Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 02 Mei 2026

HARI PENDIDIKAN NASIONAL: BUKAN SEKADAR SEREMONI, TAPI JALAN PERADABAN

HARI PENDIDIKAN NASIONAL: JALAN PERADABAN

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional—hari lahirnya Ki Hajar Dewantara. 

Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tapi proses membentuk manusia yang mengenal Allah, memahami hidup, dan beradab.

Pertama: Perintah Ilmu dalam Al-Qur’an
Allah membuka wahyu pertama dengan perintah membaca:
Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan."
(QS. Al-‘Alaq: 1)

Ini bukan sekadar membaca teks, tapi membaca kehidupan, membaca tanda-tanda Allah.

Allah juga mengangkat derajat orang berilmu:
Yarfa‘illāhulladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul ‘ilma darajāt
"Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Kedua: 
Rasulullah SAW bersabda:
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah)

Dalam hadis lain:
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Ilmu bukan hanya kewajiban, tapi jalan keselamatan.

Ketiga: 
Para ulama sepakat (ijmak), bahwa:
Ilmu yang berkaitan dengan ibadah (seperti salat, puasa) hukumnya fardhu ‘ain
Ilmu yang dibutuhkan masyarakat (kedokteran, pertanian, teknologi) hukumnya fardhu kifayah
Artinya, jika tidak ada yang menguasainya, seluruh masyarakat berdosa.

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Keempat: Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Beliau berkata:
"Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani."
Maknanya:
Di depan memberi teladan
Di tengah membangun semangat
Di belakang memberi dorongan
Ini sejalan dengan akhlak Rasulullah SAW sebagai pendidik sejati.

Kelima: Kisah Inspiratif yang Menggetarkan
Kisah Imam Syafi’i sejak kecil hidup miskin. Untuk belajar, beliau menulis pelajaran di tulang dan pelepah kurma karena tak mampu membeli kertas.

Namun dari kesabaran itu, lahirlah seorang ulama besar yang ilmunya diikuti jutaan manusia.

Kisah Nabi Musa dan Khidir
Dalam QS. Al-Kahfi: 66, Nabi Musa berkata:
"Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar?"
Seorang nabi saja masih belajar. Apalagi kita.


Ada pula kisah nyata seorang anak yang belajar di bawah lampu jalan karena tak punya listrik. Hari ini, ia menjadi sarjana dan mengangkat derajat keluarganya.

Ilmu mengubah nasib, bukan sekadar cerita, tapi kenyataan.
Renungan Mendalam
Hari ini kita bertanya:
Sudahkah kita memuliakan guru?
Sudahkah kita bersungguh-sungguh mencari ilmu?
Ataukah kita hanya mengejar ijazah tanpa adab?
Ilmu tanpa adab adalah kesombongan.
Adab tanpa ilmu adalah kelemahan.
Namun jika keduanya bersatu itulah cahaya kehidupan.

Penutup: 
Mari hidupkan kembali semangat belajar:
Hormati guru seperti orang tua
Ajarkan anak mencintai ilmu, bukan sekadar nilai
Jadikan rumah sebagai madrasah pertama. 
Dan jangan pernah berhenti belajar, sampai ajal menjemput. 
Karena sesungguhnya…
Orang yang berilmu akan tetap hidup, meski jasadnya telah tiada.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang mencintai ilmu, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
Aamiin ya rabbal aalamin. 

Tidak ada komentar: