Dua Cahaya di Ujung Hari
Cerpen: oleh Ismilianto
Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang lelaki tua bernama Hamzah.
Ia bukan orang kaya.
Rumahnya sederhana.
Pakaiannya biasa.
Namanya tidak pernah masuk koran.
Namun ada satu kebiasaan yang membuat para malaikat mengenalnya.
Setelah azan Subuh berkumandang, Hamzah selalu berjalan menuju masjid.
Usai shalat Subuh berjamaah, ia tidak segera pulang.
Ketika jamaah lain satu per satu meninggalkan masjid, Hamzah tetap duduk di saf depan.
Tasbih berputar perlahan di jemarinya.
Kadang ia membaca Al-Qur'an.
Kadang ia menundukkan kepala sambil beristighfar.
Kadang hanya memandang langit yang perlahan berubah warna.
Ia menunggu matahari terbit.
Lalu ketika matahari mulai naik setinggi tombak, ia berdiri dan melaksanakan dua rakaat shalat Syuruk.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa melaksanakan shalat Subuh berjamaah, lalu ia duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. At-Tirmidzi)
Hadis itu selalu membuat Hamzah terharu.
Ia sering berkata kepada dirinya sendiri,
"Kalau aku tak mampu berangkat haji setiap tahun, semoga Allah mencatatku sebagai tamu-Nya melalui amalan yang diajarkan Rasulullah SAW."
Waktu berlalu.
Rambut Hamzah semakin memutih.
Langkahnya tidak lagi sekuat dulu.
Tetapi ada satu kebiasaan lain yang tidak pernah ia tinggalkan.
Setelah shalat Magrib berjamaah, ia tidak langsung pulang.
Ia tetap berada di masjid.
Melaksanakan enam rakaat shalat Awwabin.
Lalu kembali berdzikir hingga Isya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa shalat enam rakaat setelah Magrib tanpa diselingi perkataan buruk, maka baginya pahala seperti ibadah dua belas tahun."
(HR. At-Tirmidzi)
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah adalah ketika anak-anak unta mulai merasakan panas matahari."
(HR. Muslim)
Para ulama menyebut orang yang gemar memperbanyak shalat sunnah sebagai golongan Awwabin, yaitu orang-orang yang selalu kembali kepada Allah.
Hamzah sangat mencintai nama itu.
Ia ingin ketika dipanggil di langit, para malaikat berkata:
"Itu Hamzah, seorang yang selalu kembali kepada Allah."
Suatu malam hujan turun deras.
Angin bertiup kencang.
Jalanan berlumpur.
Sebagian orang memilih shalat di rumah.
Tetapi Hamzah tetap datang ke masjid.
Dengan payung tua dan langkah perlahan.
Seorang pemuda bertanya,
"Pak Hamzah, mengapa Bapak bersusah payah ke masjid setiap hari? Bukankah Allah Maha Mengetahui keadaan Bapak?"
Hamzah tersenyum.
Matanya berkaca-kaca.
Lalu ia berkata,
"Anakku, aku takut suatu hari Allah memanggilku, sementara aku terlalu sibuk dengan dunia dan lupa mencari bekal."
Pemuda itu terdiam.
Beberapa tahun kemudian, Hamzah jatuh sakit.
Tubuhnya melemah.
Ia tidak lagi mampu berjalan jauh.
Namun setiap Subuh ia selalu bertanya kepada anaknya,
"Sudah terbit matahari?"
Ketika diberitahu bahwa matahari telah terbit, ia shalat dua rakaat di atas kursinya.
Dan setiap selesai Magrib, ia meminta dibantu berwudhu untuk melaksanakan shalat Awwabin.
Sampai akhirnya datang hari yang tidak pernah gagal menemui siapa pun.
Hari pertemuan dengan Allah.
Pada sore hari setelah Magrib, Hamzah melaksanakan enam rakaat Awwabin seperti biasa.
Ia berdzikir cukup lama.
Malam itu ia tidur lebih awal.
Menjelang Subuh, anak-anaknya mencoba membangunkannya.
Namun Hamzah tidak menjawab.
Wajahnya tenang.
Bibirnya masih menyisakan senyum.
Ia telah pergi.
Pergi menghadap Allah yang selama puluhan tahun ia datangi dengan langkah-langkah kecil menuju masjid.
Saat jenazahnya dishalatkan, masjid penuh sesak.
Banyak orang menangis.
Bukan karena Hamzah seorang pejabat.
Bukan karena Hamzah seorang hartawan.
Tetapi karena mereka tahu siapa Hamzah di hadapan Allah.
Ia adalah lelaki yang menjaga dua cahaya.
Cahaya setelah Subuh.
Dan cahaya antara Magrib dan Isya.
Seorang imam yang mengenalnya berkata dalam sambutan takziah:
"Pak Hamzah mungkin tidak meninggalkan gedung megah. Tidak meninggalkan rekening besar. Tetapi beliau meninggalkan jejak menuju masjid yang tidak pernah putus selama puluhan tahun."
Masjid menjadi sunyi.
Banyak mata yang basah.
Sebab semua menyadari satu kenyataan:
Ketika ajal datang, yang menemani kita bukan rumah, bukan kendaraan, bukan jabatan.
Yang menemani kita hanyalah sujud-sujud yang pernah kita lakukan dengan ikhlas.
Dan mungkin, di antara sujud yang paling dirindukan seorang mukmin kelak adalah dua rakaat Syuruk setelah terbit matahari, dan enam rakaat Awwabin di antara Magrib dan Isya.
Sujud-sujud sunyi yang mungkin tidak diketahui manusia, tetapi tercatat indah di sisi Allah.
"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88-89)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga shalat, mencintai masjid, menghidupkan waktu antara Subuh dan terbit matahari, serta menghidupkan waktu antara Magrib dan Isya dengan ibadah, hingga kelak dipanggil pulang dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar