Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 16 Juni 2026

Aku Hanya Ingin Dipuji" Cerpen: oleh Ismilianto


"Aku Hanya Ingin Dipuji"
Cerpen: oleh Ismilianto

Rian baru saja tamat SMA.
Hari kelulusan itu menjadi hari yang paling membanggakan dalam hidupnya. Ia merasa dirinya sudah menjadi orang besar.
Sejak saat itu, ada satu penyakit yang diam-diam tumbuh di hatinya: ingin dipuji.
Apa saja yang dimilikinya selalu ingin diperlihatkan kepada orang lain.
Saat membeli ponsel baru, ia sengaja meletakkannya di atas meja warung agar semua orang melihat.
Ketika memakai baju baru, ia berulang kali berjalan melewati kerumunan teman-temannya.

Ketika ayahnya membelikannya sepeda motor dengan uang hasil menjual sebidang kebun kecil, ia berkeliling kampung berkali-kali.

Dalam hati ia berkata,
"Sekarang mereka pasti tahu aku sudah sukses."
Padahal ia baru saja tamat SMA.

Ayah dan ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anak tunggal mereka itu.
Mereka tidak pernah marah.
Mereka hanya berharap suatu hari nanti anaknya mengerti arti kehidupan.
Waktu berlalu.

Rian mendapat pekerjaan di kota.
Gajinya tidak besar, tetapi cukup untuk membeli barang-barang yang menurutnya bisa menaikkan gengsi.

Media sosialnya penuh dengan foto dirinya.
Foto di restoran.
Foto di depan mobil milik temannya.
Foto saat memegang setumpuk uang.
Semua ingin dipamerkan.
Semua ingin mendapat pujian.
Suatu malam telepon dari kampung berdering.
Ayahnya sakit keras.
Rian pulang tergesa-gesa.
Sesampainya di rumah, ia terkejut.

Rumah itu tampak semakin tua.
Dindingnya mulai lapuk.
Atapnya bocor di beberapa tempat.
Di sudut rumah, ia melihat ibunya sedang menanak nasi dengan kayu bakar.
Matanya tiba-tiba tertuju pada lemari tua.

Di dalamnya tersimpan rapi semua piagam dan foto-foto kelulusannya sejak SD.
Ibunya berkata pelan,
"Semua ini Ibu simpan baik-baik. Ibu bangga padamu."
Rian terdiam.

Malam itu kondisi ayahnya semakin memburuk.
Menjelang Subuh, ayahnya memanggilnya mendekat.
Dengan suara lemah ayah berkata,
"Rian... jangan habiskan hidupmu untuk mencari pujian manusia."

Air mata mulai mengalir dari sudut mata ayahnya.
"Lihatlah tangan Ayah."
Rian memegang tangan kasar itu.
Tangan yang penuh bekas cangkul.
Penuh luka lama.
Penuh kapalan.
"Itulah harga yang Ayah bayar agar kau bisa sekolah."

Rian menangis.
Ayah melanjutkan,
"Ayah tidak pernah bangga karena punya anak yang bergaya. Ayah bangga kalau punya anak yang rendah hati."
Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang didengarnya.
Beberapa saat kemudian, sang ayah menghembuskan napas terakhir.

Dunia Rian seakan runtuh.
Di pemakaman, hujan turun perlahan.
Orang-orang mulai pulang.
Ia duduk sendiri di dekat pusara ayahnya.

Tiba-tiba ia teringat semua yang pernah dipamerkannya.
Ponsel yang kini sudah usang.
Sepatu mahal yang sudah rusak.
Pakaian bermerek yang sudah tidak dipakai.
Semuanya tidak ada artinya.
Yang berharga justru tangan kasar ayahnya yang kini telah terkubur di dalam tanah.

Sambil menangis ia berbisik,
"Ayah... aku terlalu sibuk mencari tepuk tangan manusia, sampai lupa menghargai orang yang paling berjasa dalam hidupku."
Namun penyesalan selalu datang terlambat.

Sejak hari itu, Rian berubah.
Ia lebih banyak membantu ibunya.
Lebih banyak bersedekah.
Lebih banyak berbuat baik tanpa perlu diketahui orang lain.

Karena akhirnya ia memahami satu pelajaran yang sangat mahal:
Pujian manusia hanya bertahan sesaat. Tetapi doa orang tua yang ridha mampu menerangi hidup hingga dunia dan akhirat.

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.'" (QS. Al-Isra': 24)

Betapa banyak anak yang menangis di atas kuburan orang tuanya, bukan karena tidak mencintai mereka, tetapip karena terlambat menunjukkan cinta itu saat mereka masih hidup.

Tidak ada komentar: