Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 11 Februari 2026

ARTI MEMAAFKAN SESUNGGUHNYA

ARTI MEMAAFKAN SESUNGGUHNYA
Assalamualaika ya Sayyidi ya Rasulullah…

Ada kisah, dua orang bersaudara tidak saling sapa selama belasan tahun hanya karena sengketa tanah warisan. 

Setiap Lebaran mereka saling membelakangi. Hingga suatu hari, sang adik jatuh sakit keras. Di ranjang rumah sakit, ia menangis dan berkata, “Abang, kalau aku mati sebelum kita berbaikan, bagaimana aku menghadap Allah?” Abangnya terdiam… lalu memeluknya. 

Tanah itu tidak lagi penting. Yang penting, hati mereka kembali bersatu. 

Sejak hari itu, rezeki keluarga mereka justru terasa lapang dan hidup lebih tenang.

Kisah di Padang Mahsyar: Keutamaan Memaafkan

Kelak di Padang Mahsyar, ketika manusia berdiri menunggu hisab, Allah SWT mengadili seorang hamba. Ia merasa amalnya cukup banyak. Salatnya ada, sedekahnya ada, puasanya ada. Hatinya pun berharap surga.

Tiba-tiba datang seseorang yang pernah ia zalimi di dunia.
Orang itu berkata,
“Ya Allah, dia pernah menzalimiku. Ambilkan dari pahala kebaikannya untukku.”

Maka Allah Yang Maha Adil memerintahkan agar pahala orang tersebut diberikan. Satu demi satu amalnya berpindah kepada orang yang terzalimi waktu di dunia.

Namun ternyata masih ada lagi orang yang menuntut. Pahalanya hampir habis. Ia gemetar. Ia sadar, jika pahala tak cukup, dosa orang lain bisa ditimpakan kepadanya.

Di tengah ketakutan itu, Allah memperlihatkan sebuah istana yang sangat indah di surga.
Cahaya dan kemuliaannya tak terbayangkan. Orang yang menuntut itu bertanya, “Ya Allah, untuk siapa istana itu?”

Allah berfirman,
“Itu untuk hamba yang mau memaafkan saudaranya.”
Hati orang yang dizalimi itu luluh. Ia berkata,
“Ya Allah, aku telah memaafkannya.”

Maka dengan rahmat-Nya, Allah memasukkan keduanya ke dalam surga.

Renungan untuk Kita
Pertama, memaafkan di dunia jauh lebih ringan daripada menuntut di akhirat.

Di dunia kita masih punya waktu, masih bisa berjabat tangan, masih bisa berkata, “Saya maafkan.” Di akhirat, yang menjadi alat tukar bukan lagi uang atau harta, melainkan pahala.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik terkait kehormatan atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta halal darinya hari ini, sebelum datang hari yang tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Bukhari)

Kedua, memaafkan adalah kemuliaan.

Allah berfirman:
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)

Bukankah kita semua ingin diampuni?

Ketiga, orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan dijanjikan derajat tinggi.

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)

Memaafkan bukan tanda lemah. Memaafkan adalah tanda kuatnya iman.
Mari kita bertanya pada diri sendiri malam ini…

Masih adakah nama yang jika disebut membuat dada kita sesak?

Masih adakah wajah yang jika terbayang membuat hati panas?
Jika ada… mungkin justru di situlah pintu istana kita di surga.

Maafkanlah sebelum kita diminta mempertanggung jawabkannya di Padang Mahsyar. Maafkanlah, agar Allah pun memaafkan kita.

Semoga permaafan yang keluar dari hati kita menjadi sedekah jariyah, yang terus mengalirkan pahala hingga kita berdiri di hadapan-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Tidak ada komentar: