Jangan Lengah Saat Usia Muda dan Tubuh Masih Sehat Kuat
Banyak orang mengira masa tua masih jauh. Banyak orang merasa tubuhnya masih kuat, langkahnya masih tegap, dan napasnya masih panjang. Karena itu, ibadah ditunda, taubat ditunda, sedekah ditunda, bahkan berbuat baik pun sering ditunda.
Padahal Allah tidak pernah menjanjikan bahwa yang tua pasti meninggal lebih dahulu daripada yang muda.
Hari ini kita sering melihat anak muda meninggal karena kecelakaan, serangan jantung, sakit mendadak, atau sebab lain yang tidak pernah disangka. Kuburan tidak hanya diisi orang tua. Kuburan juga diisi anak-anak muda yang kemarin masih tertawa, bercita-cita, dan merencanakan masa depan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim)
Hadis ini adalah peringatan yang sangat dalam. Masa muda dan sehat adalah modal terbesar yang sering disia-siakan manusia.
Mengapa Masa Muda Sangat Berharga?
Karena saat muda tenaga masih kuat.
Shalat malam terasa ringan.
Puasa sunnah masih kuat.
Belajar Al-Qur'an masih mudah.
Mencari rezeki halal masih bersemangat.
Berbakti kepada orang tua masih memungkinkan.
Tetapi ketika usia bertambah, tenaga mulai berkurang.
Lutut mulai sakit.
Mata mulai kabur.
Pendengaran mulai melemah.
Ingatan mulai berkurang.
Saat itu banyak orang berkata:
"Andai dulu aku rajin beribadah ketika masih kuat."
Namun waktu tidak pernah kembali.
Allah berfirman:
"Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat berbuat kebajikan terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak." (QS. Al-Mu'minun: 99-100)
Ada kisah seorang pemuda yang terkenal sehat dan kuat. Ia sering berkata kepada teman-temannya:
"Nanti kalau umur sudah lima puluh tahun aku akan rajin ke masjid."
"Nanti kalau sudah pensiun aku akan memperbanyak ibadah."
"Nanti kalau sudah tua aku akan bertaubat."
Suatu malam ia berangkat bersama teman-temannya. Di tengah perjalanan terjadi kecelakaan. Pemuda itu meninggal saat itu juga.
Yang paling menyedihkan, semua rencana taubat yang selalu ia ucapkan tidak pernah sempat terlaksana.
Kain kafan datang lebih cepat daripada jadwal taubat yang ia buat sendiri.
Betapa banyak manusia hidup seperti itu.
Merencanakan dunia sampai puluhan tahun ke depan, tetapi tidak pernah merencanakan kematian yang bisa datang malam ini.
Kisah Nyata Imam Nawawi
Imam Nawawi wafat pada usia sekitar 45 tahun.
Usianya tidak panjang dibanding banyak orang lain. Namun keberkahannya luar biasa.
Sejak muda beliau mengisi waktunya dengan ilmu, ibadah, dan mengajar umat.
Hingga hari ini jutaan muslim masih membaca karya-karyanya.
Beliau memahami bahwa umur bukan soal panjangnya tahun, tetapi banyaknya manfaat yang ditinggalkan.
Ada orang hidup sampai 80 tahun tetapi sedikit amalnya.
Ada yang hidup 40 tahun tetapi manfaatnya terus mengalir sampai ratusan tahun setelah wafat.
Ada kisah seorang pemuda di sebuah kota selalu mendengar adzan dari masjid dekat rumahnya.
Ayahnya sering berkata:
"Nak, mari ke masjid."
Jawabannya selalu:
"Nanti saja."
Suatu hari ayahnya kembali mengajaknya untuk shalat Subuh berjamaah.
Ia menjawab:
"Nanti kalau sudah tua."
Tidak lama kemudian ia sakit mendadak dan meninggal.
Ketika jenazahnya dibawa ke masjid, orang-orang berkata dengan sedih:
"Hari ini dia akhirnya datang ke masjid, tetapi di atas pundak manusia."
Kalimat ini sangat menggetarkan hati.
Jangan sampai kaki kita enggan berjalan ke rumah Allah saat hidup, tetapi akhirnya dibawa ke sana sebagai jenazah.
Tubuh Sehat adalah Amanah
Tubuh yang kuat bukan milik kita sepenuhnya.
Ia adalah titipan Allah.
Mata yang sehat untuk membaca Al-Qur'an.
Telinga yang sehat untuk mendengar nasihat.
Kaki yang kuat untuk melangkah ke masjid.
Tangan yang kuat untuk membantu sesama.
Kelak semua akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah berfirman:
"Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat." (QS. At-Takatsur: 8)
Nikmat sehat termasuk yang pertama kali akan ditanyakan.
Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan Allah.
Rasulullah SAW menyebutkan salah satu golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah:
"Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan, Rasulullah tidak menyebut orang tua yang rajin beribadah, tetapi secara khusus menyebut pemuda yang menggunakan masa mudanya untuk taat kepada Allah.
Karena godaan masa muda sangat besar.
Siapa yang mampu menjaga dirinya saat muda, maka kedudukannya sangat mulia di sisi Allah.
Mari Renungkan
Wahai saudaraku...
Jangan tunggu sakit untuk rajin berzikir.
Jangan tunggu tua untuk membaca Al-Qur'an.
Jangan tunggu pensiun untuk ke masjid.
Jangan tunggu musibah untuk mendekat kepada Allah.
Karena tidak ada yang tahu apakah kita akan sampai pada hari esok.
Banyak orang yang tadi pagi masih sehat, sore harinya sudah berada di liang lahat.
Banyak orang yang semalam masih bercanda dengan keluarganya, pagi harinya sudah dishalatkan.
Selama napas masih berembus, selama kaki masih mampu melangkah, selama mata masih bisa melihat, maka gunakanlah semua itu untuk mendekat kepada Allah.
Sebab ketika ajal tiba, yang menemani kita bukan jabatan, bukan harta, bukan kendaraan, bukan rumah yang megah.
Yang menemani hanyalah amal saleh.
"Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan beriman, jadikan masa muda, kesehatan, dan sisa umur kami sebagai jalan menuju ridha-Mu, serta tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal 'alamin."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar