“Punya rumah, punya mobil… tapi masih berat berzakat? Hati-hati… bisa jadi yang membuat hidup sempit bukan kurangnya harta, tapi tertahannya hak orang lain.”
Zakat bukan sekadar memberi. Zakat adalah membersihkan harta, menenangkan jiwa, dan membuka pintu keberkahan.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 103:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”
Artinya: Bukan hartamu yang berkurang… tapi hartamu sedang dibersihkan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Islam dibangun di atas lima perkara…” Salah satunya: menunaikan zakat.
Ini menunjukkan: Zakat bukan amalan tambahan. Zakat adalah tiang agama.
Para ulama sepakat: Zakat hukumnya wajib bagi muslim yang hartanya sudah cukup nisab dan haul. Siapa yang mengingkari kewajibannya, maka ia telah menentang ajaran yang sudah pasti dalam agama.
Bahkan, saat banyak orang mulai menolak zakat setelah wafatnya Nabi SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri tegas.
Beliau berkata: “Demi Allah, aku akan memerangi orang yang memisahkan antara salat dan zakat.”
Karena zakat bukan pilihan… tapi perintah.
Kisah yang sering terjadi: Ada orang hidup pas-pasan, tapi tiap bulan tetap sisihkan sedikit untuk zakat atau sedekah. Anehnya, hidupnya terasa cukup. Anaknya sehat. Rumahnya tenang. Meski uang tak banyak, hatinya lapang.
Sebaliknya… ada yang gajinya besar, asetnya banyak, tapi rumahnya penuh gelisah, anak susah diatur, utang menumpuk, usaha mandek.
Bukan karena kurang kerja keras. Kadang, karena ada hak orang miskin yang masih tertahan.
INGAT: Rumah yang dipakai sendiri tidak wajib dizakati. Mobil pribadi yang dipakai sendiri juga tidak wajib dizakati. Tapi tabungan, emas, hasil usaha, atau penghasilan yang sudah cukup nisab—itulah yang wajib diperiksa.
Jangan tunggu kaya untuk belajar zakat. Karena banyak orang miskin hatinya… meski hartanya melimpah.
Pagi ini, sebelum sibuk mencari rezeki: cek dulu… apakah hartamu sudah bersih, atau masih ada hak orang lain yang kau tahan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar