Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 13 Mei 2026

Tidak Syukur, Akhirat Hancur

Tidak Syukur, Akhirat Hancur

Pagi ini, mari kita renungkan sebuah kisah yang mengguncang hati.
Ada orang yang dulu hidupnya sangat miskin.
Pakaiannya hanya satu helai.

Kalau ia pergi salat ke masjid, istrinya menunggu di rumah karena tak ada pakaian lain sehingga dipakai bergantian.

Tetapi ketika miskin, ia rajin ke masjid. Rajin berdoa.
Rajin menangis meminta pertolongan Allah.
Lalu Allah bukakan pintu rezeki.

Awalnya hanya dua ekor kambing. Lalu berkembang menjadi puluhan.
Puluhan menjadi ratusan.
Ratusan menjadi ribuan.

Namun di situlah ujian sebenarnya dimulai.
Dulu langkahnya ringan menuju masjid.
Kini langkahnya sibuk menghitung ternak.
Dulu lisannya basah dengan doa.
Kini lisannya sibuk urusan dunia.

Dulu ia meminta kaya agar bisa bersedekah.
Namun ketika zakat datang menjemput, hatinya justru terasa berat.
Inilah musibah yang paling menakutkan: ketika nikmat dunia membuat seseorang jauh dari Allah.

Allah berfirman:
“Di antara mereka ada yang berjanji kepada Allah, ‘Jika Allah memberi kami karunia-Nya, niscaya kami akan bersedekah dan menjadi orang saleh.’ Tetapi ketika Allah memberi mereka karunia-Nya, mereka malah kikir dan berpaling.” (QS. At-Taubah: 75–76)

Saudaraku…
Tidak semua orang hancur karena miskin.
Banyak yang justru hancur karena tidak pandai bersyukur saat jadi kaya.

Ada yang dulu rajin tahajud saat susah, tetapi setelah usahanya maju malah lupa sujud.

Ada yang dulu menangis meminta pekerjaan, tetapi setelah jadi pejabat justru jarang ke masjid.

Ada yang dulu berkata: “Ya Allah, kalau saya punya rezeki lebih, saya akan bantu orang.”
Namun ketika rekening bertambah, sedekah terasa berat.

Zakat terasa rugi.
Masjid terasa jauh.
Padahal… harta itu bukan milik kita sepenuhnya.
Di dalamnya ada hak fakir miskin.
Ada hak anak yatim.
Ada hak orang lapar.

Rasulullah SAW bersabda:
“Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang hartanya: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)

Pagi ini mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah rezeki yang Allah beri membuat kita makin dekat kepada-Nya?
Atau justru membuat kita makin lalai?
Karena sesungguhnya… orang miskin belum tentu celaka.
Tetapi orang yang tidak bersyukur, itulah yang terancam akhiratnya hancur.

Allahummaj‘alnaa minasy-syaakiriin wa laa taj‘alnaa minal ghaafiliin.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang pandai bersyukur, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai.”

Tidak ada komentar: