Ketika Iman Umat Diukur oleh Tangisan Anak
Oleh: Ismilianto
Di Ngada, seorang anak SD memilih mengakhiri hidupnya.
Bukan karena ia membenci hidup, melainkan karena hidup terasa terlalu berat hanya untuk membeli pulpen dan buku.
Peristiwa ini bukan sekadar tragedi sosial.
Ia adalah alarm iman.
Negeri ini memiliki kementerian yang secara khusus mengurusi iman umat: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Namun iman bukan hanya urusan khutbah, kurikulum madrasah, atau kalender hari besar.
Iman diuji ketika anak-anak kehilangan harapan, dan orang dewasa kehilangan kepekaan.
Allah tidak bertanya berapa program yang kita buat,
tetapi siapa yang kita selamatkan.
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)
Ayat ini tidak berbicara tentang akidah di langit,
melainkan iman yang membumi.
Ketika seorang anak merasa sekolah adalah beban yang memalukan karena kemiskinan, di situlah iman kolektif umat sedang diuji—
BUKAN HANYA OLEH NEGARA, TAPI OLEH LEMBAGA AGAMA, TOKOH AGAMA, DAN KITA SEMUA.
Kisah Nyata di Lapangan
Di banyak daerah, guru madrasah dan penyuluh agama menyimpan cerita pilu.
Ada murid yang datang mengaji tanpa buku.
Ada yang absen bukan karena malas, tapi karena harus membantu orang tua.
Ada yang diam menunduk ketika ditanya cita-cita—karena merasa tidak pantas bermimpi.
Jika Kementerian Agama mengurusi iman umat,
maka anak-anak inilah mihrabnya.
Mereka bukan objek bantuan, tapi tolok ukur keimanan sosial. Antara Negara, Agama, dan Nurani.
Kritik keras mahasiswa kepada Prabowo Subianto lahir dari luka yang sama:
ketika angka-angka berbicara lebih lantang daripada air mata.
Namun sesungguhnya, yang paling sunyi suaranya justru iman yang tidak sampai ke dapur-dapur miskin dan tas sekolah anak-anak.
Negara boleh mengklaim keberhasilan, agama boleh mengklaim kesalehan,
tetapi Allah melihat siapa yang kita biarkan putus asa.
Ya Allah,
jika iman umat kami masih sering berhenti di lisan dan seremoni, ajarkan kami iman yang berjalan, menolong, dan memeluk yang lemah.
Bimbing para pemimpin negeri dan para pengurus agama
agar kebijakan dan dakwah bertemu di satu titik:
menjaga martabat anak-anak negeri.
Jangan Engkau biarkan satu pun anak merasa mati
karena hidup tak lagi memberi harapan.
Aamiin ya rabbal aalamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar