PAGI YANG MENGGELEGAR
Ada kisah Seorang bapak tua bangun setiap pukul tiga pagi. Untuk menunaikan salat dan menangis pelan. Anaknya pernah berkata,
“Pak, kenapa masih sekuat itu berdoa, padahal hidup kita begini-begini saja?”
Sang bapak tersenyum.
“Justru karena hidup kita begini, Nak. Kalau bukan Allah yang aku pegang, aku sudah tumbang sejak lama.”
Beberapa tahun berlalu. Anak itu kini berdiri tegak dengan pekerjaannya karena warisan doa yang tidak pernah putus di waktu subuh.
Ada pula seorang ibu penjual sayur. Dagangannya sering tersisa banyak. Pernah ia pulang dengan tangan gemetar karena uang tak cukup untuk belanja esok hari.
Tapi pagi itu, ia tetap berkata lirih,
“Ya Allah, aku berangkat bukan membawa banyak, tapi membawa percaya pada-Mu.”
Hari itu, seorang pembeli memborong seluruh dagangannya. Orang itu berkata:
“Entah kenapa, pagi ini saya merasa harus belanja di sini.”
Kisah-kisah ini nyata. Tidak viral. Tidak ditulis di berita. Tapi menggema di langit.
Dan dari kisah-kisah inilah kita belajar:
pagi bukan soal semangat palsu, pagi adalah arena keimanan.
Jika pagi ini kita masih diberi napas, itu bukan kebetulan.
Itu tanda Allah masih mempercayai kita menjalani peran hari ini.
Mungkin doa kita belum dikabulkan.
Mungkin hidup masih berat.
Tapi ketahuilah:
Allah tidak pernah membangunkan orang di pagi hari tanpa menyiapkan kekuatan yang cukup untuk menjalaninya.
Maka berdirilah hari ini.
Bukan dengan sombong, tapi dengan yakin.
Bukan dengan banyak kata, tapi dengan niat yang lurus.
Selamat pagi.
Hari ini bukan hari biasa.
Hari ini adalah kesempatan baru untuk menang— dengan cara Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar