita yang sempit…”
Allah berfirman:
“Wal ya’fuu wal yashfahuu, alaa tuhibbuuna ayyaghfirallaahu lakum…”
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?”
(QS. An-Nur: 22)
Sejak itu…
mereka punya satu kebiasaan baru setiap Idul Fitri:
mendatangi orang-orang yang pernah mereka sakiti
meminta maaf lebih dulu
dan mendoakan dalam diam.
Dan mereka benar-benar merasakan…
Rezeki itu bukan hanya uang…
tapi:
hati yang tenang, hubungan yang kembali hangat
dan jalan hidup yang dipermudah Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar