Jangan Jadikan Hidupmu sebagai Hiburan Musuh Allah
“Ya Allah jika Engkau jadikan aku sholeh…”
Ini bukan sekadar harapan, tapi pengakuan bahwa kesalehan itu bukan hasil usaha semata, melainkan karunia Allah.
Allah berfirman:
“Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari dosa) selamanya…”
(QS. An-Nur: 21)
Artinya, kita ini tidak bisa merasa sudah baik. Bahkan untuk menjadi orang sholeh pun kita harus memohon agar Allah yang menjadikan kita demikian.
“…maka yang senang adalah kekasih-Mu, Nabi Muhammad ﷺ”
Ini sangat menyentuh.
Nabi Muhammad ﷺ mencintai umatnya, bahkan lebih dari kita mencintai diri sendiri.
Beliau bersabda:
“Umatku… umatku…”
(HR. Muslim)
Di saat sakaratul maut pun, yang beliau pikirkan bukan dirinya, tapi kita.
Ketika kita menjadi sholeh:
kita mengikuti sunnah beliau
kita menghidupkan ajarannya
kita menjadi bukti bahwa risalah beliau berhasil
Maka beliau senang… bangga… dan akan memberi syafaat.
“Jika Engkau jadikan aku fasik…”
Ini kalimat yang penuh rasa takut.
Fasik artinya keluar dari ketaatan, tahu kebenaran tapi melanggar.
Ini bukan sekadar dosa kecil, tapi gaya hidup yang menjauh dari Allah.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan…”
(QS. Al-Baqarah: 168)
Karena kefasikan itu sering dimulai dari langkah kecil… lalu menjadi kebiasaan… lalu menjadi karakter.
“…maka yang senang adalah musuh-Mu”
Siapa musuh Allah?
Dialah setan.
Allah sudah menegaskan:
“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh…”
(QS. Fatir: 6)
Setan tidak butuh kita jadi kafir dulu.
Cukup kita:
malas sholat
ringan berdosa
lalai dari dzikir
bangga dengan maksiat
Itu sudah membuat setan “senang”.
Bayangkan…
Saat kita bermaksiat:
kita menyakiti hati Rasulullah ﷺ
tapi kita justru membuat setan tertawa
Ini yang seharusnya membuat hati kita gemetar.
Makna terdalam dari doa ini
Doa ini sebenarnya sedang berkata:
“Ya Allah… aku tidak ingin hidupku menjadi hiburan bagi setan…
aku ingin hidupku menjadi kebahagiaan bagi Nabi-Mu…”
Ini bukan doa biasa. Ini doa orang yang sudah mulai sadar arah hidupnya.
Renungan untuk diri kita
Setiap hari kita memilih:
sholat atau menunda
dzikir atau lalai
taat atau maksiat
Dan setiap pilihan itu:
bisa membuat Rasulullah tersenyum
atau membuat setan bersorak
Tidak ada yang netral.
Penutup yang menusuk hati
Coba tanyakan dalam diam:
Hari ini…
lebih banyak mana…
yang membuat Rasulullah ﷺ bangga…
atau yang membuat setan tertawa?
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang sholeh, yang kehadirannya membahagiakan Nabi ﷺ, bukan yang menjadi bahan kegembiraan musuh Allah. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar