AIR MATA DI UJUNG SAJADAH
Cerpen: oleh Ismilianto
Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang ibu tua bernama Salmah. Rambutnya telah memutih seluruhnya. Punggungnya mulai membungkuk. Langkahnya perlahan seperti menahan beban yang tak terlihat.
Suaminya telah lama meninggal dunia.
Anak tunggalnya, Farhan, merantau ke kota besar. Ketika berangkat, Farhan memeluk ibunya erat.
"Bu, doakan Farhan berhasil. Kalau sudah sukses, Farhan akan membahagiakan Ibu."
Salmah tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
"Ibu tidak minta apa-apa, Nak. Ibu hanya ingin kau jangan tinggalkan shalat dan jangan lupakan ibumu dalam doa."
Farhan mengangguk.
Namun waktu berjalan cepat.
Kesibukan demi kesibukan membuat Farhan jarang pulang. Telepon yang dulu setiap pekan berubah menjadi setiap bulan. Lalu beberapa bulan sekali.
Sementara itu, setiap malam Salmah selalu menunggu.
Sesudah shalat Isya, ia duduk di teras rumah tua yang mulai lapuk.
Matanya memandang jalan.
Barangkali malam ini anaknya pulang.
Barangkali malam ini ada suara motor berhenti di depan rumah.
Barangkali malam ini ada yang memanggil, "Ibu..."
Tetapi yang datang hanya angin malam.
Suatu hari tetangga bertanya,
"Mak Salmah, mengapa selalu duduk di sini?"
Dengan mata berkaca-kaca ia menjawab,
"Aku sedang menunggu seseorang yang dulu sering kupangku."
Tetangga itu terdiam.
Bertahun-tahun berlalu.
Farhan benar-benar sukses.
Rumah mewah.
Mobil mahal.
Jabatan tinggi.
Tetapi ia semakin jarang mengingat ibunya.
Sampai suatu malam, teleponnya berdering.
Suara dari kampung terdengar terbata-bata.
"Farhan... ibumu sakit keras."
Farhan terdiam.
Besoknya ia segera pulang.
Perjalanan yang dulu terasa dekat kini terasa sangat panjang.
Di sepanjang jalan, kenangan masa kecilnya bermunculan.
Ibunya yang menggendongnya saat demam.
Ibunya yang menjual gelang satu-satunya untuk biaya sekolah.
Ibunya yang sering berkata,
"Kalau Ibu sudah tua, jangan tinggalkan Ibu sendirian."
Sesampainya di rumah, suasana sudah dipenuhi tangisan.
Jantung Farhan berdegup kencang.
Ia berlari masuk.
Namun langkahnya terhenti.
Tubuh ibunya terbujur kaku di atas dipan tua.
Wajahnya tenang.
Seakan baru saja tertidur.
Farhan jatuh berlutut.
"Ibu... Farhan pulang, Bu..."
Tidak ada jawaban.
"Ibu... bangunlah. Farhan sudah pulang..."
Tetap tidak ada jawaban.
Air matanya pecah.
Ia memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin.
Di samping bantal terdapat sebuah Al-Qur'an usang.
Di dalamnya terselip secarik kertas.
Tangan Farhan gemetar membukanya.
Tertulis dengan tulisan yang mulai pudar:
"Ya Allah, jangan hukum anakku karena jarangnya ia pulang. Jangan hukum anakku karena lupanya ia kepada ibunya. Ampunilah dia. Mudahkan rezekinya. Jagalah shalatnya. Bahagiakan hidupnya. Jika harus ada yang menanggung kesedihan, biarlah aku saja."
Farhan menangis sejadi-jadinya.
Dadanya sesak.
Selama ini ia merasa ibunya akan selalu ada.
Ternyata waktu lebih cepat daripada penyesalan.
Malam setelah pemakaman, Farhan masuk ke kamar ibunya.
Di sudut ruangan masih ada sajadah tua.
Bekas air mata masih membekas di sana.
Tiba-tiba ia sadar.
Bertahun-tahun ibunya bukan sedang menunggu kiriman uang.
Bukan menunggu hadiah.
Bukan menunggu rumah baru.
Yang ditunggu ibunya hanyalah suara sederhana:
"Bu, bagaimana kabarnya hari ini?"
Farhan sujud di atas sajadah itu.
Tangisnya pecah.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis seperti anak kecil.
Ia baru mengerti bahwa ada cinta yang tak pernah meminta balasan.
Ada doa yang terus terbang ke langit meski dilupakan.
Ada hati yang tetap mencintai meski sering disakiti.
Itulah hati seorang ibu.
Rasulullah SAW bersabda:
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR. At-Tirmidzi)
Jika hari ini ayah atau ibu kita masih hidup, jangan tunggu esok untuk menelepon mereka. Jangan tunggu hari raya untuk memeluk mereka. Jangan tunggu pemakaman untuk menangis.
Karena ada penyesalan yang tidak bisa diperbaiki oleh air mata sebanyak apa pun.
Dan sering kali, orang yang paling kita cintai pergi saat kita masih sibuk berkata,
"Nanti...".
Semoga Allah menjaga kedua orang tua kita yang masih hidup, mengampuni yang telah wafat, dan menjadikan kita anak yang senantiasa berbakti kepada mereka. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar