AL-QUR'AN BERDEBU
Cerpen: oleh Ismilianto
Di sudut ruang tamu rumah itu ada sebuah lemari kecil.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Di dalamnya tersimpan sebuah mushaf Al-Qur’an.
Sampulnya hijau tua.
Tulisan emasnya masih indah.
Tetapi jika seseorang membuka lemari itu perlahan, akan terlihat satu hal yang menyedihkan.
Di atas mushaf itu…
terdapat lapisan debu yang tipis.
Debu yang tidak datang sehari.
Debu itu adalah kumpulan hari-hari yang berlalu.
Hari ketika pemilik rumah berkata,
“Nanti saja aku membaca.”
Hari ketika ia berkata,
“Aku sedang sibuk.”
Hari ketika ia berkata,
“Masih panjang umurku.”
Lelaki itu sebenarnya seorang Muslim.
Ia shalat kadang-kadang.
Ia tidak pernah merasa dirinya jahat.
Tetapi ada satu kebiasaan yang ia tunda terus-menerus.
Membaca Al-Qur’an.
Ramadhan datang.
Suatu malam ia membuka mushaf itu.
Hanya sebentar.
Ia membaca beberapa ayat.
Lalu meletakkannya kembali.
“Besok aku lanjutkan,” katanya.
Tetapi besok itu tidak pernah datang.
Karena beberapa hari kemudian…
ia meninggal dunia.
Tubuhnya terbujur kaku di ruang tengah rumahnya.
Orang-orang datang.
Ia dimandikan.
Air mengalir di tubuhnya yang dingin.
Ia dikafani.
Kain putih membungkus tubuhnya.
Ia dishalatkan.
Doa-doa naik ke langit.
Lalu ia dibawa ke pemakaman.
Tanah digali.
Tubuhnya diturunkan perlahan.
Seseorang membuka simpul kafannya.
Seseorang berkata lirih:
“Bismillah wa ‘ala millati Rasulillah.”
Lalu tanah mulai menutupnya.
Segenggam demi segenggam.
Suara langkah orang-orang perlahan menjauh.
Kuburan itu menjadi sunyi.
Gelap.
Sepi.
Hanya tanah…
dan seorang mayat.
Tak lama kemudian dua malaikat datang.
Wajah mereka tegas.
Suara mereka mengguncang jiwa.
Mereka mendudukkan mayat itu.
Lalu bertanya:
“Siapa Tuhanmu?”
Lelaki itu berusaha mengingat.
Jawabannya sangat mudah.
Ia tahu itu.
Ia pernah mendengarnya ribuan kali.
Tetapi lidahnya tidak bergerak.
Dadanya terasa sesak.
Ia hanya berkata:
“Aku… aku tidak tahu…”
Pertanyaan kedua datang seperti petir.
“Apa agamamu?”
Keringat ketakutan membasahi ruhnya.
Ia kembali berkata:
“Aku tidak tahu…”
Lalu pertanyaan terakhir:
“Siapa nabimu?”
Ia ingin menjawab.
Ia tahu nama itu.
Muhammad.
Tetapi bibirnya gemetar.
Yang keluar hanya suara putus-putus:
“Aku… aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu…”
Malaikat itu memandangnya lama.
Lalu datang hukuman.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang seperti ini akan dipukul dengan palu dari besi.
Satu pukulan saja cukup membuatnya menjerit.
Jeritan itu didengar seluruh makhluk.
Kecuali manusia dan jin.
Jeritannya mengguncang tanah.
Tetapi di dunia…
orang-orang sedang tertidur nyenyak.
Di rumahnya sendiri…
malam itu sunyi.
Angin malam masuk lewat jendela.
Menyentuh lemari kecil di ruang tamu.
Debu di atas mushaf itu bergerak sedikit.
Seolah-olah mushaf itu ingin dibuka.
Seolah-olah ia ingin berkata sesuatu.
Karena selama bertahun-tahun ia hanya menunggu.
Menunggu tangan yang jarang datang.
Menunggu mata yang jarang membaca.
Menunggu hati yang selalu menunda.
Di dalam kubur…
lelaki itu menangis.
Tangisan yang tidak didengar manusia.
Ia berkata dengan penyesalan yang dalam:
“Ya Allah…
seandainya aku bisa kembali satu hari saja…”
“Satu hari saja…”
“Aku akan membuka mushaf itu…
aku akan membaca sampai mataku menangis…”
“Tetapi sekarang semuanya sudah terlambat…”
Di rumahnya…
mushaf itu tetap berada di lemari kecil.
Masih indah.
Masih bercahaya.
Tetapi tetap tertutup.
Debunya semakin tebal.
Dan malam terus berlalu.
Seolah-olah menunggu satu orang lagi.
Seseorang yang nanti akan dimasukkan ke dalam kubur…
dan berkata dengan penyesalan yang sama:
“Ya Allah…
kenapa dulu aku tidak membaca Al-Qur’an…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar