Laqadja akum rasulum


web stats

Jumat, 29 Mei 2026

Setelah Idul Adha Berlalu, Jangan Sampai Semangat Ibadah Ikut Berlalu

Setelah Idul Adha Berlalu, Jangan Sampai Semangat Ibadah Ikut Berlalu

Banyak orang begitu bersemangat saat takbir bergema, masjid ramai, qurban disembelih, sedekah dibagikan. 

Namun setelah itu, hati kembali lengah. Padahal justru setelah musim ibadah selesai, Allah melihat siapa yang tetap istiqamah.

Allah berfirman:
“Fa idza faraghta fanshab. Wa ilaa rabbika farghab.”
“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al Insyirah: 7–8)

Ada beberapa amalan penting setelah Idul Adha dan hari Tasyrik:
Pertama, menjaga salat berjamaah.
Inilah tanda diterimanya ibadah. Jangan sampai saat takbiran rajin ke masjid, tetapi setelah itu Subuh mulai terlambat lagi. 

Rasulullah SAW bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Duduk berdzikir selepas Subuh hingga Syuruk di masjid, lalu menunggu Magrib sambil menunaikan salat Awwabin, itu termasuk bentuk istiqamah yang sangat mulia bila dijaga terus.

Kedua, memperbanyak dzikir.
Hari raya telah mengajarkan bahwa hidup bukan hanya makan dan berpesta, tetapi mengingat Allah. Maka lanjutkan: 
• istighfar
• shalawat
• tasbih tahmid takbir
• membaca Al-Qur’an
• dzikir pagi petang
Allah berfirman:
“Fadzkurunii adzkurkum.”
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 152)

Ketiga, menjaga semangat berbagi.
Qurban mengajari kita bahwa harta terbaik adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Setelah Idul Adha, jangan berhenti membantu: • tetangga yang susah
• anak yatim
• masjid
• keluarga sendiri
• orang tua
Kadang Allah membuka rezeki besar justru setelah seseorang ringan bersedekah.

Ada kisah nyata seorang tukang sayur yang tetap menyisihkan sedikit uang setiap pekan untuk infak masjid walau hidup pas-pasan. 

Orang menganggap itu kecil. Namun beberapa tahun kemudian, anaknya lulus menjadi pegawai negeri dan keluarganya perlahan berubah lebih baik. Ia berkata, “Mungkin bukan karena uang saya besar, tapi karena Allah melihat saya tidak pernah berhenti memberi.”

Keempat, memperbaiki akhlak dan lisan.
Apa gunanya qurban jika hati masih penuh iri, suka memfitnah, dan mudah menyakiti? 

Nabi SAW bersabda:
“Muslim sejati adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari)

Mulailah membiasakan: 
• bicara lembut
• tidak mudah marah
• mendoakan anak dan pasangan
• menjaga persahabatan
• memuliakan orang tua

Kelima, memperbanyak doa agar ibadah diterima.
Para sahabat setelah beramal justru takut amalnya tidak diterima. Mereka banyak membaca:
“Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim.”
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 127)

Jangan merasa sudah baik hanya karena telah berqurban atau bertakbir. Yang paling penting bukan meriahnya hari raya, tetapi berubahnya hati setelah hari raya.

Karena orang yang dicintai Allah bukan hanya yang semangat sesaat, melainkan yang tetap taat walau gema takbir telah berhenti.

Tidak ada komentar: