BERANI TAK SHALAT ?
Karena shalat adalah tiang agama, penghubung antara hamba dengan Allah, dan amalan pertama yang akan dihisab di hari kiamat.
Nabi SAW bersabda:
“Pembeda antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
Dan beliau SAW bersabda:
“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i)
Karena itu, ketika seseorang sudah terbiasa meninggalkan shalat tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah, tanpa penyesalan, maka perhatikan beberapa hal dalam hidupnya.
Perhatikan makanannya
Bukan sekadar halal atau haram bendanya. Tetapi juga keberkahannya.
Karena hati yang jauh dari Allah sering membuat seseorang mudah: • mengambil hak orang lain
• menipu
• berdusta dalam jual beli
• memakan yang syubhat
• mengejar dunia tanpa peduli halal haram
Allah berfirman:
“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)
Ayat ini tentang orang yang masih shalat saja sudah diancam karena lalai. Lalu bagaimana dengan yang meninggalkannya?
Banyak ulama menjelaskan: dosa membuat hati gelap, dan hati yang gelap sulit membedakan mana yang halal dan mana yang haram.
Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tetapi hati yang mati sering tidak lagi peduli.
Perhatikan perbuatannya
Shalat adalah penjaga akhlak.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Jika shalat ditinggalkan terus-menerus, maka benteng itu runtuh sedikit demi sedikit.
Awalnya mungkin hanya malas ibadah. Lalu mudah berdusta. Lalu mudah marah. Lalu meremehkan dosa. Lalu berani menyakiti orang lain.
Karena hati yang tidak disinari shalat akan mudah dikuasai hawa nafsu.
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat yang terus dilakukan akan melahirkan maksiat berikutnya, hingga hati menjadi keras.
Perhatikan perkataannya
Orang yang jauh dari shalat sering sulit menjaga lisannya.
Karena shalat mendidik:
• kesabaran
• ketundukan
• rasa diawasi Allah
• kelembutan hati
Ketika shalat hilang, maka lisan sering menjadi liar: • mudah ghibah
• mudah menghina
• mudah memfitnah
• mudah berkata kasar
• mudah menyakiti hati orang
Nabi SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tetapi lisan sulit dijaga jika hubungan dengan Allah rusak.
Perhatikan ketenangan hidupnya
Mungkin hartanya banyak. Mungkin tertawanya keras. Mungkin rumahnya besar.
Tetapi belum tentu hatinya tenang.
Allah berfirman:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Banyak orang terlihat bahagia di luar, tetapi batinnya: • gelisah
• mudah marah
• sulit tidur
• penuh ketakutan
• kosong jiwanya
Karena hati diciptakan untuk dekat kepada Allah.
Perhatikan keridhaan Allah padanya
Inilah yang paling menakutkan.
Bila seseorang terus meninggalkan shalat namun merasa biasa saja, tidak takut, tidak menyesal, tidak ingin kembali, maka itu tanda bahaya besar.
Sebab dosa terbesar bukan hanya maksiatnya. Tetapi ketika hati sudah tidak lagi merasa bersalah.
Sebagian salaf berkata:
“Jangan melihat kecilnya dosa. Tapi lihat kepada siapa engkau bermaksiat.”
Dan Hasan Al-Bashri berkata:
“Ringannya dosa di matamu lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri.”
Namun jangan putus asa.
Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, Allah masih membuka pintu tobat.
Betapa banyak orang yang dulu meninggalkan shalat, lalu Allah balikkan hatinya menjadi ahli masjid.
Ada yang tersentuh karena kematian teman. Ada yang tersadar karena anaknya sakit. Ada yang menangis setelah mendengar azan Subuh. Ada yang berubah karena satu sujud taubat di malam hari.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Karena itu, jika hari ini masih hidup, masih mendengar azan, masih bisa bersujud, maka jangan tunda.
Bisa jadi satu sujud yang tulus malam ini lebih berharga daripada seluruh dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar