Qurban yang Tertunda… atau Hati yang Menunda?
Langit mulai gelap…
Suara azan Isya sebentar lagi akan berkumandang…
Di waktu seperti ini, hati biasanya lebih jujur berbicara.
Aku teringat satu kisah seorang lelaki, setiap tahun selalu berkata:
“Tahun depan saja aku berqurban… sekarang belum mampu.”
Padahal… rokoknya tak pernah berhenti.
Pakaiannya selalu baru setiap lebaran.
Keinginannya selalu didahulukan… tapi qurban selalu ditunda.
Hingga suatu malam…
ia jatuh sakit keras.
Di atas tempat tidur, dengan napas yang tersengal, ia berkata lirih:
“Andai Allah beri aku satu tahun lagi… aku pasti berqurban…”
Tapi waktu tidak pernah mundur.
Kesempatan tidak pernah kembali.
Allah sudah mengingatkan kita:
“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang telah diberikan-Nya berupa hewan ternak.”(QS. Al-Hajj: 34)
Dan Rasulullah SAW memberi peringatan yang sangat tegas:
“Barang siapa yang memiliki kelapangan (mampu) tetapi tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Saudaraku…
Menjelang Isya ini, mari kita tanya diri kita sendiri:
Apakah benar kita belum mampu…
atau sebenarnya kita belum mau?
Qurban bukan tentang besar kecilnya hewan…
tetapi tentang besar kecilnya keikhlasan.
Ada kisah lain…
Seorang ibu tua, hidup sendiri, penghasilannya hanya dari menjual gorengan.
Setiap hari ia sisihkan seribu, dua ribu…
orang lain tak melihat, tapi Allah melihat.
Setahun berlalu…
uangnya cukup untuk membeli seekor kambing kecil.
Saat ditanya:
“Kenapa ibu bersusah payah begini?”
Ia menjawab sambil tersenyum:
“Aku ingin ketika dipanggil Allah nanti, aku punya bukti… bahwa aku pernah berqurban.”
Menjelang Isya ini…
mari kita berdoa pelan-pelan dalam hati:
“Ya Allah…
jika selama ini aku menunda qurban,
maka ampuni aku…
Jika Engkau beri aku umur dan rezeki, jadikan aku termasuk orang yang berqurban…
bukan hanya ingin, tapi benar-benar melakukannya…”
Karena bisa jadi…
ini bukan soal qurban yang tertunda…
tetapi hati yang terlalu lama menunda untuk taat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar