SUARANYA LEBIH KERAS
Di sebuah kampung, hiduplah seorang ibu tua yang membesarkan anaknya seorang diri.
Sejak kecil, anak itu sangat cerdas. Sekolahnya tinggi, pekerjaannya bagus, penghasilannya besar. Orang-orang memuji keberhasilannya.
Namun ada satu kebiasaan buruk yang tidak pernah ia tinggalkan.
Setiap kali berbicara dengan ibunya, suaranya selalu lebih keras.
Jika ibunya memberi saran, ia membantah.
Jika ibunya mengingatkan, ia merasa paling benar.
Jika ibunya bertanya, ia menjawab dengan nada tinggi.
Bukan karena ia membenci ibunya. Ia hanya merasa dirinya lebih tahu.
Suatu hari ibunya berkata pelan,
"Nak, Ibu sudah tua. Jika Ibu salah bicara, jangan dibentak. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu."
Anak itu diam. Tetapi kebiasaan itu tidak berubah.
Tahun demi tahun berlalu.
Hingga suatu pagi, ibunya meninggal dunia.
Rumah yang biasanya ramai mendadak sunyi.
Ketika jenazah ibunya dimandikan, anak itu berdiri memandang wajah yang telah terbujur kaku.
Tiba-tiba ia teringat semua perdebatan yang pernah terjadi.
Ia teringat saat meninggikan suara.
Ia teringat saat memotong pembicaraan ibunya.
Ia teringat saat membuat ibunya terdiam karena tidak ingin bertengkar.
Saat itulah dadanya sesak.
Ia mendekat ke wajah ibunya dan berkata sambil menangis,
"Ibu... sekali saja lagi berbicaralah. Kali ini aku akan mendengarkan."
Tetapi yang pergi tidak akan kembali.
Air mata yang mengalir saat itu tidak mampu menghapus satu kalimat kasar pun yang pernah keluar dari mulutnya.
Allah berfirman:
"Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', dan janganlah engkau membentak keduanya..." (QS. Al-Isra': 23)
Para ulama menjelaskan, jika ucapan ringan seperti "ah" saja dilarang, maka membentak, menghardik, atau meninggikan suara kepada orang tua lebih berat lagi dosanya.
Banyak anak menyesal setelah orang tuanya wafat.
Bukan karena kurang memberi uang.
Bukan karena kurang memberi hadiah.
Tetapi karena terlalu banyak membantah dan terlalu sedikit mendengarkan.
Ingatlah.
Suara yang paling keras dalam rumah belum tentu suara yang paling benar.
Kadang-kadang suara yang pelan dari seorang ibu atau ayah lebih dekat kepada kebenaran karena keluar dari hati yang penuh kasih sayang.
Jika hari ini ayah atau ibu masih hidup, cobalah berbicara dengan lembut kepada mereka.
Karena suatu hari nanti, ketika kursi mereka kosong dan kamar mereka sunyi, yang paling sering membuat seseorang menangis bukanlah apa yang pernah dilakukan orang tuanya.
Melainkan kata-kata kasar yang pernah ia ucapkan kepada mereka.
Dan penyesalan seperti itu sering datang ketika sudah terlambat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar