Kematianmu Kapan?
Cerpen: oleh Ismilianto
Hujan turun tanpa suara.
Di balik jendela sebuah rumah yang mulai dimakan usia, seorang lelaki tua memandangi halaman yang basah.
Dulu, halaman itu selalu ramai oleh tawa anak-anaknya. Kini, yang terdengar hanya desir angin dan sesekali suara daun yang gugur.
Namanya Abdullah.
Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai pekerja keras. Sejak matahari belum terbit, ia sudah berangkat mencari nafkah. Ketika malam datang, tubuhnya pulang dalam keadaan letih.
"Aku melakukan semua ini demi anak-anak," begitu kalimat yang paling sering ia ucapkan.
Anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang berhasil. Rumah megah berdiri. Kendaraan berganti. Tanah bertambah. Orang-orang memujinya sebagai ayah yang sukses.
Namun, hanya Allah yang tahu ada ruang kosong yang tak pernah sempat ia isi.
Salat sering ditunda karena urusan dagang.
Al-Qur'an berhari-hari tersimpan tanpa disentuh.
Ia selalu berkata dalam hati, "Nanti... kalau sudah tua aku akan lebih dekat kepada Allah."
Tetapi "nanti" adalah kata yang paling sering menipu manusia.
Suatu malam, tubuh Abdullah mendadak lemah. Penyakit yang selama ini bersembunyi akhirnya memperlihatkan dirinya. Dokter hanya mampu menggeleng pelan.
Hari-hari berikutnya berlalu di atas ranjang.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia memiliki banyak waktu.
Namun tubuhnya sudah tidak lagi memiliki banyak tenaga.
Pada suatu sepertiga malam, ia meminta anak sulungnya mengambil mushaf Al-Qur'an.
Dengan tangan yang gemetar ia membukanya.
Belum sempat satu halaman selesai dibaca, air matanya jatuh membasahi lembaran-lembaran suci itu.
Tangisnya pecah.
"Ayah baru sadar... ternyata selama ini Ayah sibuk menyiapkan rumah untuk kalian... tetapi lupa menyiapkan rumah Ayah sendiri di akhirat...."
Ruangan menjadi sunyi.
Tak seorang pun sanggup menahan air mata.
Ia memandang satu per satu wajah anak-anaknya.
"Kalau kalian benar-benar mencintai Ayah..."
Ia berhenti. Napasnya terasa berat.
"...jangan tunggu tua untuk sujud kepada Allah..."
Kalimat itu menggantung bersama isak tangis keluarganya.
Beberapa saat kemudian...
dadanya berhenti bergerak.
Inilah perpisahan yang tak bisa ditunda.
Ketika liang lahat telah ditutup, semua orang pulang.
Rumah megah itu tetap berdiri.
Mobil-mobil masih berjejer.
Sawah tetap menghijau.
Tabungan masih utuh.
Tetapi tidak satu pun ikut menemani Abdullah.
Yang masuk ke dalam kubur hanyalah kain kafan, doa orang-orang yang mencintainya, dan amal yang pernah ia kerjakan.
Empat puluh hari kemudian, anak-anaknya berkumpul di rumah itu.
Mereka membuka lemari tua milik ayahnya.
Di antara tumpukan berkas dan sertifikat tanah, terselip secarik kertas yang telah menguning.
Dengan tulisan tangan yang mulai pudar, tertulis:
"Aku telah menghabiskan hidup mencari dunia untuk keluargaku. Jika Allah memberiku satu kesempatan lagi, aku akan lebih banyak mencari akhirat, karena ternyata hanya itulah yang menemaniku setelah kematian."
Tak ada satu pun yang mampu membaca tulisan itu hingga selesai.
Air mata mereka jatuh di atas kertas yang basah.
Malam itu juga, mereka berjanji.
Tak akan lagi meninggalkan salat.
Tak akan lagi menunda taubat.
Tak akan lagi merasa muda sehingga lupa bahwa kematian tidak pernah menunggu usia tua.
Sebab mereka telah melihat sendiri...
penyesalan paling menyakitkan bukanlah saat harta habis.
Melainkan saat napas telah habis, sementara amal saleh masih terlalu sedikit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar