Ketika Harta Tak Menjawab
Cerpen: oleh Ismilianto
Senja turun perlahan. Langit yang kemerahan seolah sedang menahan air mata. Di beranda rumah tua itu, seorang lelaki renta duduk memandang jalan yang mulai lengang. Tangannya menggenggam tasbih, tetapi jemarinya tak lagi kuat menggerakkannya.
Namanya Hasan.
Dahulu, orang-orang mengenalnya sebagai saudagar yang berhasil. Rumahnya luas, sawahnya terbentang, dan tamu tak pernah berhenti datang.
Namun, kesibukan telah mencuri begitu banyak waktu.
Shalat sering ditunda. Al-Qur'an hanya dibaca ketika ada kematian. Ia selalu berkata, "Nanti kalau sudah tua, aku akan lebih banyak beribadah."
Ternyata, usia tua datang lebih cepat daripada taubat yang direncanakannya.
Malam itu, hujan turun perlahan. Hasan memanggil putra sulungnya.
"Nak dekatkan Quran itu."
Dengan napas yang tersengal, ia membuka halaman demi halaman. Air matanya menetes sebelum lisannya sempat menyelesaikan beberapa ayat.
"Ayah baru mengerti... ternyata hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak yang kita bawa menghadap Allah."
Anaknya tak sanggup menjawab. Ia hanya menggenggam tangan ayahnya yang mulai dingin.
Beberapa saat kemudian, bibir tua itu bergetar pelan.
"Jangan ulangi kesalahan seperti Ayah... Jangan biarkan dunia membuatmu lupa kepada akhirat..."
Itulah kalimat terakhirnya.
Ketika tanah merah menutup liang lahat, semua harta yang pernah dibanggakan tetap tinggal di dunia. Rumah masih berdiri. Kendaraan masih terparkir. Rekening masih menyimpan angka. Namun tak satu pun melangkah masuk ke dalam kubur.
Yang ikut hanyalah amal.
Malam-malam berikutnya, putra-putrinya tak pernah lagi meninggalkan shalat berjamaah. Seusai shalat, mereka membaca Al-Fatihah, berdoa, lalu bersedekah atas nama ayah mereka.
Setiap kali tangan mereka terangkat berdoa, mereka teringat wajah Hasan pada malam terakhirnya—wajah yang dipenuhi penyesalan, tetapi juga dipenuhi harapan agar anak-anaknya tidak terlambat seperti dirinya.
Konon, penyesalan yang paling berat bukanlah ketika kehilangan harta.
Melainkan ketika seseorang menyadari bahwa umurnya telah habis, sementara bekal untuk pulang masih terlalu sedikit.
Maka, jika hari ini Allah masih membangunkan kita dari tidur, mungkin itu bukan karena kita masih kuat.
Melainkan karena Dia masih memberi kesempatan untuk memperbaiki perjalanan, sebelum tiba hari ketika tak ada lagi kesempatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar