Tangisan Seorang Ayah yang Pernah Mengubur Anaknya Hidup-Hidup
Pada masa jahiliyah sebelum Al-Qur’an turun, hati manusia bisa menjadi sangat keras.
Anak perempuan dianggap aib.
Sebagian orang Arab merasa malu jika memiliki anak perempuan. Mereka takut dicemooh oleh masyarakatnya.
Allah menggambarkan keadaan itu dalam Al-Qur’an:
“Apabila seseorang dari mereka diberi kabar kelahiran anak perempuan, wajahnya menjadi hitam karena menahan marah. Ia bersembunyi dari orang banyak karena merasa malu.”
(QS. An-Nahl: 58–59)
Karena rasa malu itulah…
sebagian dari mereka tega mengubur bayi perempuan hidup-hidup.
Al-Qur’an mengecam perbuatan itu dengan sangat keras:
“Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya: karena dosa apa ia dibunuh?” (QS. At-Takwir: 8–9)
Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh dari seorang sahabat Nabi.
Suatu hari ia duduk bersama Rasulullah.
Tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu.
Nabi bertanya dengan lembut,
“Apa yang membuatmu menangis?”
Sahabat itu berkata dengan suara bergetar:
“Wahai Rasulullah… dulu pada masa jahiliyah aku memiliki seorang anak perempuan.”
Ia bercerita…
Anaknya sangat cantik dan sangat menyayanginya.
Setiap kali ia pulang, anak kecil itu berlari menyambut ayahnya.
Memeluknya.
Tertawa riang.
Namun tekanan adat dan rasa malu kepada masyarakat membuat hatinya gelap.
Suatu hari ia berkata kepada anaknya:
“Wahai anakku, ikutlah ayah.”
Anak kecil itu sangat gembira.
Ia mengira ayahnya akan mengajaknya bermain.
Ayahnya membawanya ke padang pasir yang sunyi.
Ia mulai menggali lubang.
Anak kecil itu bertanya polos:
“Ayah… untuk apa menggali tanah?”
Ayahnya tidak menjawab.
Ketika lubang itu selesai…
ia mengangkat anaknya dan menurunkannya ke dalam lubang itu.
Anak kecil itu masih belum mengerti.
Ia hanya berkata dengan suara lembut:
“Ayah… kenapa aku dimasukkan ke sini?”
Ketika tanah mulai ditimbunkan…
anak kecil itu menangis dan berkata:
“Ayah… aku takut… aku takut…”
Lalu tanah menutup tubuh kecil itu.
Ketika sahabat itu menceritakan kisah itu kepada Nabi, suaranya sudah tidak sanggup keluar.
Air matanya mengalir deras.
Ia berkata:
“Wahai Rasulullah… sejak aku masuk Islam, dosa itu selalu menghantuiku.”
Rasulullah pun ikut meneteskan air mata.
Lalu beliau berkata bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang terjadi sebelumnya.
Nabi bersabda:
“Islam menghapus dosa yang telah lalu.” (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan betapa gelapnya masa jahiliyah.
Namun Al-Qur’an datang mengubah semuanya.
Islam memuliakan perempuan.
Bahkan Nabi bersabda:
“Barang siapa memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku seperti ini.”
Lalu Nabi merapatkan dua jari beliau.(HR. Muslim)
Bayangkan…
Anak perempuan yang dulu dikubur hidup-hidup…
di dalam Islam justru menjadi jalan menuju surga.
Inilah cahaya Al-Qur’an.
Ia mengubah manusia yang paling keras…
menjadi manusia yang paling lembut.
Allah berfirman:
“Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang jelas.”
(QS. Al-Maidah: 15)
Renungannya untuk kita hari ini:
Jika dahulu Al-Qur’an mampu mengubah orang yang tega mengubur anaknya…
mengapa hari ini masih ada hati yang tidak berubah meski setiap hari membaca Al-Qur’an?
Jangan sampai Al-Qur’an hanya lewat di lisan kita…
tetapi tidak pernah masuk ke dalam hati kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar