Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 11 Juni 2026

NASKAH KHUTBAH JUMAT Judul: Melaksanakan Shalat di Tengah Kesibukan

NASKAH KHUTBAH JUMAT 
Judul: Melaksanakan Shalat di Tengah Kesibukan

Khutbah Pertama

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh, wa na'udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi'ati a'malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.

Faqala fi kitabihil karim:
A'udzu billahi minasy-syaithanir rajim.
Bismillahir rahmanir rahim.
Rijalul la tulhihim tijaratun wa la bai'un 'an dzikrillahi wa iqamish shalati wa ita'iz zakah, yakhafuna yauman tataqallabu fihil qulubu wal abshar.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.
Amma ba'du.

Judul: Melaksanakan Shalat di Tengah Kesibukan

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Inna ash-shalata kanat 'alal mu'minina kitaban mauquta."
"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Di zaman sekarang, banyak manusia disibukkan oleh pekerjaan, usaha, perdagangan, jabatan, organisasi, perjalanan, dan berbagai urusan dunia. Tidak sedikit yang berkata, "Saya terlalu sibuk." Bahkan ada yang menunda shalat hingga akhir waktu, ada yang menggabungkannya tanpa alasan syar'i, dan ada pula yang meninggalkannya sama sekali.

Padahal kesibukan bukanlah alasan untuk meninggalkan shalat. Justru shalat adalah sumber kekuatan dalam menghadapi kesibukan.

Perhatikanlah kehidupan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah kepala negara, panglima perang, hakim, guru, pemimpin keluarga, sekaligus pembimbing umat. Namun tidak pernah meninggalkan shalat tepat waktu.

Ketika Bilal mengumandangkan adzan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Arihna biha ya Bilal."
"Wahai Bilal, hiburlah dan tenangkan kami dengan shalat." (HR. Abu Dawud)

Bagi sebagian orang, pekerjaan dianggap ketenangan. Tetapi bagi Rasulullah, ketenangan sejati adalah shalat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Ada sebuah kisah nyata yang sering terjadi dalam kehidupan kita.
Seorang pedagang membuka tokonya sejak pagi hingga malam. Ia takut kehilangan pembeli jika meninggalkan tokonya untuk shalat berjamaah. 

Bertahun-tahun ia mengejar keuntungan dunia. Namun suatu hari ia jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Di atas tempat tidur rumah sakit ia berkata kepada anaknya, "Dulu aku mengejar pembeli sehingga sering menunda shalat. Sekarang aku ingin berdiri untuk shalat berjamaah, tetapi tubuhku sudah tidak mampu."

Betapa banyak manusia yang memiliki waktu tetapi tidak memiliki kemauan. Dan ketika kemauan itu datang, waktu telah berlalu.

Karena itu Allah mengingatkan:
"Rijalun la tulhihim tijaratun wa la bai'un 'an dzikrillahi wa iqamish shalah."
"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan shalat." (QS. An-Nur: 37)

Mereka tetap bekerja, tetap berdagang, tetap berusaha, tetapi hati mereka terikat dengan masjid dan waktu-waktu shalat.

Jamaah Jumat yang berbahagia.

Shalat bukan penghalang rezeki. Justru shalat adalah pembuka pintu rezeki dan keberkahan.

Allah berfirman:
"Wa'mur ahlaka bish-shalati wasthabir 'alaiha, la nas'aluka rizqan, nahnu narzuquk." Artinya: 
"Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu." (QS. Thaha: 132)

Maka jangan takut kehilangan rezeki karena shalat. Yang perlu ditakutkan adalah kehilangan keberkahan karena meninggalkan shalat.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita merenungkan satu pertanyaan.
Jika setiap hari kita memiliki waktu untuk bekerja, berbincang, menonton, menggunakan telepon genggam, dan mengurus urusan dunia, mengapa kita merasa berat menyediakan beberapa menit untuk menghadap Allah?

Kelak ketika kita berada di alam kubur, yang pertama kali dihisab adalah shalat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika baik shalatnya maka baik pula seluruh amalnya. Jika rusak shalatnya maka rusak pula seluruh amalnya." (HR. Tirmidzi)

Karena itu, di tengah kesibukan apa pun, jagalah shalat tepat waktu. Ajak keluarga ke masjid. Biasakan anak-anak mencintai shalat. Jangan biarkan dunia mengambil seluruh waktu kita hingga melupakan bekal menuju akhirat.

Ingatlah, pekerjaan akan selesai, jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, tetapi shalat akan menemani kita hingga ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullaha li wa lakum, fastaghfiruhu innahu huwal ghafurur rahim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.

Innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiy. Ya ayyuhalladzina amanu shallu 'alaihi wa sallimu taslima.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.

Allahumma aghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat.
Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.
Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar.

Innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan wa ita'i dzil qurba wa yanha 'anil fahsya'i wal munkari wal baghy. Ya'izhukum la'allakum tadzakkarun.
Fadzkurullaha al-'azhim yadzkurkum, wasykuruhu 'ala ni'amihi yazidkum, waladzikrullahi akbar, wallahu ya'lamu ma tashna'un.

Tidak ada komentar: