Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 04 November 2026

KHUTBAH JUMAT Jangan Sampai Kita Menang Di Dunia, Tetapi Kalah Di Hadapan Allah!

KHUTBAH JUMAT

I. KHUTBAH PERTAMA
A. MUKADIMAH

Alhamdulillahi Rabbil 'alamin. Nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruhu, wa na'udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi'ati a'malina. 

May yahdihillahu fala mudhilla lah, wa may yudhlil fala hadiya lah.

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad, wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Amma ba'du.
Ushiikum wa iyyaya bitaqwallah, faqad fazal muttaqun.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Judul: Jangan Menang Di Dunia, Tetapi Kalah Di Hadapan Allah!

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah dalam iman, memperbanyak amal saleh, dan mengakhiri kehidupan dalam keadaan husnul khatimah.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama.

Sudah berapa lama kita hidup di dunia? 
Dan sudah seberapa banyak bekal yang kita persiapkan untuk kehidupan akhirat?

Kita bekerja keras mencari kekayaan, membangun rumah, mengejar jabatan, dan mengumpulkan harta.

Namun,  Sudahkah kita bekerja keras untuk mendapatkan ridha Allah?

Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun kehidupan dunia, tetapi lupa membangun kehidupan akhirat.

Jangan sampai kita menang dalam persaingan dunia, tetapi kalah ketika berdiri di hadapan Allah SWT.

Allah berfirman dalam Al Hanya ayat 18:

Ya ayyuhalladzina amanuttaqullaha waltanzhur nafsum ma qaddamat lighad, wattaqullah, innallaha khabirum bima ta'malun.
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."

Ayat ini mengingatkan kita agar selalu melakukan muhasabah, mengevaluasi diri, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada tiga perkara penting yang harus kita persiapkan.

Pertama, jagalah shalat sebelum datang penyesalan.

Jangan pernah menganggap shalat sebagai beban kehidupan.

Shalat adalah kebutuhan jiwa, kewajiban seorang muslim, dan salah satu amalan pertama yang akan diperhitungkan pada hari kiamat.

Jangan karena sibuk bekerja kita meninggalkan shalat.
Jangan karena mengejar rezeki kita melupakan pemberi rezeki.
Jangan menunggu tua untuk rajin ke masjid, sebab tidak semua orang diberi kesempatan mencapai usia tua.

Rasulullah SAW bersabda: 
Inna awwala ma yuhasabu bihi al-'ab du yaumal qiyamati min 'amalihi shalatuhu.

Artinya: Sebesar apa pun dosa kita, pintu taubat Allah tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.  ( HR Tirmidzi no 413).

Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53:

Qul ya 'ibadiyalladzina asrafu 'ala anfusihim la taqnathu mir rahmatillah, innallaha yaghfirudz dzunuba jami'a, innahu huwal ghafurur rahim.

Artinya: Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Maka basahilah lisan kita dengan istighfar:
Astaghfirullahal 'azhim wa atubu ilaih.

Jangan hanya sibuk menghitung harta, tetapi hitunglah juga dosa dan amal kita.

Ketiga, perbaikilah hubungan dengan sesama manusia.
Jangan merasa sudah menjadi orang saleh apabila kita masih gemar menyakiti hati orang lain.

Jangan merasa ibadah kita sempurna apabila lisan kita masih dipenuhi fitnah, ghibah, dan perkataan yang menyakitkan.

Jika pernah menyakiti, mintalah maaf. Jika pernah mengambil hak orang lain, kembalikanlah.

Sebab, pada hari kiamat, harta dan jabatan tidak dapat digunakan untuk menebus pengampunan atas kezaliman kita.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita bayangkan sejenak perjalanan hidup kita.
Suatu saat rumah yang kita banggakan akan kita tinggalkan.
Harta yang kita kumpulkan akan diwariskan.

Jabatan yang kita perjuangkan akan digantikan.
Orang-orang yang kita cintai akan mengantarkan kita ke pemakaman, kemudian pulang meninggalkan kita.

Lalu apa yang menemani kita?
Iman dan amal saleh.

Karena itu, jangan menunda kebaikan selagi masih diberi umur, dan perbaikilah shalat kita dengan shalat berjamaah di mesjid. 

Selagi masih diberi kesehatan, perbanyaklah sedekah.

Selagi masih diberi kesempatan, perbanyaklah membaca Al-Qur'an.

Selagi masih ada waktu, perbaikilah hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Jangan sampai penyesalan datang ketika kesempatan sudah tidak ada lagi.


Barakallahu li wa lakum fil Qur'anil 'azhim, wa nafa'ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadzikril hakim.
Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullahal 'azhima li wa lakum, fastaghfiruhu, innahu huwal ghafurur rahim.


KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih, kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa.

Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah. 
Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

Innallaaha wa malaa-ikatahu yushalluuna 'alan-nabiyy. Yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa. 

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Allahummaghfir lil-muslimiina wal-muslimaat, wal-mu’miniina wal-mu’minaat, al-ahyaa’i minhum wal-amwaat, waq dhial haa jaat.

Allahumma innaa nas’aluka rizqan halaa lan thayyiban, 
wa qalban salii man, wa lisaa nan shaa diqan.

Allahummaghfir dzunuubanaa, wa kaffir ‘annaa sayyi’aatinaa, wa thah hir quluu banaa.

Allahumma baa rik lanaa fii arzaa qinaa, wa baa rik lanaa fii ahlii naa, wa baarik lanaa fii a’maa rinaa.

Ya Allah, jadikan rezeki kami rezeki yang halal dan penuh keberkahan.

Jauhkanlah kami dari harta yang haram. 

Ya Allah, jagalah lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah, dan ucapan yang menyakiti.

Ya Allah, bersihkan hati kami dari iri, dengki, sombong, dendam dan segala penyakit hati.

Ampunilah dosa kami.
Dan dosa kedua orang tua kami.

Ampunilah dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.

Ya Allah, bagi saudara-saudara kami yang sedang sakit, berikan kesembuhan.

Bagi yang sedang mengalami kesulitan, mudahkan urusannya.

Bagi yang sedang berutang, berikan kemampuan mereka untuk melunasinya.

Bagi yang sedang mencari rezeki, bukakan pintu rezeki yang halal dan berkah.

Bagi keluarga kami, jadikan mereka keluarga yang mencintai Al-Qur’an, mencintai shalat, mencintai kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.


Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.

‘Ibā dallah, innallaaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsaani wa iitaa ’idzil-qurbaa, wa yanhaa ‘anil-fahsyaa ’i wal-munkari wal-baghy. 

Ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.
Fadzkurullaaha yadzkurkum, wasykuruuhu ‘alaa ni’amihi yazidkum, wa la dzikrullaahi akbar, wallaahu ya’lamu maa tash na’uun.

Aqi mish-shalaah.... 


Kamis, 24 September 2026

KHUTBAH JUMAT KHUTBAH PERTAMA

KHUTBAH JUMAT

KHUTBAH PERTAMA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh. 

Wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. 

May yahdihillahu fala mudhillalah, wa may yudhlil fala hadiyalah.

Fa qala fi kitabihil karim:
“Yaa ayyuhalladzi na aamanut taqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.”

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, la nabiyya ba’dah.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Amma ba’du.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Judul: BERSIHKAN REZEKI, JAGA LISAN, BERSIHKAN HATI

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Jalankan perintah-Nya dan tinggalkan segala larangan-Nya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Saya ingin mengawali khutbah ini dengan sebuah kisah.

Suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memakan makanan yang diberikan kepadanya. Setelah makanan itu dimakannya, beliau baru mengetahui bahwa makanan tersebut berasal dari penghasilan yang tidak halal.

Apa yang dilakukan Abu Bakar?
Beliau berusaha mengeluarkan makanan tersebut karena takut sesuatu yang haram menetap di dalam tubuhnya.
Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Coba kita bertanya kepada diri sendiri:
Kalau Abu Bakar begitu takut terhadap sesuap makanan yang tidak halal, bagaimana dengan kita?

Jangan sampai kita sangat teliti memilih makanan yang masuk ke mulut, tetapi tidak teliti memilih sumber uang yang digunakan untuk membelinya.

Allah berfirman:
Yaa ayyuhannaasu kuluu mimmaa fil-ardhi halaalan thayyiban wa laa tattabi'uu khuthuwaa tisysyaithaan, innahuu lakum 'aduwwum mubiin.
Artinya: 
“Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 168)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Harta yang diperoleh dengan menipu, mengambil hak orang lain, korupsi, riba, suap, atau cara-cara batil itu tidak halal.

Allah berfirman:
Wa laa ta' kuluu amwaa lakum bainakum bil-baathili wa tudluu bihaa ilal-hukkaami lita'kuluu fariiqam min amwaalinnaasi bil-itsmi wa antum ta' lamuun. 
Artinya: 
“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 188)

Karena itu, rezeki halal adalah bagian dari ketakwaan.

Rasulullah SAW mengingatkan tentang seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, ia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata, “Ya Rabb, Ya Rabb.”
Namun makanan, minuman, pakaian dan rezekinya berasal dari yang haram.

Rasulullah SAW bersabda:
Annaa yustajaa bu lidzaa lik?
Artinya: 
“Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”
(HR. Muslim)

Maka jangan hanya bertanya:
“Mengapa doa saya belum terkabul?”
Tanyakan juga:
“Sudahkah saya memeriksa rezeki saya?”

Hadirin yang dimuliakan Allah

Kita juga harus menjaga apa yang keluar dari mulut kita.

Allah berfirman:
Maa yal fizhu min qaulin illaa ladaihi raqii bun atiid.
Artinya: 
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)

Rasulullah SAW bersabda:
Man kaa na yu'minu billaahi wal yaumil aakhiri falyaqul khairan au liyas mut.
Artinya: 
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Lisan memang kecil.
Tetapi dosa yang dilahirkannya bisa sangat besar.
Satu kalimat bisa menghancurkan rumah tangga.
Satu ucapan bisa memutuskan persaudaraan.
Satu fitnah bisa menghancurkan kehormatan seseorang.
Satu ghibah bisa membuat kita membawa dosa yang tidak terasa ketika mengucapkannya.

Allah berfirman:
Wa laa yagh tabba' dhukum ba'dhaa. A yuhibbu ahadukum ay ya' kula lahma akhiihi maitan fakarih tumuuh. Wattaqullah. Innallaaha taw waa bur rahiim.
Artinya: 
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Perhatikan gambaran yang diberikan Allah.
Ghibah disamakan dengan memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal.

Mengapa begitu mengerikan?

Karena orang yang menjadi korban ghibah tidak berada di hadapan kita untuk membela dirinya.
Kita berbicara ketika dia tidak ada.
Dan Allah mendengar semuanya.

Jamaah jumat yang dirahmati Allah,

Kadang kita merasa dosa itu hanya sesuatu yang besar.
Padahal dosa kecil yang terus diulang juga berbahaya.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika seorang hamba melakukan dosa, muncul noda pada hatinya. Jika ia bertaubat, noda itu dihapus. Tetapi jika ia kembali melakukan dosa, noda itu bertambah.

Allah berfirman:
Kallaa bal raa na 'alaa quluu bihim maa kaa nuu yaksibuun.
Artinya: 
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Inilah yang harus kita takutkan.
Yaitu kehilangan kepekaan hati.

Awalnya berbuat dosa merasa takut.
Kemudian dosa diulang.
Lama-lama dosa terasa biasa.

Awalnya berbohong merasa bersalah.
Kemudian berbohong menjadi kebiasaan.

Awalnya ghibah merasa berdosa.
Kemudian ghibah menjadi bahan hiburan.

Awalnya menyakiti orang membuat kita meminta maaf.
Kemudian kita tidak lagi peduli.
Itulah tanda bahwa hati harus segera diselamatkan.

Jamaah jumat  yang dimuliakan Allah,

Maka hari ini mari kita periksa tiga pintu kehidupan kita.

Pertama, apa yang masuk ke perut kita.
Pastikan halal dan baik.

Kedua, apa yang keluar dari lisan kita.
Pastikan benar, baik dan bermanfaat.

Ketiga, apa yang tinggal di dalam hati kita.
Jangan biarkan iri, dengki, sombong, dendam dan dosa terus menetap.

Jangan sampai kita membersihkan rumah, tetapi tidak membersihkan hati.

Jangan sampai kita mengganti pakaian setiap hari, tetapi tidak pernah mengganti kebiasaan buruk.

Jangan sampai kita menjaga muka agar terlihat bersih di hadapan manusia, tetapi membiarkan hati kotor di hadapan Allah.

Mari bertaubat sebelum hati menjadi keras.

Mari meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.

Mari kembalikan hak orang yang pernah kita ambil.

Mari tinggalkan penghasilan yang tidak halal.

Mari hentikan ghibah.

Mari berhenti menyebarkan fitnah.

Mari belajar diam ketika perkataan kita tidak membawa kebaikan.

Karena Rasulullah SAW telah mengingatkan:
Al-muslimu man salimal-muslimuu na min lisaa nih wa yadih. 

Artinya: 
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah menjadikan rezeki kita halal, lisan kita terjaga, dan hati kita bersih.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sekali lagi saya berwasiat kepada kita sekalian:
Bertakwalah kepada Allah.
Jaga rezeki.
Jaga lisan.
Jaga hati.
Jangan remehkan sesuap makanan yang haram.
Jangan remehkan uang yang diperoleh dengan cara yang batil.
Jangan remehkan satu kalimat yang menyakiti hati orang lain.

Karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Mari setelah kita pulang dari masjid ini dengan tekad:

Yang masuk ke perut kita harus halal.
Yang keluar dari lisan kita harus baik.
Yang tinggal di hati kita harus bersih.

Aqoolu qouli haadza, wa astaghfirullaaha lii wa lakum, fastaghfiruuhu innahuu huwal-ghafuurur-rahiim.


KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih, kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa.

Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah. 
Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

Innallaaha wa malaa-ikatahu yushalluuna 'alan-nabiyy. Yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa. 

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Allahummaghfir lil-muslimiina wal-muslimaat, wal-mu’miniina wal-mu’minaat, al-ahyaa’i minhum wal-amwaat, waq dhial haa jaat.

Allahumma innaa nas’aluka rizqan halaa lan thayyiban, 
wa qalban salii man, wa lisaa nan shaa diqan.

Allahummaghfir dzunuubanaa, wa kaffir ‘annaa sayyi’aatinaa, wa thah hir quluu banaa.

Allahumma baa rik lanaa fii arzaa qinaa, wa baa rik lanaa fii ahlii naa, wa baarik lanaa fii a’maa rinaa.

Ya Allah, jadikan rezeki kami rezeki yang halal dan penuh keberkahan.

Jauhkanlah kami dari harta yang haram. 

Ya Allah, jagalah lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah, dan ucapan yang menyakiti.

Ya Allah, bersihkan hati kami dari iri, dengki, sombong, dendam dan segala penyakit hati.

Ampunilah dosa kami.
Dan dosa kedua orang tua kami.

Ampunilah dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.

Ya Allah, bagi saudara-saudara kami yang sedang sakit, berikan kesembuhan.

Bagi yang sedang mengalami kesulitan, mudahkan urusannya.

Bagi yang sedang berutang, berikan kemampuan mereka untuk melunasinya.

Bagi yang sedang mencari rezeki, bukakan pintu rezeki yang halal dan berkah.

Bagi keluarga kami, jadikan mereka keluarga yang mencintai Al-Qur’an, mencintai shalat, mencintai kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.


Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.

‘Ibā dallah, innallaaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsaani wa iitaa ’idzil-qurbaa, wa yanhaa ‘anil-fahsyaa ’i wal-munkari wal-baghy. 

Ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.
Fadzkurullaaha yadzkurkum, wasykuruuhu ‘alaa ni’amihi yazidkum, wa la dzikrullaahi akbar, wallaahu ya’lamu maa tash na’uun.

Aqi mish-shalaah.... 


Rabu, 23 September 2026

KHUTBAH PERTAMA ( 25 Sep 2026)

KHUTBAH PERTAMA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Judul: BERSIHKAN REZEKI, JAGA LISAN, BERSIHKAN HATI


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruh. Wa na’udzu billahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi-aati a’maalinaa.
Asyhadu alla ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in.
Ammaa ba’du.
Fayaa ‘ibaadallaah, ittaqullah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Laksanakan perintah-Nya dan tinggalkan larangan-Nya.
Pada kesempatan ini, marilah kita renungkan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan kita:
Apa yang masuk melalui mulut kita, dan apa yang keluar dari mulut kita.
Yang pertama adalah makanan dan rezeki.
Yang kedua adalah perkataan dan lisan.

Allah SWT berfirman:
“Yaa ayyuhan naasu kuluu mimmaa fil-ardhi halaalan thayyiban.”
“Wahai manusia! Makanlah dari apa yang terdapat di bumi yang halal lagi baik.”
(QS Al-Baqarah: 168)

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah,

Halal bukan hanya soal apa yang kita makan.
Tetapi juga dari mana kita mendapatkannya.
Ayamnya halal, tetapi kalau dibeli dengan uang hasil mencuri, menipu, korupsi atau mengambil hak orang lain, maka sumber hartanya menjadi masalah.

Allah berfirman:
“Wa laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil-baathili.”
“Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.”
(QS Al-Baqarah: 188)

Rasulullah SAW bersabda tentang seseorang yang berdoa kepada Allah, tetapi makanan, minuman, pakaian dan kebutuhannya berasal dari yang haram:
“Fa annaa yustajaabu lidzaalik?”
“Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”
(HR Muslim)

Maka jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak rezeki saya?”
Tetapi tanyakan:
“Halalkah rezeki saya?”
Karena yang kita cari bukan hanya banyaknya rezeki.
Kita mencari keberkahannya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Yang kedua adalah lisan.
Allah berfirman:
“Maa yalfizhu min qawlin illaa ladaihi raqiibun ‘atiid.”
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang selalu mencatat.” (QS Qaf: 18)

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Maka jangan ringan mengucapkan:
“Cuma bercanda.”
“Cuma cerita.”
“Memang benar kok.”
Kalau perkataan itu merendahkan, menyakiti, membuka aib atau menghancurkan kehormatan seseorang, maka kita harus berhati-hati.
Terlebih lagi ghibah dan fitnah.

Allah berfirman:
“Walaa yaghtab ba’dhukum ba’dhaa.”
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”

Kemudian Allah berfirman:
“A-yuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhiihi maytan fakarihtumuuh.”
“Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.”
(QS Al-Hujurat: 12)

Allahu Akbar.
Ghibah digambarkan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati.
Jamaah rahimakumullah,
Mengapa kita harus sangat menjaga lisan?
Karena dosa dapat meninggalkan titik hitam di hati.

Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seorang hamba melakukan dosa, ditorehkan pada hatinya satu titik hitam. Jika ia bertaubat, hatinya dibersihkan. Tetapi jika ia mengulangi dosa, titik itu bertambah.” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Allah berfirman:
“Kallaa bal raana ‘alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.”
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka.”
(QS Al-Muthaffifin: 14)

Awalnya satu titik.
Kemudian bertambah.
Dosa diulang.
Ghibah diulang.
Dusta diulang.
Fitnah diulang.
Makanan haram terus dimakan.
Akhirnya hati menjadi keras.
Yang dahulu membuat kita takut, menjadi biasa.
Yang dahulu membuat kita malu, menjadi bahan tertawaan.
Yang dahulu membuat kita menangis karena dosa, akhirnya tidak lagi terasa.
Inilah yang harus kita takuti.
Bukan hanya banyaknya dosa.
Tetapi ketika hati sudah tidak merasa bahwa dosa itu dosa.
Karena itu, jangan tunggu hati menjadi keras.

Kalau pernah mengambil hak orang lain, kembalikan.
Kalau rezeki kita berasal dari jalan yang salah, perbaiki.
Kalau pernah menggunjing, hentikan.

Kalau pernah memfitnah, perbaiki kerusakan yang telah kita timbulkan.

Kalau pernah menyakiti seseorang dengan lisan, minta maaf jika itu menjadi jalan perbaikan.
Dan perbanyak istighfar.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita ingat empat kalimat ini:
Sebelum makan: pastikan halal.
Sebelum menerima uang: pastikan halal.
Sebelum berbicara: pastikan baik.
Sebelum membicarakan orang lain: tanyakan apakah Allah ridha.

Semoga Allah menjadikan rezeki kita halal dan berkah, lisan kita lembut dan terjaga, serta hati kita bersih dari noda dosa.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Aquulu qaulii haadza, wa astaghfirullaahal ‘azhiim lii wa lakum, fastaghfiruuh. Innahuu huwal ghafuurur rahiim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin.
Fayaa ‘ibaadallaah, ittaqullah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah.
Jagalah rezeki kita dari yang haram.
Jagalah lisan kita dari dusta, ghibah, fitnah dan perkataan yang menyakitkan.
Sebab Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Ya Allah, bersihkan hati kami dari noda dosa.
Ya Allah, halal dan berkahilah rezeki kami.
Ya Allah, jauhkan kami dari harta yang haram dan syubhat.
Ya Allah, jagalah lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah, namimah dan perkataan yang menyakiti.
Ya Allah, jika kami pernah mengambil hak orang lain, berikan kami kekuatan untuk mengembalikannya.
Jika kami pernah menyakiti saudara kami, berikan kami keberanian untuk memperbaikinya.
Jika hati kami telah ternoda dosa, bersihkanlah.
Jika hati kami mulai keras, lembutkanlah.
Jika kami jauh dari-Mu, dekatkanlah kami kembali kepada-Mu.
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa.
Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.
‘Ibādallaah, innallaaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa iitaa-idzil qurbaa, wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghy. Ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.
Fadzkurullaahal ‘azhiim yadzkurnaa, wasykuruuhu ‘alaa ni’amihii yazidkum, was’aluhu min fadlihi yu’thikum, wa ladzikrullaahi akbar, wallaahu ya’lamu maa tashna’uun.
Shallallahu ‘ala Muhammad.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sabtu, 19 September 2026

KHUTBAH JUMAT (25 September 2026)

KHUTBAH JUMAT 
(25 September 2026) 

KHUTBAH PERTAMA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. 

May yahdihillahu fala mudhillalah, wa may yudhlil fala hadiyalah. 

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh laa nabiya ba'da.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Amma ba’du.

Faya ayyuhalladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun.

Judul: JIKA ISTIGHFAR SUDAH, SHALAWAT SUDAH, MENGAPA MASIH BERAT TAAT?

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa.
Takwa bukan hanya banyak mengucapkan istighfar.
Takwa bukan hanya banyak bershalawat.
Takwa bukan hanya rajin menghadiri pengajian.

Tetapi TAKWA ADALAH KETIKA HATI TUNDUK, LISAN DIJAGA, MAKANAN DIPERIKSA, HARTA DIBERSIHKAN, DAN PERINTAH ALLAH BENAR-BENAR KITA KERJAKAN.

Jamaah jumah yang dimuliakan Allah.

Ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri.

Kita sudah banyak istighfar, mengapa masih berat meninggalkan dosa?

Kita sudah banyak bershalawat, mengapa hati masih berat ketika mendengar panggilan shalat?

Kita sudah sering mendengar nasihat agama, tetapi mengapa kaki masih terasa berat menuju masjid?

Kita sudah berdoa agar dekat dengan Allah, tetapi mengapa maksiat justru terasa ringan dilakukan?

Oleh karena itu, Mari kita periksa dalam kehidupan kita:

Apa yang masuk ke dalam perut kita?

Dan... apa yang terucap dari lisan kita?

Allah SWT berfirman:
"Ya ayyuhar-rusulu kulu minath-thayyibati wa'malu shalihan, inni bima ta'maluna 'alim."
Artinya:
"Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Mu’minun: 51)

Perhatikan ayat ini.
Allah menghubungkan makan yang baik dengan amal yang baik.
Seolah-olah Allah mengingatkan kita:
Periksa apa yang masuk ke tubuhmu sebelum bertanya mengapa tubuhmu berat melakukan kebaikan.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Rasulullah SAW bersabda:
"Innallaha thayyibun la yaqbalu illa thayyiba."
Artinya:
"Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik."

Kemudian Nabi SAW menyebutkan seseorang yang berdoa kepada Allah dengan penuh kesungguhan, tetapi makanan, minuman, pakaian, dan sumber penghidupannya berasal dari yang haram.

Lalu Nabi SAW menggambarkan keadaan itu dengan pertanyaan:
"Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?" (HR Muslim No. 1015)

Jamaah jumah yang dirahmati Allah.

Ini bukan berarti setiap orang yang sedang sulit beribadah pasti memperoleh makanan haram.
Tidak.
Kesulitan dalam beribadah bisa memiliki banyak sebab.

Tetapi hadis ini mengajarkan kepada kita satu hal yang sangat penting:
Jangan pernah meremehkan persoalan halal dan haram dalam mencari rezeki.

Jangan sampai tangan kita mengangkat doa kepada Allah...
sementara tangan yang sama pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Jangan sampai mulut kita mengucapkan:
"Astaghfirullah..."
tetapi mulut yang sama masih ringan memfitnah.

Jangan sampai lidah kita basah dengan shalawat...
tetapi setelah itu basah pula dengan ghibah, dusta, hinaan, dan menyakiti hati orang lain.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Istighfar bukan sekadar ucapan.
Istighfar berarti memohon ampun dan kembali kepada jalan Allah.

Kalau kita berkata "Astaghfirullah", lalu sengaja mengulangi kezaliman tanpa penyesalan dan usaha memperbaiki diri, kita perlu bertanya:
Apa yang sedang kita minta ampunkan?

Demikian pula shalawat.
Shalawat adalah amalan yang mulia.
Rasulullah SAW bersabda:
"Man kana yu'minu billahi wal-yaumil-akhir falyaqul khairan au liyasmut."
Artinya:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR Muslim No. 47a–48)

Maka hari ini mari kita periksa lidah kita.

Berapa banyak orang yang terluka karena ucapan kita?

Berapa banyak nama orang yang kita bicarakan ketika orangnya tidak ada?

Berapa banyak aib yang kita buka?

Berapa banyak berita yang kita sebarkan tanpa memeriksa kebenarannya?

Berapa banyak kalimat yang kita ucapkan dalam keadaan marah, lalu baru kita sesali setelah hati orang lain terluka?

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah.

Ada makanan yang masuk melalui mulut.
Ada pula "makanan" untuk hati yang masuk melalui telinga dan mata.

Apa yang kita dengar?
Apa yang kita lihat?
Apa yang kita baca?
Apa yang kita tonton?
Karena hati juga bisa menjadi kotor.

Maka kalau kita merasa semakin jauh dari Allah, maka mari periksa sumber rezeki kita. 

Periksa transaksi.
Periksa amanah.
Periksa hak orang lain.
Dan yang tidak kalah penting:
periksa lisan kita, sudah sopan atau selalu menyakitkan orang lain.

Mungkin hati kita masih dipenuhi sesuatu yang harus kita bersihkan.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Mari kita pulang hari ini dengan satu tekad:
Yang masuk perut kita harus halal.
Ucapan harus baik.
Yang dikerjakan harus taat.

Jangan biarkan perut kita tumbuh dari sesuatu yang  haram.
Jangan biarkan lidah kita menjadi jalan orang lain terluka.
Dan jangan biarkan istighfar hanya menjadi suara di bibir, sementara dosa tetap kita pelihara dalam kehidupan.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Mari kita periksa tiga hal dalam kehidupan kita.
Pertama, sumber makanan kita.
Halalkah?
Bersihkah?
Adakah hak orang lain di dalamnya?

Kedua, sumber rezeki kita.
Apakah diperoleh dengan cara yang Allah ridai?
Apakah ada kezaliman, penipuan, pengkhianatan, atau mengambil sesuatu yang bukan hak kita?

Ketiga, ucapan kita.
Apakah yang keluar dari mulut kita membawa pahala atau justru menjadi dosa?

Sebab kadang-kadang kita sibuk menghitung berapa kali kita mengucapkan istighfar...
tetapi lupa menghitung berapa orang yang kita sakiti dengan ucapan.

Kita menghitung berapa kali bershalawat...
tetapi lupa menghitung berapa kali kita menjelekkan orang lain.
Kita menghitung berapa rakaat shalat sunnah...
tetapi lupa memeriksa apakah rezeki yang kita makan sudah halal.
Maka mulai hari ini, jangan hanya bertanya:
"Sudah berapa banyak saya berdzikir?"
Tetapi tanyakan juga:
"Sudah sebersih apa rezeki saya?"
"Sudah sebersih apa lisan saya?"
"Sudah sebaik apa akhlak saya?"

Semoga Allah membersihkan rezeki kita, membersihkan hati kita, menjaga lisan kita, dan memberikan kepada kita kekuatan untuk taat kepada-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Aquulu qauli hadza, wa astaghfirullah lii wa lakum, fastaghfiruh innahu huwal ghafuurur rahiim.

KHUTBAH KEDUA


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wasshalatu wassalamu ‘ala Sayyidil mursalin, Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Ushikum wa nafsi bitaqwallahi, faqad fazal muttaqun.

Innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiy. Ya ayyuhalladzina amanu shallu 'alaihi wa sallimu taslima.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.

Allahumma aghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat.

Allahumma inna nas’aluka rizqan halalan, wa qalban saliman, wa lisanan shadiqan, wa ‘amalan shalihan.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rezeki yang halal, hati yang bersih, lisan yang jujur, dan amal yang saleh.

Ya Allah, ampuni dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat.

Ya Allah, jika selama ini rezeki kami bercampur dengan yang haram maka ampuni kami, dan berikan kekuatan untuk meninggalkannya.

Jika lisan kami pernah menyakiti orang lain, berikan kami keberanian untuk meminta maaf dan memperbaikinya.

Jika kami berat melakukan ketaatan, kuatkanlah langkah kami.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun, waj’alna lil-muttaqina imama.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Aamiin ya rabbal aalamin. 

‘Ibādallah, innallaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsani wa ita’i dzil-qurba, wa yanha ‘anil-fahsya’i wal-munkari wal-baghy.

Ya’izhukum la’allakum tadzakkarun.

Fadzkurullaha yadzkurkum, wasykuruhu ‘ala ni’amihi yazidkum, wala dzikrullahi akbar. Wallahu ya’lamu ma tashna’un.

Aqimishalah.... 


Selasa, 18 Agustus 2026

KHUTBAH JUMAT “Ketika Nama Kita Dipanggil Dari Alam Kubur”

KHUTBAH JUMAT
KHUTBAH PERTAMA
(21-8-2026) 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta‘inuhu wa nastaghfiruh, 

wa na‘udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a‘malina. 
Mayyahdihillahu fala mudhilla lah, wa mayyudhlil fala hadiya lah.

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. La nabiya ba'da. 

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.
Amma ba‘du.

Fa qala fi kitabihil karim:
“Yaa ayyuhalladzi na aama nuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.”

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Judul: Ketika Nama Kita Dipanggil Dari Alam Kubur

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Takwa bukan hanya ucapan. 
Melainkan: 
Tetap Takwa ketika kita takut kepada Allah saat tidak ada seorang pun yang melihat kita. 

Takwa ketika kita tetap jujur meskipun kesempatan untuk berbohong masih terbuka lebar.

Takwa ketika kita tetap salat meskipun kita sangat  sibuk urusan dunia.

Dan takwa adalah ketika kita sadar bahwa kehidupan ini pasti akan berakhir.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari ini marilah kita semua bercermin kepada diri kita masing-masing.

Sebab ada satu perjalanan yang pasti kita tempuh.
Bahwasanya  Semua kita akan mati.

Allah berfirman:
“Kullu nafsin dzaa-iqatul maut, wa innamaa tuwaffauna ujuu rakum yaumal qiyaamah, faman zuhziha ‘aninnaar
wa ud khilal jannah, 
faqad faaz, wa mal hayaa tud dunyaa illaa mataa ‘ul ghuruur.”
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Sungguh Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Jamaah Jumah rahimakumullah,

Bayangkan suatu hari nanti...
Kita sedang duduk bersama keluarga.
Tiba-tiba tubuh kita terasa lemah.
Napas mulai berat.
Anak-anak berkumpul.
Istri menangis.
Keluarga memanggil nama kita.
Tetapi kita sudah tidak mampu menjawab.

Kemudian seseorang berkata:
“Bimbing syahadatnya...”
Lalu terdengar:
“La ilaha illallah...”
Dan setelah itu...
napas terakhir keluar.
Mata kita terpejam.
Tangan kita tidak lagi bergerak.
Mulut kita tidak lagi berbicara.
Kita yang selama puluhan tahun mengejar harta dunia...
akhirnya meninggalkan dunia.

Rumah yang kita bangun tetap berdiri.
Kendaraan yang kita banggakan tetap berada di halaman.
Uang yang kita kumpulkan berpindah tangan.
Pakaian yang kita cintai pasti dilepas.
Telepon yang setiap hari kita genggam...
tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal soleh. 

Rasulullah SAW bersabda:
“Idzaa maa tal insaa nu inqatha‘a ‘anhu ‘amaluhu illaa min tsalaa tsah: 
shadaqatin jaariyah, au ‘ilmin yun tafa‘u bih, au waladin shaa lihin yad‘u lah.”
Artinya:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada satu pertanyaan yang harus kita jawab sebelum terlambat:
Kalau sekarang ini Allah memanggil kita, sudah siapkah kita?

Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua kita?

Sudahkah kita berdamai dengan saudara dan tetangga kita?

Sudahkah kita meminta maaf kepada istri kita?

Sudahkah kita meninggalkan maksiat selama ini?

Sudahkah kita benar-benar menjaga salat lima waktu?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jangan sampai kita sangat sibuk mencari harta dunia...
tetapi lupa mempersiapkan akhirat kita. 

Allah berfirman:
“Yaa ayyuhalladzina aamanuttaqullaha waltanzhur nafsummaa qaddamat lighad, wattaqullah, innallaaha khabiirun bimaa ta‘maluun.”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Jangan tunggu tua untuk bertobat. Sebab banyak orang yang mati tidak pernah sampai  tua.

Jangan tunggu sakit untuk salat.
Sebab banyak orang yang meninggal walaupun tak sakit. 

Jangan tunggu kaya untuk bersedekah.
Sebab banyak orang meninggal tapi kekayaannya tak sempat datang.

Dan jangan berkata:
“Nanti kalau sudah tua saya akan berubah dan taat.”
Sebab kita tidak pernah tahu
apakah kita diberi kesempatan untuk sampai tua.

Allah telah mengingatkan:
“Hattaa idzaa jaa-a ahada humul maut, 
qaala rabbirji‘uun. 
La‘allii a‘malu shaalihan fiimaa taraktu, kallaa, innahaa kalimatun huwa qaa-iluhaa, wa min waraa-ihim barzakhun ilaa yaumi yub ‘atsuun.”

Artinya:
“ apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” ( Al-Mu’minun: 99–100)

Jamaah jumat yang dirahmati Allah,

Saat ini kita masih hidup.
Kita masih bisa bersujud.
Kita masih bisa menangis.
Kita masih bisa beristighfar.
Kita masih bisa meminta maaf.
Kita masih bisa bersedekah.
Kita masih bisa memperbaiki salat.
Berarti Allah masih memberi kita kesempatan.

Maka jangan sia-siakan kesempatan itu.

Selagi kaki masih mampu melangkah ke masjid...
melangkahlah.

Selagi tubuh masih mampu bersujud...
bersujudlah.

Selagi lidah masih mampu berzikir...
berzikirlah.

Selagi pintu taubat masih terbuka...
bertobatlah!

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jangan sampai Jumat demi Jumat berlalu...
umur bertambah...
rambut memutih...
tetapi dosa tidak berkurang.

Jangan sampai kita sibuk memperbaiki rumah, tetapi lupa memperbaiki hati.

Jangan sampai kita sibuk menghias wajah, tetapi lupa menghias amal.

Jangan sampai kita takut kehilangan harta...
tetapi tidak takut kehilangan iman.

Sebab pada akhirnya akan tiba satu hari...
ketika nama kita dipanggil lalu ada ucapan: 
“Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un...”

Kemudian kita diangkat dan 
Dimandikan.
Dikafani.
Disalatkan.
Diantar.
Dikuburkan.

kita tinggal sendirian di kuburan.
Tidak ada lagi yang bisa menolong kita kecuali rahmat Allah dan amal yang kita bawa.

Maka mulai hari ini...
jangan tunggu sakit baru ingat mesjid. 
Kenalilah Allah sebelum kita menghadap Allah.

Aquulu qauli hadza, wa astaghfirullah lii wa lakum, fastaghfiruh innahu huwal ghafuurur rahiim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.

Innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiy. Ya ayyuhalladzina amanu shallu 'alaihi wa sallimu taslima.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.

Allahumma aghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat.

Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.

Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar.

Ya Allah...
Jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.

Jadikan akhir ucapan kami:
La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.

Ya Allah, karuniakan kepada kami husnul khatimah.

Jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga.

Terangkan kubur kami dengan cahaya-Mu.

Lapangkan kubur kami.
Ampuni dosa-dosa kami.
Selamatkan kami dari azab kubur dan azab neraka.

Innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan wa ita'i dzil qurba wa yanha 'anil fahsya'i wal munkari wal baghy.

Ya'izhukum la'allakum tadzakkarun.
Fadzkurullaha al-'azhim yadzkurkum, wasykuruhu 'ala ni'amihi yazidkum, waladzikrullahi akbar

Aqimisshalah



Kamis, 02 Juli 2026

Jangan Menunggu Takziah Baru Bersilaturahmi

Jangan Menunggu Takziah Baru Bersilaturahmi

Suatu hari, seorang laki-laki menerima kabar bahwa sahabat masa kecilnya telah meninggal dunia. Ia segera berangkat menuju rumah duka.

Sesampainya di sana, ia memandangi wajah sahabatnya yang telah terbujur kaku. Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung.

Dengan suara bergetar ia berkata, "Maafkan aku... sudah bertahun-tahun kita tinggal di kota yang sama, tetapi aku selalu berkata nanti... nanti aku akan datang. Ternyata yang kudatangi hari ini hanyalah jasadmu."

Orang-orang yang mendengar ucapannya ikut menundukkan kepala. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Sejak hari itu, laki-laki tersebut mengubah hidupnya. Ia tidak lagi menunda silaturahmi. Setiap ada waktu, ia mendatangi keluarga, sahabat, tetangga, dan guru-gurunya.

Ia berkata, "Aku tidak ingin lagi hanya bertemu orang-orang yang kucintai ketika mereka sudah menjadi jenazah."

Saudaraku...
Silaturahmi bukan sekadar tradisi. Ia adalah ibadah yang sangat dicintai Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"...Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan..." (QS An-Nisa: 1)

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak orang bekerja keras mencari rezeki, tetapi lupa membuka salah satu pintu rezeki yang paling besar, yaitu menyambung silaturahmi.

Betapa banyak perselisihan yang berakhir hanya karena ada yang mau datang lebih dahulu.

Betapa banyak hati yang kembali lembut hanya karena sebuah pelukan dan ucapan, "Maafkan saya."

Betapa banyak doa orang tua, guru, dan kerabat yang menjadi sebab datangnya keberkahan hidup.

Jangan merasa terlalu sibuk.
Sebab ketika ajal tiba, semua kesibukan akan berhenti. Yang tersisa hanyalah penyesalan jika selama ini kita terlalu pelit mengunjungi orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup kita.

Mulailah hari ini.
Telepon saudara yang sudah lama tidak dihubungi.
Datangi orang tua selagi mereka masih ada.
Kunjungi kerabat tanpa menunggu hari raya.
Jenguk teman yang sedang sakit.

Sapa tetangga dengan senyum yang tulus.
Karena mungkin, pertemuan hari ini adalah pertemuan terakhir yang Allah izinkan.

Mari kita hidupkan silaturahmi sebelum datang hari ketika kita hanya bisa berdiri di samping liang kubur sambil berkata, "Seandainya dulu aku sempat datang."

Semoga konten ini menjadi pengingat yang menyentuh hati dan menggerakkan pembaca untuk segera mempererat silaturahmi.

Mengapa Masalahmu Tak Kunjung Selesai?

Mengapa Masalahmu Tak Kunjung Selesai?

Rumah tangga terasa sempit.
Rezeki terasa seret.
Hutang belum lunas.
Penyakit tak kunjung sembuh.
Anak mulai sulit dinasihati.
Hati gelisah, tidur pun tidak nyenyak.

Lalu kita mencari solusi ke mana-mana.
Mencari pinjaman.
Mencari kenalan.
Mencari orang yang dianggap bisa membantu.
Padahal, sudahkah kita mendatangi Allah?

Allah telah memberi resep yang sangat sederhana, tetapi sering kita lupakan.
"Wasta'iinu bish-shabri wash-shalah."
"Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat." (QS Al-Baqarah: 45)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada hartamu."
Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada jabatanmu."
Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada manusia."
Allah justru memerintahkan kita untuk meminta pertolongan melalui shalat.

Rasulullah SAW pun memberikan teladan. Setiap menghadapi persoalan besar, beliau memanggil Bilal seraya bersabda:
"Ya Bilalu, aqimis shalata arihna biha."
"Wahai Bilal, dirikanlah shalat. Istirahatkanlah hati kami dengannya."

Shalat bukan sekadar kewajiban.
Shalat adalah tempat mengadu.
Shalat adalah tempat menangis.
Shalat adalah tempat mengumpulkan kembali hati yang telah hancur.

Lihatlah para ulama terdahulu.
Imam Ahmad bin Hanbal disiksa, tetapi beliau tetap menjaga shalat.
Imam Abu Hanifah menghadapi tekanan penguasa, tetapi beliau memperbanyak shalat malam.

Sa'id bin Al-Musayyib menjaga takbiratul ihram berjamaah selama puluhan tahun.
Mereka tidak mencari ketenangan di dunia, tetapi mencarinya dalam sujud.

Hari ini, mungkin masalah kita belum selesai.
Namun jangan sampai shalat kita juga ikut rusak.
Sebab bisa jadi, bukan masalahmu yang terlalu besar.
Tetapi hubunganmu dengan Allah yang mulai renggang.

Maka mulai hari ini...
Jangan tinggalkan shalat berjamaah.
Jangan tinggalkan shalat sunnah.
Jangan tinggalkan tahajud walau hanya dua rakaat.
Karena orang yang paling dekat dengan pertolongan Allah bukanlah orang yang paling kaya, tetapi orang yang paling dekat dengan sajadahnya.
Bagaimana shalatmu hari ini? Karena mungkin, di sanalah letak solusi hidupmu.

Selasa, 30 Juni 2026

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

Assalamu'alaikum wr. wb. 

Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk dapat hadir pada acara BEIJE ADIK SANAK, yang insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Malam Kamis/ Malam tgl 2 Juli 2026
Waktu   : setelah shalat Isya
Tempat : Jalan Rajawali, Manna

Atas perhatian dan kehadirannya, kami ucapkan terima kasih.

Yang Mengundang

ISMILIANTO

*CATATAN : pelaksanaan resepsi adalah Sabtu-Minggu / tgl 11-12 Juli 2026

Senin, 29 Juni 2026

Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya Cerpen: oleh Ismilianto

Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu langit begitu bening. Angin berembus pelan, seolah enggan mengusik keheningan.

Usai menunaikan salat Isya, Pak Hasan duduk di atas sajadahnya. Seperti malam-malam sebelumnya, kedua bibirnya kembali melantunkan Surah Al-Mulk. Tiga puluh ayat yang telah bertahun-tahun menjadi teman sebelum tidur itu mengalir lembut dari lisannya.
"Tabārakalladzī biyadihil mulku..."

Tak ada yang mengetahui bahwa itulah bacaan terakhirnya di dunia.
Sesaat kemudian, kepalanya tertunduk. Wajahnya begitu damai. Senyum tipis masih tersisa di bibirnya ketika ruhnya kembali kepada Sang Pencipta.

Keesokan harinya, rumah sederhana itu dipenuhi pelayat.
Saat jenazah dimandikan, seorang yang membantu memandikan tiba-tiba terdiam.
"Subhanallah... harum sekali..."
Yang lain mengangguk pelan. Tak ada parfum. Tak ada minyak wangi. Namun ruangan itu dipenuhi aroma yang menenangkan hati.

Ketika tubuh Pak Hasan dibungkus kain kafan, keharuman itu justru semakin semerbak. Beberapa pelayat saling berpandangan, sementara air mata mereka perlahan jatuh tanpa disadari.

Di pemakaman, keajaiban itu kembali terasa.
Seorang penggali kubur mengangkat segenggam tanah lalu mendekatkannya ke hidung.
"Wangi... tanah ini wangi..."

Mereka saling berpandangan penuh takjub. Seakan bumi pun sedang menyambut seorang hamba yang selama hidupnya selalu mengingat Tuhannya.

Usai talqin dan doa selesai dibacakan, satu demi satu pelayat meninggalkan makam.
Tangis keluarga semakin menjauh.
Langkah kaki mereka perlahan menghilang.
Kini Pak Hasan benar-benar sendiri.
Tak ada lagi istri yang menggenggam tangannya.
Tak ada lagi anak-anak yang memanggil namanya.
Tak ada lagi sahabat yang menemani.
Yang tinggal hanyalah amal-amal yang dahulu ia bawa dengan ikhlas.

Gelap menyelimuti liang kubur.
Sunyi begitu dalam.
Lalu, dengan izin Allah, datanglah dua malaikat yang diutus untuk mendatangi setiap hamba di alam barzakh.

Saat itulah, rahmat Allah turun memenuhi kubur Pak Hasan.
Liang kubur yang sempit berubah menjadi lapang.
Udara yang gelap dipenuhi cahaya ketenangan.
Rasa takut yang biasa menghampiri manusia berganti dengan ketenteraman yang sulit digambarkan.

Allah meneguhkan hati hamba-Nya.
Sebagaimana firman-Nya,
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS Ibrahim: 27)

Dengan hati yang mantap, Pak Hasan menjawab,
"Rabbku adalah Allah."
"Agamaku Islam."
"Nabiku Muhammad SAW."

Maka Allah memuliakannya.
Kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang.
Sebuah pintu menuju kenikmatan surga dibukakan baginya.
Angin surga berembus lembut membawa kesejukan dan aroma yang tak pernah ada di dunia.

Di saat itulah tampak betapa berharganya amal yang selama ini dianggap sederhana.
Surah Al-Mulk yang hampir setiap malam ia baca menjadi sebab datangnya perlindungan Allah dari azab kubur.

Rasulullah SAW bersabda,
"Surah Tabārak (Al-Mulk) adalah penghalang yang melindungi pembacanya dari azab kubur."

Dalam hadis lain beliau juga bersabda,
"Ada satu surah yang terdiri dari tiga puluh ayat. Surah itu memberi syafaat kepada seseorang hingga dosanya diampuni, yaitu Surah Al-Mulk." (HR. At-Tirmidzi)

Malam demi malam, Pak Hasan dahulu mungkin tidak pernah membayangkan bahwa bacaan yang hanya memerlukan beberapa menit itu kelak menjadi salah satu sebab datangnya kasih sayang Allah di alam kubur.

Kini keluarganya hanya bisa berdoa dari dunia.
Namun Surah Al-Mulk yang dahulu ia baca dengan istiqamah telah lebih dahulu "menemaninya" sebagai amal saleh yang terus memberi manfaat dengan izin Allah.

Maka, jangan pernah merasa berat membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur.
Kita tidak pernah tahu, malam ini mungkin masih menjadi milik kita.

Namun boleh jadi, malam esok Surah Al-Mulk-lah yang menjadi bacaan terakhir sebelum malaikat maut datang menjemput.

Semoga Allah menjadikan lisan kita selalu basah dengan Al-Qur'an, mengakhiri hidup kita dalam husnul khatimah, melapangkan kubur kita, melindungi kita dari azab kubur, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang saleh di surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Minggu, 28 Juni 2026

Saat Malaikat Datang, Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya"Cerpen:oleh Ismilianto

Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya
Cerpen:oleh Ismilianto

Malam itu langit begitu teduh.
Pak Hasan mengembuskan napas terakhirnya setelah salat Isya. Sebelum wafat, bibirnya masih sempat berbisik membaca Surah Al-Mulk, sebagaimana kebiasaannya setiap malam.
Tidak ada yang menyangka, itulah bacaan terakhirnya di dunia.
Ketika jenazah dimandikan, seluruh ruangan dipenuhi aroma harum yang sulit dilukiskan.
"Subhanallah... wangi sekali," bisik seorang tetangga.
Saat kain kafan membungkus tubuhnya, keharuman itu justru semakin semerbak.
Di pemakaman, para penggali kubur kembali dibuat heran.
Tanah yang baru digali mengeluarkan aroma harum, seolah-olah bumi sedang menyambut seorang hamba yang dicintai Allah.
Usai pemakaman, satu per satu pelayat pulang.
Tinggallah Pak Hasan sendirian di dalam kuburnya.
Gelap.
Sunyi.
Tak ada lagi keluarga.
Tak ada lagi sahabat.
Yang tersisa hanyalah amal.
Tak lama kemudian, datanglah dua malaikat yang ditugaskan Allah untuk mendatangi setiap manusia di alam kubur.
Dengan izin Allah, mereka hendak menanyakan pertanyaan yang akan menentukan keadaan seorang hamba di alam barzakh.
Namun, pada saat itulah tampak cahaya memenuhi liang kubur.
Seakan-akan bacaan Surah Al-Mulk yang selama ini istiqamah dibaca hadir sebagai pembela.

Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:
"Surah Al-Mulk adalah penghalang; ia melindungi pembacanya dari azab kubur."
(Hadis dengan makna yang diriwayatkan dari beberapa jalur dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama.)

Maka kubur itu menjadi lapang.
Udara menjadi sejuk.
Rasa takut berubah menjadi ketenangan.
Allah meneguhkan hati hamba-Nya sehingga ia mampu menjawab pertanyaan malaikat dengan benar.

Sebab Allah telah berfirman:
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS Ibrahim: 27)

Pak Hasan pun menjawab dengan penuh keyakinan:
"Rabbku adalah Allah."
"Agamaku Islam."
"Nabiku adalah Muhammad SAW."

Dengan izin Allah, ujian itu dilaluinya dengan mudah.
Lalu dibukakan baginya sebuah pintu menuju kenikmatan surga.
Aroma surga mulai memasuki liang kuburnya.
Kuburnya menjadi luas sejauh mata memandang.
Ia pun beristirahat dengan tenang hingga datang hari kebangkitan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa tidak ada amal yang sia-sia.

Rasulullah SAW bersabda:
"Ada satu surah yang terdiri dari tiga puluh ayat yang memberi syafaat kepada seseorang hingga dosanya diampuni, yaitu Surah Al-Mulk." (HR. At-Tirmidzi)

Karena itu, marilah kita membiasakan membaca Surah Al-Mulk setiap malam sebelum tidur. Kita tidak tahu malam mana yang akan menjadi malam terakhir kita di dunia.

Semoga ketika seluruh manusia meninggalkan kita di liang kubur, Allah mengirimkan amal-amal saleh sebagai teman, pelindung, dan penenang hingga datang hari perjumpaan dengan-Nya.


Kuburnya Harum, Malaikat Pun Terdiam Cerpen: oleh Ismilianto

Kuburnya Harum, Malaikat Pun Terdiam
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu, hujan baru saja reda. Angin berembus pelan ketika kabar duka menyebar dari rumah sederhana di ujung kampung.
Pak Hasan telah wafat.
Beliau bukan orang kaya. Bukan pula seorang ulama terkenal. Sehari-harinya hanya petani biasa. Hidupnya sederhana, tutur katanya lembut, tidak suka menyakiti hati orang lain.
Namun ada satu amalan yang hampir tidak pernah beliau tinggalkan.
Setiap selesai salat Isya, sebelum tidur, beliau selalu membaca Surah Al-Mulk hingga selesai.
Anak-anaknya sering bertanya, "Ayah, kenapa setiap malam membaca Surah Al-Mulk?"
Beliau hanya tersenyum.
"Kalau suatu saat Ayah sendirian di alam kubur, semoga Allah menjadikan Surah Al-Mulk sebagai teman dan pembela."
Tak ada yang menyangka, malam itu menjadi malam terakhir beliau membaca surah itu.
Keesokan paginya, beliau ditemukan telah berpulang dengan wajah yang begitu tenang.
Saat dimandikan, para tetangga saling berpandangan.
"Apa kalian mencium bau ini?"
"Iya... harum sekali..."
Harumnya bukan seperti minyak wangi biasa, melainkan semerbak yang menenangkan hati.
Ketika kain kafan mulai dililitkan, aroma itu justru semakin kuat.
Orang-orang yang hadir merinding.
Saat jenazah dibawa ke pemakaman, keharuman itu masih terus tercium.
Yang lebih mengherankan lagi, ketika liang lahat digali, tanah yang biasanya berbau lembap justru mengeluarkan aroma yang sangat wangi.
Seorang penggali kubur berkata lirih,
"Seumur hidup saya menggali ratusan kubur, baru kali ini tanahnya seharum ini."
Semua yang hadir meneteskan air mata.
Mereka sadar, kemuliaan seseorang tidak selalu tampak ketika hidup, tetapi sering kali Allah tampakkan ketika ia telah wafat.
Malam pertama di alam kubur adalah malam yang paling menegangkan bagi setiap manusia.
Namun Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Surah Al-Mulk memiliki keutamaan yang sangat besar.
Beliau bersabda:
"Ada satu surah yang terdiri dari tiga puluh ayat yang memberi syafaat kepada seseorang hingga dosanya diampuni, yaitu Surah Al-Mulk."
(HR. At-Tirmidzi)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Surah Al-Mulk menjadi pelindung dari azab kubur.
Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar membacanya setiap malam.
Adapun cerita bahwa malaikat sama sekali tidak bertanya di dalam kubur karena seseorang membaca Surah Al-Mulk tidak memiliki dasar yang sahih dalam hadis. Yang dijelaskan dalam hadis-hadis sahih adalah bahwa Surah Al-Mulk menjadi sebab perlindungan dari azab kubur dan memberi syafaat bagi pembacanya, bukan menghapus adanya pertanyaan kubur.
Allah berfirman:
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya."
(QS Al-Mulk: 2)
Maut tidak memilih usia, jabatan, maupun kekayaan.
Yang akan menemani kita hanyalah iman dan amal saleh.
Mungkin kita tidak mampu menghafal banyak surah.
Namun jika mulai malam ini kita membiasakan membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur dengan ikhlas, semoga Allah menjadikannya cahaya di alam kubur, pelindung dari azab, dan pemberi syafaat pada hari kiamat.
Karena pada akhirnya, bukan panjangnya umur yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan amal yang terus ia jaga hingga napas terakhir.

Jangan Tinggalkan Salat Taubat Sebelum Tahajud dan Witir

Jangan Tinggalkan Salat Taubat Sebelum Tahajud dan Witir

Suatu malam, seorang ulama dikunjungi seorang lelaki tua yang wajahnya dipenuhi penyesalan.
"Guru," katanya sambil menangis, "umur saya sudah enam puluh tahun. Dosa saya terlalu banyak. Apakah Allah masih mau menerima taubat saya?"

Sang ulama tersenyum lalu bertanya, "Apakah engkau masih bernapas?"
"Masih."
"Berarti pintu taubat masih terbuka."

Sejak malam itu, lelaki tersebut mengubah kebiasaannya. Setiap sepertiga malam terakhir ia bangun, berwudu, lalu mengawali ibadahnya dengan salat taubat dua rakaat. Setelah itu ia melaksanakan tahajud, berdoa dengan penuh harap, kemudian menutup malamnya dengan salat witir.

Bulan demi bulan berlalu. Orang-orang melihat perubahan yang luar biasa. Wajahnya menjadi teduh, lisannya lembut, keluarganya kembali harmonis, dan yang paling membahagiakan, ia wafat dalam keadaan yang sangat baik. Orang-orang yang mengenalnya berkata, "Malam telah mengubah hidupnya."

Begitulah kekuatan taubat. Sebelum kita meminta rezeki, kesehatan, atau kemudahan kepada Allah dalam tahajud, bersihkan dahulu hati dengan memohon ampun kepada-Nya.

Allah berfirman:
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi." (QS. Ali 'Imran: 133)

Allah juga memuji hamba-hamba-Nya yang menghidupkan malam dengan istigfar:
"Dan pada akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah." (QS. Adz-Dzariyat: 18)

Rasulullah SAW bersabda:
"Tuhan kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni." (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau SAW juga bersabda:
"Jadikanlah salat witir sebagai penutup salat kalian pada malam hari." (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, biasakanlah urutan ibadah malam yang indah:
• Salat taubat dua rakaat. • Salat tahajud. • Perbanyak istigfar dan doa. • Tutup dengan salat witir.

Siapa yang datang kepada Allah dengan hati yang penuh penyesalan, niscaya Allah akan menyambutnya dengan ampunan dan kasih sayang.

Jangan menunggu sampai usia senja. Jangan menunggu sakit. Jangan menunggu ajal mendekat.
Mungkin, salat taubat yang kita lakukan malam ini adalah salat yang menghapus dosa-dosa kita. 

Tahajud yang kita dirikan adalah salat yang mengangkat derajat kita. Dan witir yang kita tutupkan adalah ibadah terakhir yang menjadi saksi bahwa kita tidur dalam keadaan taat kepada Allah.

Jangan Biarkan Waktu Antara Magrib dan Isya Berlalu Sia-Sia

Jangan Biarkan Waktu Antara Magrib dan Isya Berlalu Sia-Sia

Langit mulai gelap. Burung-burung telah kembali ke sarangnya. Azan Magrib berkumandang, lalu manusia pun berbondong-bondong menghadap Allah. Namun, setelah salam terakhir salat Magrib, tidak semua orang memilih tetap dekat dengan-Nya.

Ada yang segera sibuk dengan telepon genggam. Ada yang kembali tertawa dan bercanda. Ada pula yang menghabiskan waktu tanpa arah.
Padahal, waktu antara Magrib dan Isya adalah salah satu waktu yang sangat berharga untuk memperbanyak ibadah.

Seorang ulama pernah bercerita tentang seorang lelaki saleh yang hampir setiap malam tidak pernah meninggalkan masjid setelah Magrib. Ia mengisi waktunya dengan membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, dan melaksanakan salat sunnah. Bertahun-tahun ia menjaga kebiasaan itu.
Ketika ajal menjemputnya, wajahnya tampak tenang. Orang-orang yang memandikannya mengatakan bibirnya seakan masih tersenyum. Mereka mengenangnya sebagai orang yang selalu menghidupkan waktu antara Magrib dan Isya dengan ibadah.

Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa mengerjakan salat enam rakaat setelah Magrib tanpa diselingi perkataan yang sia-sia, maka baginya pahala seperti beribadah selama dua belas tahun." (Hadis riwayat At-Tirmidzi)

Tentang orang-orang yang menghidupkan waktu setelah Magrib, Allah berfirman:
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap..." (QS. Al-Qur'an Surah As-Sajdah: 16)

Jangan sia-siakan waktu yang singkat ini. Duduklah di masjid atau di rumah dalam keadaan suci. Bacalah Al-Qur'an, perbanyak istigfar, shalawat, doa, dan jika mampu, kerjakan salat Awwabin enam rakaat. Bisa jadi, beberapa puluh menit yang kita persembahkan setiap malam menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rezeki, menenangkan hati, dan mengangkat derajat kita di akhirat.

Malam ini, sebelum Isya tiba, jangan buru-buru meninggalkan Allah. Bisa jadi, justru di sela-sela waktu yang sering dilupakan itulah Allah sedang menyiapkan rahmat yang selama ini kita harapkan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menghidupkan waktu antara Magrib dan Isya dengan amal saleh, menerima seluruh ibadah kita, dan mengumpulkan kita kelak di surga bersama Rasulullah SAW. Aamiin.

Sabtu, 27 Juni 2026

Jangan Tidur Terus Nanti Rezekimu Mencari Orang Lain Cerpen: oleh Ismilianto

Jangan Tidur Terus Nanti Rezekimu Mencari Orang Lain
Cerpen: oleh Ismilianto

Pagi itu, embun masih menggantung di ujung daun. Burung-burung sudah bernyanyi, sementara matahari perlahan menyibak gelap.

Namun, di sebuah rumah sederhana, Arman masih terlelap.
Ibunya sudah beberapa kali mengetuk pintu.
"Man... bangun, Nak. Subuh sudah lama berlalu."
Tak ada jawaban.
"Kalau terus begini, kapan hidupmu berubah?"
Arman hanya membalikkan badan, lalu kembali tidur.

Hari demi hari berlalu. Ia selalu punya alasan untuk menunda. Menunda salat. Menunda bekerja. Menunda belajar. Menunda membantu orang tuanya.
Ia sering berkata, "Besok saja."
Padahal, tidak ada seorang pun yang dijamin bertemu dengan hari esok.

Suatu sore, kabar duka datang dari kampung sebelah. Seorang pemuda yang terkenal rajin, baru pulang bekerja, lalu mengeluh pusing. Tak lama kemudian ia meninggal dunia.
Usianya bahkan lebih muda daripada Arman.

Sejak hari itu, Arman mulai bertanya dalam hati,
"Kalau tadi yang dipanggil Allah adalah aku, bekal apa yang kubawa?"
Ia menangis.
Ia sadar, kemalasan bukan hanya membuat seseorang miskin. Kemalasan juga bisa membuat seseorang miskin amal.

Kisah seperti ini bukan sekadar cerita. Dalam kehidupan nyata, tidak sedikit orang yang menyesal karena terlalu sering menunda.

Ada yang baru ingin berbakti kepada orang tua ketika keduanya telah tiada.
Ada yang baru ingin rajin salat setelah divonis sakit keras.
Ada pula yang baru ingin bersedekah ketika hartanya telah habis.
Penyesalan memang selalu datang belakangan.

Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur'an:
"Berlomba-lombalah kamu dalam mengerjakan kebaikan."
(QS. Al-Baqarah: 148)

Allah juga berfirman:
"Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain."
(QS. Al-Insyirah: 7)

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh tenggelam dalam kemalasan. Selesai satu amal, lanjutkan dengan amal berikutnya.

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Mukmin yang kuat lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah, walaupun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu..."
(HR. Muslim no. 2664)

Dalam hadis lain beliau mengingatkan:
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu."
(HR. Al-Hakim, dinilai sahih oleh banyak ulama)

Kemalasan adalah pintu yang pelan-pelan menutup masa depan. Ia mencuri waktu tanpa terasa. Ia membuat amal tertunda, rezeki terhambat, ilmu tidak bertambah, dan cita-cita hanya tinggal angan.
Jangan malas untuk salat.
Jangan malas bekerja.
Jangan malas mencari ilmu.
Jangan malas membantu sesama.
Jangan malas berbuat baik.
Sebab kita tidak tahu, mungkin amal kecil yang kita lakukan hari ini adalah amal terakhir yang mengantarkan kita menuju surga.

Mulailah sekarang. Jangan tunggu besok. Karena yang kita miliki hanyalah hari ini, sedangkan besok masih menjadi rahasia Allah.

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk dapat hadir pada acara Beije Adik Sanak, yang insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Malam Kamis/ Malam tgl 2 Juli 2026
Tempat : Jalan Rajawali, Manna

Atas perhatian dan kehadirannya, kami ucapkan terima kasih.

Yang Mengundang

ISMILIANTO

KEMATIAN BISA DATANG SAAT KITA LENGAH

KEMATIAN BISA DATANG SAAT KITA LENGAH

Petang mulai turun. Matahari yang sejak pagi bersinar terang perlahan menghilang di balik cakrawala. Tidak ada yang mampu menahannya. Begitulah umur manusia. Setiap petang yang berlalu adalah tanda bahwa jatah hidup kita pun sedang berkurang.

Ada kisah seorang ayah berpamitan kepada istrinya.
"Sebentar ya, aku ke masjid untuk salat Magrib."
Ia berjalan seperti biasanya. Di masjid, ia mengambil wudu, lalu duduk menunggu iqamah sambil berzikir. Ketika azan selesai berkumandang, ia masih sempat tersenyum kepada jamaah di sebelahnya.
Namun beberapa saat kemudian tubuhnya perlahan rebah. Jamaah mengira ia hanya pingsan. Mereka segera mengangkatnya.

Ternyata Allah telah memanggilnya.
Ia mengembuskan napas terakhir di rumah Allah, dalam keadaan menunggu salat berjamaah.

Di rumahnya, sang istri masih menunggu suaminya pulang untuk makan malam bersama. Yang datang justru kabar duka.

Betapa banyak orang yang pagi hari masih bercanda, sore hari sudah menjadi jenazah. 

Betapa banyak yang berencana untuk besok, padahal malam ini namanya telah dipanggil oleh malaikat maut.

Karena itu, jangan lengah.
Allah berfirman:
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."
(QS. Ali 'Imran: 185)

Dan Allah juga mengingatkan:
"Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati." (QS. Luqman: 34)

Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian."

Mengapa kita diperintahkan sering mengingat kematian?
Karena orang yang mengingat kematian akan lebih mudah menjaga salatnya, lebih ringan memaafkan, lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih ikhlas bersedekah, dan tidak terlalu mencintai dunia.

Petang ini, sebelum malam benar-benar datang, mari bertanya kepada diri sendiri.

Seandainya malam ini adalah malam terakhirku, apakah salatku sudah baik?

Apakah kedua orang tuaku sudah cukup aku doakan?

Apakah masih ada orang yang tersakiti oleh lisanku?

Apakah hartaku sudah ada yang menjadi bekal akhirat melalui sedekah?

Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu sakit untuk beribadah. Jangan menunggu esok untuk berbuat baik. Sebab yang dijanjikan Allah bukanlah hari esok, melainkan kesempatan yang masih kita miliki saat ini.

Semoga petang ini menjadi petang yang menghidupkan hati, memperbanyak istigfar, memperindah salat, dan mendekatkan kita kepada Allah, agar ketika saat itu tiba, kita dipanggil dalam keadaan Allah ridha kepada kita.

Ya Allah, husnul khatimah adalah harapan kami. Jangan biarkan kami lengah hingga ajal datang tanpa bekal. Aamiin.

Jumat, 26 Juni 2026

Usia Boleh Enam Puluh, Tapi Tawa Masih Seperti Anak SMA Cerpen: oleh Ismilianto

Usia Enam Puluh, Tapi Tawa Masih Anak SMA
Cerpen: oleh Ismilianto

Sabtu siang, tepat pukul 13.00 WIB, sebuah mobil melaju meninggalkan Manna menuju Kedurang. Di dalamnya duduk enam sahabat lama, alumni SMA Negeri 1 Manna angkatan tamat tahun 1985.
Milit, Yuli, Gadis, Neti, Tini, dan Ida.
Usia kami memang sudah kepala enam. Rambut mulai dihiasi uban, kacamata baca tak pernah jauh dari saku, dan pinggang sesekali mengingatkan bahwa kami bukan lagi remaja.

Namun begitu pintu mobil ditutup, usia seakan tertinggal di belakang.
Yang terdengar hanyalah tawa.
"Rupanya Milit paling banyak inspirasi cerita lama, dan sepanjang jalan dia yang paling banyak cerita," canda Yuli.

Mobil pun berguncang oleh gelak tawa.
Belum jauh meninggalkan Manna, telepon genggam sudah sibuk berpindah tangan.
"Ayo... bikin video!"
"Lho... kok mukaku nggak ada?"
"Itu kameranya masih menghadap keluar!"
"Hahaha... pantes dari tadi yang direkam pohon sawit semua."
Maklum, kami ini generasi yang baru bersahabat dengan teknologi ketika usia sudah tidak muda lagi. 

Bahkan ada yang lupa menekan tombol rekam, ada yang videonya miring, bahkan ada yang sudah lima menit berbicara di depan kamera, ternyata belum menekan tombol "record".

"Aduh... dasar kita ini. Sudah enam puluhan tahun, masih sama-sama gaptek," kata Ida sambil tertawa.

"Tidak apa-apa," sahut Tini, "yang penting bukan videonya, tapi kenangannya."

Kalimat itu disambut anggukan dan tawa. Memang benar, yang kami cari bukan video yang sempurna, tetapi kebersamaan yang tak ternilai.

Sesampainya di Kedurang, kami disambut hangat oleh sahabat lama kami, Dastian, beserta keluarganya.

Tak lama kemudian prosesi akad nikah dimulai.
Awalnya kami mengira acara akan berlangsung singkat.
Ternyata satu jam berlalu.
Lalu dua jam.
Hingga hampir tiga jam prosesi belum juga selesai.
Sesekali kami saling berpandangan.
"Aduh... belum Asar juga."

Yang lain hanya tersenyum sambil menahan tawa.
Rasa lelah memang mulai terasa. Pinggang mulai minta bersandar. Tetapi siapa yang tega mengeluh di hari bahagia sahabat sendiri?

Akhirnya akad nikah selesai. Kami pun menikmati hidangan bersama. Makan sore itu terasa begitu nikmat karena ditemani obrolan ringan yang tak pernah habis.

Barulah setelah selesai makan, kami mengajak Dastian, kedua mempelai, dan keluarganya berfoto bersama.

"Yang ini jangan ada yang merem, kata teman kami!"
"Eh... ulang lagi, senyumnya kurang lebar."
"Hahaha... kok yang motret malah ikut masuk foto?"

Berkali-kali kamera diangkat. Berkali-kali pula kami mengulang pose. Entah foto mana yang paling bagus, semuanya terasa indah karena dipenuhi tawa dan rasa syukur.

Perjalanan pulang menuju Manna terasa jauh lebih singkat.
Sepanjang jalan kami kembali membuat video.
"Lho... dari tadi ternyata belum direkam."
"Hahaha... ya ampun, salah pencet lagi."
Kami tertawa sampai perut terasa sakit.

Lalu cerita pun berganti.
Tentang guru-guru yang dulu galak tetapi kini justru paling kami rindukan.
Tentang teman-teman yang sering dihukum.
Tentang cucu-cucu kami yang lebih mahir memainkan telepon genggam daripada kakek dan neneknya.

Tanpa terasa, seseorang melihat jam.
Pukul 17.30 WIB.
"Lho... kok sudah sampai Manna?"
Padahal rasanya baru sebentar meninggalkan Kedurang.
Mobil yang sejak tadi dipenuhi tawa mendadak hening.
Entah mengapa, hati kami seperti disentuh oleh sesuatu.

Hari ini kami masih bisa duduk dalam satu mobil.
Masih bisa saling gurau.
Masih bisa membuat video yang berkali-kali gagal direkam.
Masih bisa berfoto bersama.
Masih bisa pulang dengan membawa tawa.

Tetapi...
Apakah tahun depan kami masih lengkap berenam?
Tak seorang pun mampu menjawabnya.

Di usia kami sekarang, silaturahmi bukan lagi sekadar bertemu teman lama.
Silaturahmi adalah cara mensyukuri sisa umur yang Allah titipkan.

Allah berfirman:
"…Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, serta peliharalah hubungan silaturahmi." (QS. An-Nisa: 1).

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Bukhari No. 5986 dan Muslim No. 2557).

Saya teringat sebuah kisah nyata yang sering terjadi di sekitar kita.

Sekelompok sahabat sekolah selalu berkata, "Nanti saja kita reuni, nanti kalau sudah sama-sama senggang."

Namun ketika hari itu tiba, beberapa kursi sengaja dibiarkan kosong.
Bukan karena pemiliknya terlambat datang.
Melainkan karena mereka telah lebih dahulu dipanggil Allah.
Yang tersisa hanyalah foto lama, kenangan, dan doa.

Semoga kami tidak termasuk orang yang gemar berkata, "Masih ada waktu."
Karena sesungguhnya, tidak seorang pun mengetahui siapa yang lebih dahulu dipanggil pulang.

Saat kami saling berpamitan di Manna, langit petang mulai memerah.
Saya memandang wajah Yuli.
Lalu Gadis.
Neti.
Tini.
Ida.
Wajah-wajah yang dahulu saya lihat setiap pagi di ruang kelas SMA Negeri 1 Manna.
Kini semuanya berubah dimakan usia.

Namun persahabatan kami ternyata tidak ikut menua.
Dalam hati saya berdoa,
"Ya Allah, terima kasih karena hari ini Engkau masih mempertemukan kami dalam tawa. Panjangkan umur kami dalam ketaatan, berkahi persahabatan kami dengan silaturahmi, dan jika suatu hari Engkau memanggil kami satu per satu, semoga kami dipertemukan kembali di surga-Mu."

Hari itu kami pulang bukan hanya membawa foto.
Bukan hanya membawa video yang kadang goyang karena tangan yang mulai bergetar.
Bukan pula cerita tentang akad nikah yang hampir tiga jam.

Kami pulang membawa sebuah kesadaran.
Bahwa di ujung usia, harta bukan lagi yang paling berharga. Jabatan pun tinggal cerita. Yang paling indah adalah ketika Allah masih memberi kesempatan untuk bersilaturahmi, saling mendoakan, saling tertawa, lalu berpisah dengan hati yang penuh syukur. 

Karena suatu saat nanti, foto-foto akan menjadi kenangan, video-video akan menjadi nostalgia, tetapi doa-doa dan kasih sayang antarsahabatlah yang, dengan izin Allah, tetap mengalir hingga akhir hayat.