PEREMPUAN PENGHUNI SURGA
“Jika seorang perempuan menjaga shalatnya, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya:
‘Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani)
Kalimat Nabi SAW ini singkat, tetapi sangat dalam. Empat amalan disebutkan, namun ganjarannya bukan sekadar surga—melainkan kebebasan memilih pintu surga.
Mari kita kupas satu per satu.
Pertama, menjaga shalat lima waktu.
Shalat disebut pertama karena ia adalah tiang agama. Bukan sekadar dikerjakan, tetapi dijaga: waktunya, kekhusyukannya, dan adabnya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya, mereka itulah yang akan mewarisi surga Firdaus.”
(QS. Al-Mu’minun: 9–11)
Kisah inspiratif:
Diriwayatkan dari para salaf, ada seorang perempuan tua yang hidup sederhana, pakaiannya kasar, rumahnya kecil. Namun ia tidak pernah meninggalkan shalat tepat waktu. Ketika ditanya rahasianya tetap tenang meski hidup pas-pasan, ia menjawab,
“Bagaimana aku tidak tenang, sedangkan aku sudah ‘menghadap Raja’ lima kali sehari?”
Perempuan ini mungkin tak dikenal di bumi, tetapi namanya dikenal di langit.
Kedua, berpuasa Ramadhan.
Puasa adalah ibadah yang melatih kejujuran. Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa kecuali Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah inspiratif:
Seorang ibu rumah tangga, siang hari lelah mengurus anak dan rumah, panas, lapar, dan haus. Namun lisannya tetap berdzikir, tangannya tetap bekerja dengan niat ibadah. Puasanya bukan hanya menahan perut, tetapi juga menahan emosi dan keluh kesah. Puasa seperti inilah yang dicintai Allah.
Ketiga, menjaga kehormatan diri.
Ini mencakup menjaga aurat, pandangan, lisan, pergaulan, dan kesetiaan. Di zaman ketika membuka aurat dianggap biasa, menjaga diri adalah jihad sunyi.
Allah berfirman:
“Dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatannya, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 35)
Kisah inspiratif:
Dalam sejarah Islam, banyak perempuan yang menolak popularitas dan pujian demi menjaga kehormatan. Mereka mungkin tidak viral, tetapi amalnya berat di timbangan. Mereka memilih Allah, meski harus berbeda dari arus zaman.
Keempat, taat kepada suami dalam kebaikan.
Ini sering disalahpahami. Ketaatan di sini bukan perbudakan, tetapi ibadah—selama tidak dalam maksiat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan shalihah.”
(HR. Muslim)
Perempuan shalihah adalah yang menenangkan suaminya ketika dilihat, menjaga dirinya ketika ditinggal, dan taat dalam perkara yang diridhai Allah.
Kisah inspiratif:
Ada istri para sahabat yang hidup serba terbatas, namun tidak pernah mencela suaminya. Ketika suaminya pulang tanpa hasil, ia berkata,
“Kita beribadah kepada Allah, bukan kepada harta.”
Kalimat sederhana ini menjadi sebab rumah tangga mereka dipenuhi sakinah.
Penutup yang mengguncang hati.
Perhatikan, Rasulullah ﷺ tidak menyebut kecantikan, harta, jabatan, atau ketenaran.
Yang disebut hanya:
hubungan dengan Allah (shalat dan puasa),
penjagaan diri,
dan akhlak dalam rumah tangga.
Dan balasannya bukan sekadar “masuk surga”, tetapi:
“Masuklah dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.”
Artinya, surga benar-benar merindukan perempuan seperti ini.
Semoga Allah menjadikan kita, istri-istri kita, anak-anak perempuan kita, dan seluruh muslimah termasuk golongan perempuan yang dipanggil dengan panggilan mulia itu.
Āmīn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar