IKHLAS MEMAAFKAN
Cerpen: oleh Ismilianto
Assalamualaika ya Sayyidi ya Rasulullah…
Hujan turun pelan sore itu, seolah ikut menundukkan langit.
Di sudut ruang rumah sakit yang sunyi, seorang lelaki paruh baya terbaring lemah. Napasnya tersengal. Matanya cekung, tapi ada satu hal yang lebih menyakitkan dari penyakit di tubuhnya: penyesalan di dadanya.
Belasan tahun lamanya ia tidak pernah menyebut satu nama.
Nama abang kandungnya sendiri.
Semua berawal dari sebidang tanah warisan.
Tanah yang seharusnya menjadi berkah, justru berubah menjadi tembok pemisah. Kata demi kata melukai. Harga diri meninggi. Ego menang.
Sejak itu, mereka menjadi dua orang asing yang lahir dari rahim yang sama.
Setiap Lebaran, mereka saling membelakangi.
Satu memilih shaf paling depan.
Satu lagi sengaja datang paling akhir.
Tak ada salam.
Tak ada jabat tangan.
Tak ada doa.
Hingga sore itu, ketika penyakit merenggut sisa kekuatannya, sang adik memanggil satu nama yang lama terkunci di dadanya.
“Bang…”
Suaranya pecah.
“Aku takut.”
Abangnya berdiri kaku di samping ranjang. Tak sanggup menatap lama.
“Kalau aku mati sebelum kita berbaikan…”
Air mata jatuh dari sudut mata sang adik.
“Bagaimana aku menghadap Allah dengan hati seperti ini?”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.
Abangnya gemetar. Tangannya bergetar hebat saat menyentuh bahu adiknya.
Tanah itu…
Tiba-tiba terasa sangat kecil.
Sangat tidak berarti.
Ia memeluk tubuh yang dulu sering ia gendong ketika kecil.
Tangisnya pecah.
“Maafkan abang… Maafkan abang…”
Di antara isak, dua hati yang lama retak akhirnya kembali menyatu.
Sejak hari itu, bukan hanya penyakit yang perlahan reda.
Hidup mereka pun terasa lebih lapang.
Rezeki mengalir lebih tenang.
Rumah kembali hangat.
Karena ternyata…
Hati yang berdamai adalah pintu rezeki yang sering kita kunci sendiri.
Namun kisah memaafkan tidak berhenti di dunia.
Kelak, di Padang Mahsyar, ketika manusia berdiri tanpa pelindung, seorang hamba maju dengan wajah penuh harap.
Ia merasa cukup siap.
Salatnya ada. Sedekahnya ada. Puasanya ada.
Namun satu per satu orang datang menuntut.
“Ya Allah, dia pernah menzalimiku.”
Maka pahala berpindah.
Sedikit demi sedikit.
Hingga nyaris habis.
Tubuhnya gemetar.
Ia tahu… jika pahala tak cukup, dosa orang lain akan dipikulnya.
Di tengah ketakutan itu, Allah memperlihatkan sebuah istana di surga.
Indahnya tak bisa dibayangkan oleh bahasa manusia.
“Untuk siapa istana itu?” tanya orang yang menuntut.
“Untuk hamba yang mau memaafkan saudaranya.”
Hatinya luluh.
Ia menunduk.
“Ya Allah… aku telah memaafkannya.”
Dan dengan rahmat-Nya, Allah menyelamatkan keduanya.
Malam ini, mari kita jujur pada diri sendiri.
Masih adakah nama yang membuat dada kita sesak?
Masih adakah wajah yang jika teringat membuat hati panas?
Jika ada…
Mungkin justru di situlah pintu istana kita di surga.
Memaafkan bukan tanda kalah.
Memaafkan adalah kemenangan jiwa.
Maafkanlah di dunia, sebelum pahala menjadi alat tukar di akhirat.
Maafkanlah, agar Allah pun memaafkan kita.
Semoga air mata yang jatuh malam ini menjadi saksi,
bahwa kita memilih memaafkan…
sebelum berdiri sendiri di Padang Mahsyar.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar