Usia Enam Puluh, Tapi Tawa Masih Anak SMA
Cerpen: oleh Ismilianto
Sabtu siang, tepat pukul 13.00 WIB, sebuah mobil melaju meninggalkan Manna menuju Kedurang. Di dalamnya duduk enam sahabat lama, alumni SMA Negeri 1 Manna angkatan tamat tahun 1985.
Milit, Yuli, Gadis, Neti, Tini, dan Ida.
Usia kami memang sudah kepala enam. Rambut mulai dihiasi uban, kacamata baca tak pernah jauh dari saku, dan pinggang sesekali mengingatkan bahwa kami bukan lagi remaja.
Namun begitu pintu mobil ditutup, usia seakan tertinggal di belakang.
Yang terdengar hanyalah tawa.
"Rupanya Milit paling banyak inspirasi cerita lama, dan sepanjang jalan dia yang paling banyak cerita," canda Yuli.
Mobil pun berguncang oleh gelak tawa.
Belum jauh meninggalkan Manna, telepon genggam sudah sibuk berpindah tangan.
"Ayo... bikin video!"
"Lho... kok mukaku nggak ada?"
"Itu kameranya masih menghadap keluar!"
"Hahaha... pantes dari tadi yang direkam pohon sawit semua."
Maklum, kami ini generasi yang baru bersahabat dengan teknologi ketika usia sudah tidak muda lagi.
Bahkan ada yang lupa menekan tombol rekam, ada yang videonya miring, bahkan ada yang sudah lima menit berbicara di depan kamera, ternyata belum menekan tombol "record".
"Aduh... dasar kita ini. Sudah enam puluhan tahun, masih sama-sama gaptek," kata Ida sambil tertawa.
"Tidak apa-apa," sahut Tini, "yang penting bukan videonya, tapi kenangannya."
Kalimat itu disambut anggukan dan tawa. Memang benar, yang kami cari bukan video yang sempurna, tetapi kebersamaan yang tak ternilai.
Sesampainya di Kedurang, kami disambut hangat oleh sahabat lama kami, Dastian, beserta keluarganya.
Tak lama kemudian prosesi akad nikah dimulai.
Awalnya kami mengira acara akan berlangsung singkat.
Ternyata satu jam berlalu.
Lalu dua jam.
Hingga hampir tiga jam prosesi belum juga selesai.
Sesekali kami saling berpandangan.
"Aduh... belum Asar juga."
Yang lain hanya tersenyum sambil menahan tawa.
Rasa lelah memang mulai terasa. Pinggang mulai minta bersandar. Tetapi siapa yang tega mengeluh di hari bahagia sahabat sendiri?
Akhirnya akad nikah selesai. Kami pun menikmati hidangan bersama. Makan sore itu terasa begitu nikmat karena ditemani obrolan ringan yang tak pernah habis.
Barulah setelah selesai makan, kami mengajak Dastian, kedua mempelai, dan keluarganya berfoto bersama.
"Yang ini jangan ada yang merem, kata teman kami!"
"Eh... ulang lagi, senyumnya kurang lebar."
"Hahaha... kok yang motret malah ikut masuk foto?"
Berkali-kali kamera diangkat. Berkali-kali pula kami mengulang pose. Entah foto mana yang paling bagus, semuanya terasa indah karena dipenuhi tawa dan rasa syukur.
Perjalanan pulang menuju Manna terasa jauh lebih singkat.
Sepanjang jalan kami kembali membuat video.
"Lho... dari tadi ternyata belum direkam."
"Hahaha... ya ampun, salah pencet lagi."
Kami tertawa sampai perut terasa sakit.
Lalu cerita pun berganti.
Tentang guru-guru yang dulu galak tetapi kini justru paling kami rindukan.
Tentang teman-teman yang sering dihukum.
Tentang cucu-cucu kami yang lebih mahir memainkan telepon genggam daripada kakek dan neneknya.
Tanpa terasa, seseorang melihat jam.
Pukul 17.30 WIB.
"Lho... kok sudah sampai Manna?"
Padahal rasanya baru sebentar meninggalkan Kedurang.
Mobil yang sejak tadi dipenuhi tawa mendadak hening.
Entah mengapa, hati kami seperti disentuh oleh sesuatu.
Hari ini kami masih bisa duduk dalam satu mobil.
Masih bisa saling gurau.
Masih bisa membuat video yang berkali-kali gagal direkam.
Masih bisa berfoto bersama.
Masih bisa pulang dengan membawa tawa.
Tetapi...
Apakah tahun depan kami masih lengkap berenam?
Tak seorang pun mampu menjawabnya.
Di usia kami sekarang, silaturahmi bukan lagi sekadar bertemu teman lama.
Silaturahmi adalah cara mensyukuri sisa umur yang Allah titipkan.
Allah berfirman:
"…Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, serta peliharalah hubungan silaturahmi." (QS. An-Nisa: 1).
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Bukhari No. 5986 dan Muslim No. 2557).
Saya teringat sebuah kisah nyata yang sering terjadi di sekitar kita.
Sekelompok sahabat sekolah selalu berkata, "Nanti saja kita reuni, nanti kalau sudah sama-sama senggang."
Namun ketika hari itu tiba, beberapa kursi sengaja dibiarkan kosong.
Bukan karena pemiliknya terlambat datang.
Melainkan karena mereka telah lebih dahulu dipanggil Allah.
Yang tersisa hanyalah foto lama, kenangan, dan doa.
Semoga kami tidak termasuk orang yang gemar berkata, "Masih ada waktu."
Karena sesungguhnya, tidak seorang pun mengetahui siapa yang lebih dahulu dipanggil pulang.
Saat kami saling berpamitan di Manna, langit petang mulai memerah.
Saya memandang wajah Yuli.
Lalu Gadis.
Neti.
Tini.
Ida.
Wajah-wajah yang dahulu saya lihat setiap pagi di ruang kelas SMA Negeri 1 Manna.
Kini semuanya berubah dimakan usia.
Namun persahabatan kami ternyata tidak ikut menua.
Dalam hati saya berdoa,
"Ya Allah, terima kasih karena hari ini Engkau masih mempertemukan kami dalam tawa. Panjangkan umur kami dalam ketaatan, berkahi persahabatan kami dengan silaturahmi, dan jika suatu hari Engkau memanggil kami satu per satu, semoga kami dipertemukan kembali di surga-Mu."
Hari itu kami pulang bukan hanya membawa foto.
Bukan hanya membawa video yang kadang goyang karena tangan yang mulai bergetar.
Bukan pula cerita tentang akad nikah yang hampir tiga jam.
Kami pulang membawa sebuah kesadaran.
Bahwa di ujung usia, harta bukan lagi yang paling berharga. Jabatan pun tinggal cerita. Yang paling indah adalah ketika Allah masih memberi kesempatan untuk bersilaturahmi, saling mendoakan, saling tertawa, lalu berpisah dengan hati yang penuh syukur.
Karena suatu saat nanti, foto-foto akan menjadi kenangan, video-video akan menjadi nostalgia, tetapi doa-doa dan kasih sayang antarsahabatlah yang, dengan izin Allah, tetap mengalir hingga akhir hayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar