Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 11 Juni 2026

MENJAGA SHALAT WALAU SANGAT SIBUK DENGAN PEKERJAAN BERAT

JAGA SHALAT WALAU SIBUK DENGAN PEKERJAAN BERAT

Ada orang yang bekerja dari pagi hingga petang. Tangannya kasar karena cangkul, bajunya basah oleh keringat, tubuhnya lelah karena mencari nafkah halal untuk keluarga. 

Namun ketika azan berkumandang, ia meletakkan pekerjaannya sejenak, berwudhu, lalu berdiri menghadap Allah.

Sebaliknya, ada pula yang pekerjaannya tidak seberat itu, tetapi shalat sering ditunda, bahkan ditinggalkan.

Sesungguhnya, yang membuat seseorang menjaga shalat bukanlah karena banyak atau sedikitnya kesibukan, melainkan karena besarnya cinta dan rasa takutnya kepada Allah.

Allah berfirman:
"Hafizhu 'alash-shalawati wash-shalatil wustha wa qumu lillahi qanitin."
"Peliharalah semua shalatmu dan shalat wustha, dan berdirilah karena Allah dengan khusyuk." (QS. Al-Baqarah: 238)

Dikisahkan seorang buruh bangunan di sebuah kota besar. Setiap hari ia mengangkat semen dan batu bata dari pagi hingga sore.

Suatu hari temannya bertanya, "Mengapa engkau selalu shalat tepat waktu, padahal pekerjaanmu sangat berat?"
Ia menjawab dengan mata berkaca-kaca, "Aku bekerja untuk anak istriku, tetapi aku shalat untuk keselamatan diriku di hadapan Allah. 

Jika pekerjaan bisa kutinggalkan beberapa menit untuk makan dan minum, mengapa aku tidak bisa meninggalkannya beberapa menit untuk menghadap Rabb-ku?"
Jawaban sederhana itu membuat temannya terdiam.

Rasulullah SAW, manusia yang paling sibuk di muka bumi, memimpin umat, berdakwah, memimpin peperangan, mengurus keluarga dan masyarakat. Namun beliau tetap menjaga shalat dengan sempurna. Bahkan ketika sakit menjelang wafat, beliau masih bertanya:
"Ash-shalah, ash-shalah..."
"Shalat, shalat..." (HR. Abu Dawud)

Kesibukan bukan alasan meninggalkan shalat. Justru shalat adalah sumber kekuatan di tengah kesibukan.

Betapa banyak orang yang mengejar rezeki hingga melupakan shalat, padahal rezeki datang dari Allah. 

Dan betapa banyak orang yang menjaga shalat, lalu Allah bukakan jalan keluar yang tidak pernah ia sangka.

Pagi ini, mari bertanya kepada diri sendiri:
"Jika Allah masih memberi waktu untuk bekerja, mengapa aku tidak menyediakan waktu untuk bersujud?"

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan ringan maupun berat, hingga kelak dipanggil dengan kemuliaan di hari kiamat.
Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. Aamiin.

Tidak ada komentar: