Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 05 Maret 2026

TIGA PERTANYAAN DALAM GELAP Cerpen: oleh Ismilianto

TIGA PERTANYAAN DALAM GELAP
Cerpen: oleh Ismilianto

Sore itu tanah masih basah.
Langit tampak redup ketika orang-orang berdiri mengelilingi liang kubur.

Doa dibaca pelan.
“Allahummaghfir lahu…”
“Semoga dilapangkan kuburnya…”
Tanah mulai dijatuhkan.
Sekop demi sekop.
Suara tanah yang jatuh ke papan penutup kubur terdengar seperti ketukan pelan yang menutup sebuah kehidupan.

Tak lama kemudian gundukan tanah selesai.
Batu nisan ditancapkan.
Air disiramkan.
Orang-orang perlahan pulang.
Langkah sandal mereka menjauh dari kuburan itu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin jauh.
Di dalam tanah itu… seseorang mendengarnya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan para pengantarnya telah pergi, ia mendengar suara sandal mereka.” (HR Bukhari no. 1338, Muslim no. 2870)

Ia mendengar semuanya.
Sampai akhirnya…
sunyi.
Gelap.
Tanah yang dingin memeluk tubuhnya. Ia ingin bangun.
Tetapi tubuhnya kaku.
Ia ingin memanggil seseorang.
Tetapi tidak ada suara yang keluar.

Tiba-tiba tanah terasa bergerak. Dua makhluk berdiri di hadapannya.
Wajah mereka tegas.
Tatapan mereka tajam.
Mereka adalah malaikat.

Para ulama menyebut mereka Munkar dan Nakir. Salah satu dari mereka bersuara.

Suara yang mengguncang seluruh kesadarannya.
“Man rabbuka?”
Siapa Tuhanmu?
Ia terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Terlalu sederhana.
Tetapi hatinya kosong.
Ia mencoba mengingat hidupnya.

Dulu ia pernah salat.
Kadang ketika sempat saja. 
Sering kali ia menunda.
Sering kali ia berkata, “Nanti saja.”

Ia mencoba menjawab.
Tetapi lidahnya terasa berat seperti batu.
“Aku… aku…”
Tidak ada kata keluar.

Malaikat itu bertanya lagi.
Lebih keras.
“Man rabbuka?”
Ia gemetar.
Akhirnya keluar kalimat yang membuat langit dan bumi seolah menahan napas.
“Aku… tidak tahu…”

Kubur menjadi semakin dingin.
Malaikat kedua maju.
“Maa diinuka?”
Apa agamamu?
Ia mencoba mengingat.
Di dunia ia Islam.
Namanya Islam.
Keluarganya Islam.
Tetapi hidupnya… dipenuhi banyak hal selain Islam.

Hari-harinya habis untuk urusan dunia.
Berita.
Percakapan.
Kesibukan.
Tetapi mushaf Al-Qur'an di rumahnya sering tertutup debu.

Ia ingin menjawab.
Tetapi hatinya kosong.
“Aku… tidak tahu…”

Pertanyaan terakhir datang seperti petir yang membelah langit gelap kubur.
“Man nabiyyuka?”
Siapa nabimu?
Nama itu sebenarnya dekat.
Muhammad SAW.
Tetapi ia jarang mengenalnya.
Jarang membaca kisahnya.
Jarang bershalawat kepadanya.
Jarang meneladani hidupnya.
Ia ingin menjawab.
Tetapi yang keluar hanyalah kalimat paling menyedihkan yang pernah diucapkan manusia di dalam kubur.
“Aku… hanya mengikuti apa yang orang-orang katakan…”

Persis seperti yang disebutkan Rasulullah SAW:
“La adri… la adri… kuntu aqulu maa yaqulun naas.”
“Aku tidak tahu… aku tidak tahu… aku hanya mengikuti apa yang orang-orang katakan.” (HR Bukhari no. 1374)

Sunyi sekali. Lalu tiba-tiba suara dari langit menggema.
Suara yang membuat bumi seakan bergetar.

“Dia dusta.”
Saat itu kubur berubah.
Tanah yang tadi diam mulai menekan tubuhnya.
Perlahan.
Semakin sempit.
Semakin sempit.
Sampai tulang rusuknya saling berhimpitan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Kuburnya disempitkan sampai tulang rusuknya saling berhimpitan.” (HR Ahmad, Tirmidzi)

Ia menjerit.
Tetapi jeritan itu tidak didengar manusia.
Lalu malaikat membawa sesuatu yang mengerikan.
Sebuah palu besar dari besi.

Rasulullah SAW bersabda:
“Didatangkan kepadanya palu dari besi, lalu ia dipukul satu kali pukulan sehingga ia menjerit dengan jeritan yang didengar semua makhluk kecuali manusia dan jin.”
(HR Bukhari no. 1374)

Palu itu diangkat.
Lalu dihantamkan.
Satu pukulan.
Jeritannya mengguncang alam.

Burung di langit mendengarnya.
Binatang di bumi mendengarnya.
Tetapi manusia… tidak.

Dunia di atas kubur tetap tenang. Orang-orang sedang makan malam. Anak-anak sedang tertawa.
Lampu rumah menyala.
Tidak ada yang tahu…
bahwa di bawah tanah itu seseorang sedang menyesali seluruh hidupnya.

Lalu kepadanya diperlihatkan sesuatu yang lebih menakutkan. Sebuah pintu dibuka di kuburnya. Lalu API terlihat di kejauhan, NERAKA. 
Itulah tempatnya di neraka.

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap pagi dan petang diperlihatkan kepadanya tempatnya di neraka.”
(HR Bukhari no. 1379, Muslim no. 2866)

Api itu tidak menyentuhnya.
Tetapi ia tahu.
Suatu hari nanti setelah dihisab ia akan berada di sana.

Dan kubur itu menjadi sempit… gelap… menekan… tanpa akhir.

Ia baru mengerti sesuatu yang terlambat.
Dulu ia bisa membaca banyak hal.
Ia membaca berita.
Ia membaca komentar.
Ia membaca pesan setiap hari.
Tetapi ia jarang membaca Al-Qur'an.
Padahal kitab itu turun untuk menyelamatkannya.

Kini semuanya terlambat.
Gelap menjadi temannya.
Dan tiga pertanyaan itu terus bergema dalam kubur yang sempit.
Siapa Tuhanmu?
Apa agamamu?
Siapa nabimu?

Pertanyaan yang dulu sangat mudah dijawab di dunia…
tetapi kini menjadi jurang yang tidak bisa ia lewati.

Dan di atas tanah itu…
angin malam berhembus pelan.
Seolah membawa pesan bagi siapa saja yang masih hidup:
SUATU HARI… KITA SEMUA AKAN MENDENGAR TIGA PERTANYAAN YANG SAMA.

Tidak ada komentar: